Rabu, 24 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Kisah Juru Parkir Plaza Cepu

Kesejahteraan Minim, Tiga Tahun Seragam Tak Diganti

Editor: nugroho
Jum'at, 27 Maret 2015
ahmad sampurno
BUTUH PERHATIAN : Sutomo sedang bertugas menata kendaraan di depan toko dekat Plaza Cepu.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Juru parkir di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ditarget dapat memberikan setoran untuk pendapatan asli daerah. Tapi sayang, kesejahteraan mereka tak sebanding dengan kerja kerasnya.

Seorang lelaki paro baya menggunakan rompi berwarna biru lusuh bertuliskan "Petugas Parkir" terlihat sibuk mengatur kendaraan di depan Plaza Cepu. Sesekali dia membantu para pengendara motor yang ingin memarkirkan atau mengambil motornya.  

Dia adalah Sutomo. Pria berusia 44 tahun itu terlihat gesit dan cekatan mebantu para pengendara baik rioda dua maupun empat yang ingin parkir di depan plaza. Seragam yang beberapa bagiannya terlihat sobek yang dikenakannya tak dia hiraukan.   

Sama seperti kesejahteraannya yang tak pernah mendapat perhatian pemerintah setempat. Jangankan peningkatan kesejahteraan maupun jaminan kesehatan, seragam "kebesaran" yang membalut raga selama tiga tahun ini tak pernah mendapat ganti. Padahal selama ini, keberadaannya telah  menjadi asset bagi pemerintah untuk menambah pundi-pundi pendapatan bagi daerah. 

"Saya sudah 10 tahun menjadi tukang parkir di sini," kata Sutomo membuka cerita kepada suarabanyuurip.com, Jumát (27/3/2015).

Namun tidak seharian penuh Sutomo menata parkir pada lahan yang dia kuasai. Kira-kira sepanjang bagian depan toko, lahan parkir di bahu jalan. Aktifitasnya sebagai juru parkir dimulai pukul 07.00 WIB dan harus selesai pukul 13.00 WIB. 

"Karena harus dibagi tiga sift," ucapnya. 

Sehingga, wajar jika pendapatan yang diperoleh Sutomo setiap harinya minim dan tidak sebanding dengan resiko serta target setoran yang harus dibayarkan pada pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Wilayah Cepu. Setiap harinya, Sutomo mengaku, memperoleh pendapatan Rp30.000 sampai Rp50.000. Sedangkan target yang harus disetorkan setiap bulannya senilai Rp 120.000.

"Sebenarnya ya berat dengan setoran segitu. Karena perolehan parkir tak menentu," keluh Sutomo.

Dengan pendapatan pas-pasan, menurut Sutomo, sebagian dari temannya harus rela berhutang untuk menutup tarjet tersebut. “Ada dari beberapa teman saya terpaksa harus hutang untuk menutup setoran setiap bulannya. Karena pendapatannya tidak mencukupi,” kata bapak dua anak itu.

Kebiasaan  itu dianggap sebagai hal wajar. Pasalnya, lahan parkir yang dtempati harus dibagi menjadi tiga sift dengan nilai setoran yang berbeda setiap bulannya.  “Jam 7 Pagi sampai Jam 1 siang, harus setor Rp. 120.000. Jam 1 siang sampai jam 4 sore setor Rp. 220.000. dan Jam 4 sore sampai jam 9 malam hanya setor Rp. 70.000,” jelasnya merinci. 

Dari jumlah yang disetorkan itu, menurut dia, jumlahnya memang luar biasa, namun sangat disesalkan karena tidak diimbangi dengan perhatian dari pemerintah. “Jangankan kesejahteraan dan jaminan kesehatan, Mas. Seragam parkir selama tiga tahun ini tidak pernah diganti,” kata Pria asli Kampung Semangat, Kecamatan Cepu ini. 

Untuk setiap kendaraan roda dua yang terparkir di bahu jalan dikenakan tarif suka rela tanpa ada paksaaan. “Saya tidak memaksa harus bayar sekian, Mas. Tapi dari kerelaan pemilik kendaraan. Karena parkir juga tidak mekso. Karena kami sendiri hanya membantu, ” ujarnya. 

Dalam aturan sebenarnya, lanjut Sutomo, untuk parkir kendaraan roda dua dikenakan tarif parkir Rp 500 dan untuk mobil dikenakan tarif Rop.2.000. “Kadang ada yang tidak ngasih. Dikasij Rp. 300 saya terima, dikasih Rp. 500 saya terima. Tapi rata-rata Rp. 1.000, Mas. Ada yang tidak tega terus ngasih Rp. 2.000 juga ada,” ungkapnya. 

Sutomo mengaku, pernah beradu mulut dengan pemilik kendaraan lantaran helmnya hilang saat diparkir dan meminta ganti uang Rp. 300.000.  “Itukan bukan  tanggung jawab kami. Karena situ aturan yang pernah dijelaskan,” ungkapnya yang tidak bisa menjelaskan aturan seperti apa yang diumaksud. 

Bukan hanya itu, pihaknya tidak jarang bersitegang dengan pemilik toko, lantaran kendaranan terpakir di bahu jalan depan toko itu dianggap menghalangi jalan menuju toko. “Toko tidak mau diparkiri,” katanya. 

Kalau seperti ini harusnya dinas bisa turun langsung untuk menjelaskan, “Selama ini dinas hanya mau setorane thok,” ungkapnya.

Dia berharap, ada perhatian dari pemerintah untu petugas parkir yang ada di Cepu. “Kalaupun tidak ada kesejahteraan, paling tidak ada seragam baru untuk petugas parkir,” harapnya. (ams)

Dibaca : 633x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan