Selasa, 18 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Ketua PWNU Jatim : Ada Orang Luar yang Sedang Fitnah NU

Editor: nugroho
Sabtu, 25 Agustus 2018
Ali Imron
KOMPAK : Tabuh terbang jadi penanda dimulainya Konfercab NU Tuban ketujuh.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH. DR Marzuqi Mustamar, meminta kepada jam'iyah NU tetap tenang dan tidak bingung dengan perkembangan yang terjadi, meskipun ada pihak yang sedang berusaha menggoyang NU. Berbagai cara dilakukan untuk membuat NU yang besar tersebut terpecah.

‘’Jam’iyah NU harus faham ini, agar tidak ikut-ikutan,’’ pintanya saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kabupaten Tuban ketujuh pada Sabtu (25/8/2018).

Pembukaan Konfercab dipusatkan di Pendopo Krida Manunggal Tuban, dengan dihadiri sekitar 1.500 undangan. 

Dijelaskan, dalam bersikap Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sudah membuat tuntunan dalam beramaliah sebagai warga NU atau yang disebut Qonun Asasi. Mbah Hasyim Asyari menuntun warga NU untuk hidup seimbang antara islamiyah, basyariah dan wathoniyahnya.

Kalau berislam tidak berkemanusiaan, pasti tidak NU, meski wiridan, salawatan dan lainnya. Begitu juga kalau tidak cinta tanah air, tidak menjaga negara, tidak menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keragaman, yakinkah itu tidak NU meski ngaku ahlussunnah.

Sebagaimana ajaran Wali Songo, NU dalam dakwah dan menjalani kehidupannya, adab, sopan santun, dan aspek-aspek kemanusiaan selalu di kedepankan.

"Oleh karena itu, Wali Songo mengajarkan wenehono mangan marang wong kang luwe, wenehono ngombe marang wong kang ngelak, wenehono teken wong kang wuto, wenehono pakaian wong kang wudo," ujarnya dalam Bahasa Jawa.

Dengan mengedepankan sisi kemanusiaan dan kasih sayang, Wali Songo berhasil dalam dakwahnya. Padahal, Wali Songo saat itu menghadapi Majapahit yang Hindu Budhanya sangat kuat.

‘’Wali Songo dulu bisa, kenapa kita gak bisa. Sak elek-eleke pemerintahan kita sekarang adalah islam. Gelem solat, Jumatan, maulidan, salawatan dan lainnya. Kalau dulu bisa bersinergi, kenapa sekarang tidak. Ini harus diperhatikan,’’ terang Kiai asal Malang ini.

NU menjadi sasaran mereka, karena sebagai organisasi yang bisa menjalankan itu semua. Orang di luar NU berusaha untuk melemahkan NU.

"Caranya  NU difitnah. Sejak dulu NU dan habaib satu, namun sekarang seolah-olah tidak," tuturnya.

Ditambahkan, mumpung Bupati Tuban warga NU, MWC NU di Bumi Wali harus punya kantor. Selain itu, segera dilengkapi kepengurusannya, SK Baru, penyelamatan aset.

"Juga harus merawat ranting NU," pesannya.

Sementara, Ketua Tanfidziyah PCNU Tuban, KH Musta'in Syukur, mengucap hamdalan karena masih bisa hadir dalam Konfercab NU Tuban yang ketujuh. Pada tahun 1935 sudah ada NU di Tuban di Desa Kaliuntu, Kec Jenu. 

Konfercab ini merupakan forum tertinggi jam'iyah NU Tuban. Dalam rangka mengevaluasi program kerja Nu selama lima tahun.

"Sekaligus menyusun strategi dakwah lima tahun mendatang," sambungnya. 

KH Musta'in berpesan, di NU jangan ada ambisi jadi pengurus, tapi jangan menolak ketika ditunjuk. Penyegaran pengurus NU merupakan sebuah keharusan.

Di era demokratisasi, teknologi dan berubahnya gaya hidup masyarakat menjadi tantangan bagi pengurus Nu. NU juga dituntut menghadapi paham radikal, yang kian marak. 

Selama nafas masih lancar, semangat berjihad melalui NU perlu dikobarkan. Mengingat NU pernah berjihad melawan penjajah dan berbuah kemerdekaan RI. Perjuangan harus dilakukan, untuk memerdekaan masyarakat dari paham-paham radikal. 

"Tugas ini harus dijalankan serentak oleh seluruh pengurus PBNU, bukan hanya NU di Tuban saja," jelasnya. 

Ditegaskan pula, NU bukanlah partai politik. Dikarenakan sebuah keadaan di Pilgub Jatim kemarin, NU terseret arus. Sebagai warga NU harus bersyukur, karena Bupati dan wakil bupati Tuban juga orang NU. (aim)

Dibaca : 613x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan