Selasa, 26 Maret 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Langgar Perda PKL Cepu Ditertibkan

Editor: nugroho
Senin, 02 Maret 2015
12
ahmad sampurno
DIBONGKAR : Pembongkaran paksa kios PKL Jalan RSU yang di cor permanen oleh petugas sempat jadi tontonan warga.
SuaraBanyuurip.com
PKL Ditertibkan

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kecamtan Cepu ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (2/3/2015). Pasalnya keberadaan mereka telah melanggar Peraturan Daerah  (Perda) No 6 Tahun 1990 tentang Kebersihan Keindahan dan Ketertiban (K3).

Dalam penertiban itu, Satpl PP Blora bekerjasama dengan semua unsur Muspika Cepu serta pihak terkait untuk melancarkan operasinya.  Penertiban ini merupakan tindak lanjut dari pemberitahuan yang sebelumnya telah dilayangkan kepada para PKL.

Adapun penertiban tersebut di konsentrasikan di jalur protocol Kecamatan Cepu, dimulai dari Taman Seribu Lampu, Jalan RSU, Jalan Raya, Jalan Pemuda, dan Jalan Surabaya.

Dari pantauan,  barang-barang para PKL di Taman Seribu Lampu setelah digunakan berjualan di malam hari ikut diangkut karena sengaja ditinggalkan di tepi jalan. Pun tenda para PKL tidak luput dari incaran petugas.  Namun tidak ada perlawanan dari para PKL saat tenda mereka diminta untuk dirobohkan.

“Ini kami lakukan untuk menegakkan Perda No 6 Tahun 1990,” tegas Sri Handoko.

Menurutnya, Cepu adalah wajah Blora dari arah Jawa Timur. Sebab mulai Jembatan Perbatasan arah Padangan, Kabupaten Bojonergoro, telah tampak bersih.  “Cepu juga harus bersih,” tandas Sri.

Dia menjelaskan, pertiban tersebut adalah awal untuk menciptakan Cepu menjadi tertib.  Karena itu, untuk kedepan tidak akan melayangkan pemberitahuan dalam melakukan operasi.  Sebab, menurut dia, jika Cepu tertib,  utamanya taman, maka masyarakat juga menjadi nyaman.

“Sesui Perda yang ada, bahu jalan dan trotoar dilarang untuk digunakan aktifitas berjulan,” pungkasnya.

Camat Cepu, Mei Naryono, menambahkan, terkait permohonan dari paguyuban dan asosiasi dalam pemanfaatan taman seribu lampu untuk berjualan pada siang hari, pihaknya akan meninjau kembali.

“Pertemuan kemarin, Paguyuban mengajukan  permohonan untuk memanfaatkan taman seribu lampu digunakan berjualan pada siang hari, yaitu taman 4 dan 6. Sementara kami izinkan, tapi dalam perkembangan nanti kok tidak baik, terpaksa akan kami tertibkan. Yang jelas jangan menggunakan tenda,” jelas Mei. (ams)

Dibaca : 808x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>