Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

KOPI REMBANG

Editor: teguh
Selasa, 16 September 2014
SuaraBanyuurip.com
didik wahyudi

Oleh : Didik Wahyudi*

Sebenarnya saat saya sedang menulis ini dalam kondisi rindu merasakan maglek-nya kopi Rembang dan perasaan rindu tersebut hampir mirip saat saya jatuh cinta dulu waktu kuliah. Seperti pada umumnya lelaki yang beranjak dewasa saat mengenal perempuan, tentu rindu itu sesuatu yang menyiksa namun indah bingit (bisa dibaca, banget). Saking indahnya, saat itu saya cukup produktif menulis puisi bahkan hampir tiap hari selalu menyempatkan menulis dalam kondisi apapun dan tak jarang menulis di lembaran kertas bekas mulai dari bungkus grenjeng rokok, sobekan kertas di jalan atau di telapak tangan. Yang penting saat gejolak dan inspirasi ingin menulis selalu saya tumpahkan segera karena kawatir mood dan ide hilang.

Namun rindu kali ini saya hadapi dengan tenang karena sudah tidak seliar dulu waktu belajar filsafat serta theater dan tak spontanitas dulu apapun dikerjakan segera. Rindu ini (pada kopi Rembang) semakin beranjak pada kondisi kompromistis karena berbagai hal yang tidak bisa saling mengalahkan pada kepentingan yang lain.

Saya sedang tidak curhat sebenarnya saat menulis ini, namun karena terbawa perasaan maka terselipi curhat meski sudah saya minimalisir sedemikian rupa namun tetap tidak bisa. Namun ada logika penguat bagi fikiran pribadi saya, bahwa menulis tanpa perasaan itu seperti pembunuh bayaran yang melakukan pekerjaan atas nama uang, namun menulis dengan perasaan itu seperti hakim yang penuh kasih sayang saat memutuskan perkara.

Jadi saya menulis ini sedang mengungkapkan betapa enaknya menikmati kopi Rembang. Seorang peminum kopi sejati belum dibilang sempurna jika tidak merasakan kopi Rembang dan saya tidak sedang melakukan promosi atau apapun itu namanya namun sedang menantang dan mengajak pembaca merasakan sensasi kopi Rembang sembari menikmati semilir angin pantai utara.

Dan kebetulan saya sudah pernah merasakan kopi di beberapa kota, dan peminum kopi sejak TK atau bahkan sejak bayi karena dulu saya pengidap step (kejang-kejang karena demam tinggi) dan orang tua jaman dulu menyembuhkannya dengan kopi. Jadi untuk urusan kopi barangkali meski bukan ahli namun saya bisa menilai mana kopi terbaik dan enak di kelasnya.

Ada sebagian orang yang membandingkan bahwa kopi Lasem lebih mantab dibanding Rembang atau kecamatan lain di Rembang, namun untuk mudahnya saya ringkas menjadi satu saja karena Lasem masih masuk wilayah kabupaten Rembang. Meski Lasem memiliki sejarah panjang zaman kerajaan dulu dan lebih tua di banding Rembang, jadi anggaplah saja kopi Lasem ya kopi Rembang, kopi Rembang ya ada kopi Lasemnya begitu saja agar mudah dipahami.

SEBUAH PROSES SECANGKIR KOPI

Mari kita mulai untuk membahas mengapa kopi Rembang begitu digdaya eh..begitu nikmat sampai tetes terakhir. Kopi Rembang hingga menghasilkan secangkir hitam pekat di hadapan pembaca (jika sudah mampir di warung kopi) mengalami proses yang tidak main-main. Proses tersebut menjadi ritual wajib pembuat kopi  dan tidak bisa dilewati antara satu proses dengan proses lainnya, atau diloncati antara proses satu dengan lainnya, kan tidak mungkin kopinya sudah diminum tapi biji kopinya belum digoreng. Tentu tidak dan mustahil..hehehehe.

Pertama, pemilik warung kopi terlebih dulu memilih biji kopi dari biji terbaik. Biasanya ciri-cirinya biji kopi terbaik berwarna berwarna abu-abu kebiruan seperti warna telor bebek untuk jenis kopi arabika, dan kuning kehijauan untuk kopi robusta. Namun hampir semua pemilik warung kopi di Rembang lebih memilih kopi arabika dibanding kopi robusta yang rasanya lebih pahit, mungkin sepahit cinta pemuda yang baru diputus pacarnya. Mereka juga akan menghindari membeli biji kopi yang berwarna putih pucat, coklat tua atau apalagi biji kopi yang berwarna hitam serta berbobot ampang (ringan) bijinya.

Setelah memilih biji kopi terbaik, lalu proses berlanjut dengan melakukan penggorengan (menyangrai) biji kopi. Proses penggorengan inilah untuk setiap pemilik warung memiliki resep tersendiri dan biasanya dirahasiakan. Bisa digambarkan bahwa tiap warung kopi itu bagaikan padepokan silat maka tiap warung kopi juga memiliki jurus-jurus rahasia dan hanya keluarga dekat yang mengetahui jurus rahasia tersebut. Namun secara umum hasil dari semua warung kopi memiliki ciri yang sama, kental hitam, bubuk kopi sangat lembut, tidak ada ampas kopi yang mengambang dan cocok untuk nyethe (melukis batang rokok dengan ampas kopi).

Jangan salah bahwa tahap menggoreng inilah tahap yang cukup penting dan vital untuk memunculkan rasa kopi yang enak. Jika salah menggoreng maka hasilnya pun akan sangit dan terlalu gosong. Menggoreng kopi dibutuhkan kepekaan tiga indra sekaligus mulai mata untuk melihat perubahan warna kopi diatas penggorengan, telinga untuk mendengar bunyi gesekan antar kopi saat dibolak-balik agar matang merata, dan hidung untuk mencium aroma yang keluar dari kopi yang sudah matang sesuai keinginan.

Jurus menggoreng pemilik warung kopi berbeda-beda namun satu hal yang sama bahwa penggoreng kopi yang baik tak akan meninggallkan penggorengan dan terus mengaduk penggorengan hingga tiba pada tingkat kematangan yang diinginkan. Seorang penggoreng kopi sejati adalah bekerja untuk kesempurnaan kematangan kopi dan ketepatan, dia bagaikan seorang pertapa yang selalu waspada serta menjaga bara api serta gorengan agar tetap stabil. Bahkan untuk beberapa kasus penggoreng kopi sejati melafalkan wirid khusus yang diperoleh dari turun temurun.

Untuk menggoreng sebagian besar warung kopi di Rembang menyerahkan ke ahlinya atau kadang pemilik warung juga sudah ahli menggoreng. Menggoreng kopi membutuhkan kerja keras dan kepekaan, jarang sekali ditemukan penggoreng kopi tak mengeluarkan keringat karena sumuk dekat dengan bara api….hehehehe. Menggoreng adalah pekerjaan puncak untuk menghasilkan rasa nikmat secangkir kopi.

Setelah melewati proses menggoreng dengan tingkat kematangan tertentu dilanjutkan proses membuat biji kopi menjadi bubuk kopi. Proses ini ditempuh dalam dua cara yakni digiling menggunakan mesin diesel dan ditumbuk secara tradisional menggunakan lumpang besi ataupun kayu. Jika digiling menggunakan diesel biasanya proses penggilingan hingga beberapa kali dan dibutuhkan saringan yang lembut di dalam mesin. Namun proses ini lebih cepat dibanding ditumbuk menggunakan lumpang, namun penikmat kopi kebanyakan lebih menyukai ditumbuk menggunakan lumpang karena dinilai rasanya berbeda.

MENIKMATI SECANGKIR KOPI DENGAN NYETHE

Proses pembubukan telah usai lalu dilanjutkan dengan meracik kopi dalam cangkir. Sebagian warung kopi di Rembang menggunakan cara meracik dengan cara kothok atau lebih dikenal dengan sebutan kopi kothok yakni meracik dengan merebus bersama antara gula dan bubuk kopi dalam satu wadah lalu dipanaskan hingga mendidih sehingga menghasilkan kopi yang kental dan percampuran yang sempurna. Sebagian lainnya meracik dengan menyeduh dari cangkir kopi dengan menuangkan air panas di dalam cangkir yang sudah berisi bubuk kopi dan gula. Dua cara tersebut tetap akan menghasilkan lethek (ampas kopi) yang sangat halus karena saat proses pembubukan dilakukan dengan cermat agar menghasilkan bubuk yang benar-benar halus.

Mengapa demikian ? karena hampir di tiap warung kopi di Rembang memiliki tradisi dan cara menikmati kopi yang berbeda dibanding dengan kota lain karena ada ritual nyethe (melukis batang rokok dengan ampas kopi sebelum dihisap). Ritual ini sangat dihormati pemilik warung agar kopinya tetap dibanjiri pelanggan. Karena biasanya warung kopi di Rembang yang ampasnya tidak halus sehingga tidak bisa untuk melukis diatas batang rokok biasanya tidak laku. Semua warung kopi di Rembang bisa dipastikan ampas kopinya sangat halus. Sehalus pipi aktris korea. Benar-benar halus bahkan untuk mengendapkan dibutuhkan waktu hingga seperempat jam lebih. Kenapa diendapkan ? bagi sebagian perokok mengendapkan ampas kopi adalah wajib karena ampasnya berfungsi untuk menambah aroma dan kenikmatan merokok dengan cara nyethe.

Inilah uniknya ngopi di Rembang, semua peralatan nyethe disediakan dengan lengkap. Mulai susu putih, tisu, kayu untuk bersandar batang rokok yang sudah dilukis, benang dan tusuk gigi. Peminum kopi yang belum pernah ngopi ke Rembang tentu akan merasa aneh melihat perlengkapan tersebut di sebuah warung kopi. Namun jika sudah merasakan ritual secara khusuk maka alat-alat tersebut akan bekerja dengan sendirinya sesuai fungsi.

Susu putih berfungsi untuk merekatkan ampas kopi (lethek) pada batang rokok dan cara menggunakan setelah ampas kopi diendapkan lalu dicampur menggunakan susu putih. Tisu fungsinya untuk menyerap air dalam proses pengendapan ampas kopi yang biasanya diendapkan diatas lepek atau tatakan cangkir. Kayu untuk sandar batang rokok fungsinya untuk mengangin-anginkan atau mengeringkan batang rokok yang sudah dilukis menggunakan ampas kopi yang masih basah. Benang fungsinya seperti kuas untuk melukis, namun sebelum melukis terlebih dulu benang direndam dalam ampas kopi bercampur susu kemudian benang baru bisa dimanfaatkan untuk melukis. Namun biasanya benang lebih banyak berfungsi untuk ngeblok batang rokok dengan ampas kopi.  Dan tusuk gigi hampir sama fungsinya dengan benang, namun tusuk gigi lebih persis fungsinya dengan kuas untuk melukis. Tusuk gigi akan menghasilkan lukisan yang lebih atraktif dibandingkan dengan benang.

Alat-alat nyethe tersebut harus ada di tiap warung kopi di Rembang jika ingin pemilik warung tak sepi pelanggan karena hanya cara itulah warung kopi menjadi ramai. Namun sekarang ada modifikasi lagi untuk menarik pelanggan lebih banyak dengan menyediakan purel (public relation) untuk menemani para peminum kopi bercengkrama. Biasanya pemilik warung lebih memilih purel perempuan dibanding lelaki, tugasnya selain menemani bercengkrama juga menawari berbagai panganan dan minuman tambahan lainnya agar dagangan pemilik warung banyak dibeli. Juga ada modifikasi lain dengan menyediakan seperangkat sound system untuk pelanggan yang hobi menyanyi. Mereka bisa bersnyanyi sepuasnya sambil nyethe, bercengkrama dengan purel dan merokok.

Saya jamin selain tradisi nyethe dan berbagai modifikasi penarik pelanggan lainnya, rasa kopi Rembang memang cetar membahana dan memiliki rasa yang khas. kalau saya bandingkan di wilayah Bojonegoro hanya warung kopi milik mak bah yang mendekati namun masih kalah beberapa strip. Kopi mak bah hanya enaknya yang mendekati namun ampasnya masih ada yang mengambang atau tepatnya bubuknya masih kurang halus sehingga tidak menarik untuk nyethe. Sekali lagi, ini bukan dalam rangka promosi atau apapun namanya namun ungkapan seseorang yang sudah minum kopi sejak bayi, bukan ahli namun berpengalaman sangat lama. Rasa memang soal selera dan kwalitas ada ukurannya, namun pendapat seseorang yang sudah menjadi pecandu kopi sejak bayi mungkin layak didengarkan. Salam kopi ! matur suwun.

*pecandu kopi yang juga mantan perokok

 

 

Dibaca : 1249x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan