Ketika Ketenangan Penambang Sumur Minyak Tua Diusik

Kamis, 31 Januari 2019, Dibaca : 1371 x Editor : nugroho


 

Ketenangan penambangan sumur minyak tua terusik. KUD yang selama ini menaungi mereka dimatikan.

Deru mesin terdengar di antara perbukitan gunung Kendeng di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Suara tersebut berasal dari tenaga putaran roda tanpa ban. Fungsinya menarik timbal dengan tali sling yang ditautkan melalui tripod kayu tepat di atas lubang sumur minyak. 

Baca Lainnya :

    Timbal berbentuk lonjong. Alat ini bisa masuk ke perut bumi dengan kedalaman 300 hingga 500 meter untuk mengeluarkan minyak mentah atau lantung.

    "Ini salah satu sumur tradisional peninggalan zaman Belanda yang masih dioperasikan penambang," kata Sukir (45), warga Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan, pekan terakhir 2019. 

    Baca Lainnya :

      Sukir adalah salah satu dari ratusan penambang sumur minyak tua di Lapangan Wonocolo. Bapak dua anak ini bertugas sebagai penimbal-mengarahkan ujung alat pengambil minyak ke lubang penyimpanan minyak di bawah tanah. Setiap hari Sukir bekerja dari pukul 06:00 Wib sampai dengan 16:00 Wib. 

      Saat Sukir mengangkat timbal, minyak bercampur air berwarna cokelat kemerah-merahan menyembur tepat dari dalam lubang. Agar tidak tercecer dan menimbulkan pencemaran, pria berkulit sawo matang itu kemudiab mengarahkan timbal tepat di dalam lubang. 

      Sementara dua rekan kerjanya yang lain bertugas mengoperatori mesin mobil dan pemindah minyak kedalam drum. Penambangan sumur minyak tua ini dilakukan secara kelompok. 

      Setiap kelompok terdapat 12 penambang. Mereka bekerja di bawah naungan Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Pangan, yang dipercaya Pertamina EP Aset 4 Fiel Cepu, sebagai pemilik wilayah kerja pertambang (WKP) Wonocolo, untuk pekerjaan angkat dan angkut minyak mentahm

      Dalam sehari satu kelompok penambang mampu menampung 30 ton minyak mentah untuk kemudian disetorkan ke KUD Sumber Pangan. 

      "Satu hari itu kerjanya gantian," kata pria yang sudah 15 tahun menambang. 

      Bekerja sebagai penambang sumur minyak tua sudah menjadi mata pencaharian Sukir. Pekerjaan ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Ia menggantikan ayahnya sebagai penambang karena usianya telah senja.

      "Jadi saya tahu seluk beluk dan sejarah para penambang disini," ucapnya.  

      Selama ini di sumur D.80 wilayah Wonocolo tidak pernah terjadi gejolak sosial. KUD Sumber Pangan memfasilitasi ongkos angkat dan angkut para penambang. 

      "Justru keberadaan KUD SP inilah yang mengakomodir penambang ke Pertamina," tandasnya. 

      Pendapatan yang diperoleh penambang tidak terlalu besar. Mengikuti harga dari Pertamina EP Aset 4 Field Cepu. Saat ini, setiap penambang bisa memperoleh pendapatan Rp200.000 hingga Rp300.000/minggu.

      "Selama ini hidup kami ya dari sini. Mau kerja apa, tidak ada pekerjaan lain," pungkas Sukir sambil melanjutkan pekerjaannya. 

      Ongkos angkat dan angkut yang diberikan KUD Sumber Pangan kepada penambang tidak pernah telat. Jumlahnya utuh. 

      "Kita terima setiap minggu itu utuh tanpa ada potongan," sambung penambang lain dari wilayah Dandangilo sumur D.82, Noto.

      KUD Sumber Pangan sangat memperhatikan keselamatan penambang. Penambang di Lapangan Dandangilo, Ngrayong, dan Wonocolo, diwajibkan memakai pakaian safety untuk menjaga keselamatannya. 

      "Wajib kalau pakai pengaman, mulai kepala sampai kaki," tegas pria berusia 40 tahun asal  Desa Beji, Kecamatan Kedewan ini.

      Pengelolaan sumur minyak peninggalan kolonial Belanda sekarang ini lebih taat aturan. Masing-masing kelompok penambang sebagian telah mendaftarkan anggotanya ke BPJS Tenaga Kerja maupun Kesehatan.

      "Kalau yang lainnya masih proses. Untuk daftar BPJS Tenaga Kerja kan kendalanya banyak juga. Kalau BPJS Kesehatan insya allah sebagian besar sudah didafatrakan," tutur Noto. 

      Baik Sukir maupun Noto berharap kondisi sumur tua tetap kondunsif. Sinergi kelompok penambang dengan KUD Sumber Pangan bisa terus berlanjut karena telah banyak memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.

      Kabar tidak diberikannya rekomendasi kepada KUD Sumber Pangan oleh Bupati Bojonegoro Anna Muawanah, sebagai salah satu syarat mengelola sumur minyak tua, telah mengusik ketenangan penambang. Jika pengelolaan sumur minyak tua dialihkan, penambang khawatir akan ada perbedaan kebijakan yang merugikan penambang. 

      "Jika mereka dialihkan ke lembaga lainnya, belum tentu akan berjalan dengan baik," pungkas Noto. 

      Diakui, KUD Sumber Pangan memiliki sejarah panjang hingga bisa terlibat dalam pengelolaan sumur minyak tua dan menaungi penambang. Koperasi ini juga terus meningkatkan profesionalitas untuk menjalankan kepercayaan dari Pertamina EP. Mulai dari legalitas, admnistrasi, keselamatan pekerja dan lingkungan terus dibenahi agar menjadi lebaih baik.

      "Jangan sampai nanti muncul gejolak. Kita ingin tetap kondunsif, penambang nyaman bekerja meski kabarnya Bupati tidak merekomendasi lagi KUD SP untuk perpanjangan kontrak di sumur tua," tandas Ketua KUD Sumber Pangan (SP) Sutikno dikonfrontir terpisah. 

      Kebijakan Bupati Anna Muawnah tak memberikan rekomendasi kepada KUD Sumber Pangan memantik reaksi Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Angling Dharma, M. Nasir. Menurut dia, kebijakan tersebut sama saja dengan mematikan KUD yang sudah bersusah payah mengelola dan menaungi penambang sumur minyak tua.

      Nasir menyarankan agar Pemkab Bojonegoro lebih dulu melakukan investigasi terkait kinerja KUD Sumber Pangan di sumur tua sebelum memberikan keputusan untuk tidak merekomendasi. Sehingga tidak memunculkan kesan di masyarakat alasan penolakan pemberian rekomendasi karena kepentingan pribadi.

      "Harus dilihat juga dampak belakangnya seperti apa jika KUD SP tidak lagi mengelola sumur tua. Karena selama ini penambang lebih memilih KUD," tegasnya.

      Izin pengelolaan sumur minyak tua oleh KUD SP akan berakhir pada Mei 2019 mendatang. Ada beberpa pertimbangan yang disampaikan Pemkab Bojonegoro untuk tidak memberikan rekomendasi lagi kepada koperasi tersebut. Salah satunya agar BUMD Bojonegoro, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) lebih maksimal mengelola sumur tua. 

      Sekalipun baik BUMD dan KUD secara aturan sama-sama diperbolehkan mengelola sumur minyak tua. Oleh karena itu, salah satu solusi yang ditawarkan Pembak adalah tetap melibatkan KUD Sumber Pangan dalam mendukung PT BBS melalui kerja sama. Semisal menyewakan kendaraan operasional atau truck tangki untuk mengangkut minyak, menyewakan atau menjual alat-alat lainnya yang dibutuhkan penambang kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS).

      "Kami kira jika KUD dan BUMD bersinergi tidak akan terjadi gejolak sosial di sumur minyak tua," tandas Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Bojonegoro, Rahmat Djunaidi dihubungi terpisah.

      Sebagai pemilik WKP, Pertamina EP Asset 4 Fiel Cepu belum memutuskan diperpanjangan atau tidaknya kontrak KUD Sumber Pangan dalam mengelola sumur minyak tua. Saat ini pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap kinerja KUD tersebut.

      "Masih kita evaluasi di Jakarta," tegas Genaral Manager  Asset 4, Agus Amperianto.(ririn wedia)




      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more