Keselamatan Jalur Pipa Minyak Blok Cepu Harus Dijaga

Rabu, 10 Juli 2019, Dibaca : 398 x Editor : nugroho

Ist
SOSIALISASI : Perwakilan EMCL, Ichwan Arifin menyamapikan pentingnya menjaga keselamatan sepanjang jalur pipa Blok Cepu.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Sedulur Pena (YSP), menggelar sosialisasi keamanan dan keselamatan jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu kepada stakeholder terkait. Acara berlangsung di Singapore Restaurant & Coffee Shop, Jl. Gajahmada No. 28 Bojonegoro, Rabu (10/7/2019).

Sosialisasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, melibatkan Bappeda Bojonegoro, Dinas PU Bina Marga, Dinas PU SDA, Dinas Pertanian, Perhutani, BBWS, BPBS, Diskominfo, PDAM, PT Telkom, PLN, Pamobvitbas Polda Jatim dan pihak terkait lainnya. 

Baca Lainnya :

    Manager Program, Muslimin menjelaskan, sosialisasi dan kampanye keselamatan fasilitas migas kepada masyarakat sepanjang jalur pipa (ROW) ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat di sepanjang jalur pipa dalam memperhatikan keselamatan jalur pipa minyak EMCL. Juga kepada para pemangku kepentingan di tingkat kabupaten. 

    Kegiatan dikemas dalam bentuk forum lokakarya, sosialisasi, koordinasi dan diskusi dalam menyikapi hal yang berhubungan dengan masalah-masalah pelanggaran yang terjadi di atas jalur pipa minyak. Sehingga mendapatkan saran-saran, masukan serta langkah-langkah konkrit dari lembaga atau dinas terkait. 

    Baca Lainnya :

      “Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung sosialisasi dan kampanye keselamatan yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya, yaitu sosialisasi dan kampanye keselamatan fasilitas Migas di tingkat kecamatan agar lebih sitematis dan terarah,” ujarnya.

      Sementara itu perwakilan EMCL, Ichwan Arifin mengucapkan terimakasih atas kehadiran para stakeholder. Dengan diskusi ini, EMCL dan stakeholder yang difasilitasi tim YSP bisa menyinkronkan program agar keamanan dan keselamatan pipa terjaga. 

      Pipa minyak membentang dari Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, sampai lepas pantai Palang, Kabupaten Tuban. Ada kemungkinan jalur pipa dengan pekerjaan stakeholder bersinggungan. Maka dari itu, mungkin ada titik saran supaya kejadian crossing bisa diantisipasi bersama.

      “Keberadaan Lapangan Banyu Urip beserta fasilitas pipa pendukungnya merupakan tanggungjawab bersama. Kami juga mengupdate kondisi jalur pipa, bersamaan itu pula hadir security yang rutin patroli," tambahnya. 

      Ichwan menerangkan, EMCL hanya sebatas pengelola fasilitas tersebut. Karena Migas masih menjadi kebutuhan nasional, maka fasilitas Migas juga mendapat keamanan khusus dari Polri. 

      Produksi minyak di Lapangan Banyu Urip sekarang ini telah mencapai 200.000-220.000 barel per hari (BPH). Jika sampai berhenti tidak hanya Negara yang rugi, tapi Dana Bagi Hasil (DBH) Migas bagi Bojonegoro juga berpengaruh. 

      "Keselamatan khususnya masyarakat di sekitar jalur pipa sangat diutamakan. Karakter minyak Banyu Urip adalah bertekanan tinggi. Rawan berpotensi ledakan dan kebakaran jika ada lubang atupun laju minyak terhenti," bebernya.

      Karena alasan itulah EMCL bekerjasama dengan YSP, secara terus menerus sosialisasi ke masyarakat sekitar. EMCL juga memberi kebijakan kepada eks pemilik untuk tetap menggarap lahan yang sudah dibeli dengan tetap menjaga keselamatan bersama. 

      "Kami berharap ada input dan masukan dari para stakholder termasuk input program setahun ke depan," tegasnya. 

      Perwakilan Bappeda Bojonegoro, Ike Widianingrum sangat mendukung diskusi keamanan jalur pipa. Semua pihak harus memahami, jika Bojonegoro telah menjadi penyangga 30 persen minyak nasional.

      "Itu menjadi kebanggaan dan peluang yang harus dikelola bersama. Tentu tak lepas dari kontribusi dari EMCL," paparnya. 

      Kegiatan di Lapangan Banyu Urip teleh memberikan multiplier effect. Tidak hanya pendapatan. Namun Bojonegoro sudah banyak menerima kunjungan dari pihak luar, karena dikenal menjadi kabupaten penghasil minyak. 

      Ike menambahkan jika bicara masalah DBH Migas, itu kewenangan pusat. Dengan adanya 72 kilometer panjang pipa minyak di darat, tentu sinkronisasi program sangat penting. Supaya tidak ada miskomunikasi di kemudian hari. 

      “Membahas sisi keselamatan jalur pipa itu sangat penting. Karena disini sekilas ada hal yang harus dan dilarang dilakukan, baik jalan dan irigrasi,” tambah Ike. 

      Bappeda berharap organisasi perangkat daerah (OPD) terkait meneruskan sosialisasi kepada tim pelaksana program di lapangan. Karena realitanya terkadang ada komunikasi yang terputus dari atas ke lapangan. 

      “OPD menerjemahkan ke rekanan. Pasca ini ada tindak lanjut sampai ke level kecamatan dan kelompok masyarakat,” tegasnya.

      Diakui, di lapangan ada tipikal masyarakat yang tahu, dan pura-pura tidak tahu. Mereka merasa masih bebas membangun bangunan di atas jalur pipa. Hal itu merupakan tanggungjawab bersama, untuk terus menyosialisasikan ke level masyarakat. Karena demi keselamatan bersama.

      Pada prinsipnya, Bojonegoro memiliki komitmen yang sama dengan EMCL dalam rangka mitigasi kebencanaan dan sosialisasi ke warga. Diharapkan kedepan tidak ada miskomunikasi rekanan atau tim lapangan ketika menjalankan program Pemkab di jalur pipa.

      Usai seremoni acara, dilanjutkan sesi diskusi. Tiap stakholder tampak antusias menyampaikan saran dan input ke EMCL perihal keselamatan dan keamanan jalur pipa minyak dari Lapangan Banyu Urip.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more