Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Ketika Perempuan Blok Cepu Berteriak Tuntut Keadilan

Editor: admin
Selasa, 02 Oktober 2012
Athok
AKSI PEREMPUAN : Kaum perempuan Desa Gayam, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro berteriak menuntut kompensasi terhadap polusi debu.

SuaraBanyuurip.com - Athok Moh. Nur Rozaqi

TERIK matahari di paruh bulan September 2012 masih jilatkan sengatnya. Udara panas yang mengiringinya bak bara kobarkan semangat warga Dusun Templokorejo dan Dusun Kaligongglong. Desa Gayam, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.  Yel-yel lantang warnai gugatan mereka terhadap tebaran debu dari proyek  Engineering Procurement and Constructions (EPC) 1, lapangan Banyuurip, Blok Cepu.

Aksi warga desa ring 1 lokasi sumur minyak Banyuurip, Senin (17/9/2012), kali ini terasa berbeda. Protes dan menuntut diperlakukan secara adil terhadap proyek EPC-1 ini lebih banyak didominasi kaum perempuan. Bagai orkestra komunitas kaum hawa itu melayangkan tuntutan tentang polusi debu.

Tak terbias issu gender, peran mereka tak bisa dianggap remeh di iklim demokrasi yang telah membumi di Bumi Angling Dharma. Hal itu terlihat dengan alotnya proses negoisasi antara warga dengan perwakilan operator Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL), dan kontraktor EPC 1, PT Tripatra Engineers and Constructors.

"Debu itu sudah lama mengganggu kami, dan mengancam kesehatan," ucap Sulasih, warga Dusun Templokorjo. Dia terlihat kritsis diantara yang lain. Sejumlah tawaran solusi yang ditawarkan dari operator proyek ditolaknya.

Mewakili warga lainnya Sulasih merasa keberatan bilamana tuntutannya ditawar. Mereka   tetap meminta kompensasi uang dari empat item tuntutan. Sedangkan tiga tuntutan lain yang sudah dipenuhi yakni, penyiraman jalan secara maksimal, tidak ada penutupan sendang Kelor,  dan tidak ditutup jalan yang menghubungkan Dusun Templokorejo dengan Dusun Kaliglonggong.

"Mereka (pekerja proyek-Red) enak sudah ada asuransi dari perusahaan, makan pun dipesan dari catering," bantahnya.

"Debu itu sudah lama mengganggu kami, dan mengancam kesehatan," ucap Sulasih, warga Dusun Templokorjo.
Baik MCL maupun Tripatra seakan dibuat tak bergeming. Negoisasi yang sempat terjadi beberapa hari sebelumnya tetap saja alot, bahkan cenderung memanas melebihi cuaca panas siang itu. Sorak sorai beberapa perempuan lain yang di belakangnya terdengar kompak. Mereka mendukung suara hati Sulasih.

Keseragaman caping dari anyaman bambu yang mereka kenakan seolah menunjukkan bentuk pengakuan identitas kaum pribumi. Mereka melakukan perlawanan dengan para kontraktor yang menggunakan helm proyek sebagai tudung terpaan panas. 

"Kalau kompensasi berbentuk tunai tidak bisa kami berikan," kata Community Affairs PT Tripatra, Budi Karyawan.

Permintaan uang tunai tak diizinkan dalam kinerja proyek Blok Cepu yang diatur pemerintah. Sebagai gantinya operator menawarkan penyiraman jalan dan lingkungan secara maksimal. Termasuk memberikan pelayanan cek kesehatan gratis secara berkala kepada warga Temlokorejo dan Kaliglonggong.

Kepala Desa Gayam, Pudjiono, yang dihadirkan sebagai mediator pun tidak bisa berbuat banyak. Sikap bijak sebagai penengah diantara dua kubu menjadi tugas yang berat sebagai orang nomor satu di desa yang kini berubah status menjadi kecamatan ini.

"Saya hanya sebagai mediator. Selain itu terkait tuntutan lainya kita kembalikan kepada MCL dan dinas terkait," ungkapnya.

Warga lain, Karwi, juga terlihat tak kalah semangat dengan Sulasih. Berbekal payung untuk menghalau jilatan panas, dia bersama warga lain terus mendengungkan suara. Menurutnya, pencemaran debu sudah berlangsung lama.

"Sejak proyek ini dimulai pencemaran itu sudah terasa. Baru kali ini kita protes. Bagaimapun kita akan tetap memperjuangkan tuntutan kami," kata perempuan paruh baya itu.

Dibaca : 557x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan