Rabu, 18 Juli 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Kucurkan Rp175 Juta untuk Krisis Air Bersih Tuban

Editor: nugroho
Rabu, 11 Juli 2018
Ali Imron
ANTRE : Warga sedang antre bantuan air bersih. Di Tuban ada 12. 925 KK alami krisis air bersih.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur, menyiapkan anggaran sebesar Rp175 juta memenuhi kebutuhan air bersih bagi 12.925 Kepala Keluarga (KK), di 26 desa yang tersebar di tujuh kecamatan.

“Tahun ini kita siapkan Rp175 juta untuk dropping air bersih ke warga,” ujar Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepadasuarabanyuurip.com, di kawasan Mangrove Center Tuban di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Rabu (11/7/2018).

Mantan Camat Widang ini, menegaskan apabila anggaran ini masih kurang, opsi lainnya akan menggunakan dana taktis tak terduga. Diharapkan dukungan APBD ini, menjadi solusi krisis air bersih di musim kemarau 2018.

Hasil pemetaan tim BPBD di lapangan, 26 desa yang sekarang kekurangan air beserta jumlah KK- nya meliputi, 440 KK di Desa Sembungrejo,380 KK di Genaharjo, 160 KK di Jadi, 1.050 KK di Prunggahan Kulon di Kecamatan Semanding. 580 KK di Desa Ngandong, 320 KK di Grabagan, dan 900 KK di Gesikan Kecamatan Grabagan.

Lainnya 650 KK di Desa Gaji, dan 120 KK di Sidonganti Kecamatan Kerek. 1.330 KK di Desa Medalem, 750 KK di Sendang, 1.223 KK di Jatisari, 1.103 KK di Wanglukulon, 300 KK di Wangluwetan, 920 KK di Rayung, 568 KK di Sidoharjo, dan 241 KK di Desa Leran Kecamatan Senori.

Ditambah 100 KK di Desa Kedungjambangan dan 150 KK di Kumpulrejo Kecamatan Bangilan. 455 KK di Desa Mojomalang, 261 KK di Brangkal, 64 KK di Parangbatu, 340 KK di Sembung, 120 KK di Sukorejo, dan 350 KK di Pacing Kecamatan Parengan. Terakhir 50 KK di Desa Sadang di Kecamatan Jatirogo.

“Di tiap titik droping bisa satu sampai tiga tangki air,” jelas Joko.

Salah satu warga Dusun Gempol, Kasmuji (50), mengaku kepada Suara Banyuurip, sudah sebulan lebih lamanya hujan tak turun di desanya. Sehari-hari biasa bersama warga lainnya selalu mengandalkan air sumur di halaman rumah salah satu warga. Semenjak kemarau tiba, debit air sumur terus menyusut dan belakangan rasanya asin dan kotor.

Sumur tersebut sekarang ditinggalkan warga, dan memilih mengambil air dari sumber mata air di tepi desa. Sekalipun jarak tempuh cukup jauh, namun hanya itu pilihan warga Gempol.

“Sumber di tepi desa sekarang pun mulai mengering sejak warga berbondong-bondong kesana,” jelas pria beranak dua.

Untuk minum dan masak tiap hari, Kasmuji bersama istrinya bernama Sridodo (47) memilih untuk membeli air galon. Sedangkan untuk mencuci, mandi, dan memberi minum hewan ternak masih mengandalkan air sumur yang rasanya semakin asin.

“Tiap hari keluarga saya habis tiga galon air,” terangnya.

Dia berterimakasih kepada Pemkab melalui BPBD Tuban, yang sigap merespon keluhan warga. Diharapkan pengiriman air ini lancar, supaya warga tidak perlu jauh-jauh mendapatkan air bersih. (aim)

 

Dibaca : 266x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan