Rabu, 24 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Lanjutkan S-2, GTT SDLB Negeri Tuban Dipecat

Editor: samian
Kamis, 09 Agustus 2018
Ali Imron
Setiawan Gema Budi dikeluarkan dari sekolah tanpa alasan yang jelas.

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Salah satu Guru Tidak Tetap (GTT) di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri Tuban, Jawa Timur, bernama Setiawan Gema Budi mengaku mendapat perlakuan tak adil dari manajemen sekolah.

Pengajar yang menyandang tuna netra itu diputus kontraknya sepihak, gara-gara berkeinginan melanjutkan program studi magister (S-2) sambil mengajar.

"Dikeluarkannya saya dari SDLB juga belum jelas alasannya," ujar Gema kepada suarabanyuurip.com, melalui sambungan teleponnya, Rabu (9/8/2018).

Gema merasa dipersulit pihak sekolah, untuk kuliah sambil kerja mengajar. Padahal GTT yang telah mengabdi selama kurang lebih setahun ini, setelah koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban sudah diizinkan menempuh S-2.

Dengan kebijakan Kepala Sekolah (Kepsek), setiap GTT semestinya diberi hak untuk melanjutkan S-2nya. Kepsek cukup mengetahui, dan tidak perlu surat pengantar belajar dari Dinas Pendidikan.

"Jauh-jauh hari saya juga pernah negosiasi dengan Kepsek, dan bilang iya mengizinkan kuliah lagi," terang Gema.

Kendati demikian, saat dirinya sudah terdaftar menempuh S-2, pihak sekolah justru memecatnya tanpa alasan yang jelas. Dengan kondisi seperti ini, pihaknya akan menunut haknya tanpa berbuat salah tapi dipecat.

"Saya tidak dikasih SP3 tapi langsung sepihak," jelasnya.

Sekarang ini, Gema kebingungan mau berbuat apa. Dikarenakan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penyandang disabilitas masih digodok di DPRD Tuban. Apabila mau dibawa ke ranah hukum, tentu belum kuat karena belum ada payung hukumnya.

Pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Tuban ini, bercerita jika kasus serupa pernah terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Disana persoalan ini bisa diselesaikan, dengan hasil GTT bisa kuliah dengan tetap aktif mengajar.

Sekarang namanya sudah masuk di sistem, dan dia siap Pulang Pergi (PP) untuk bisa tetap mengajar di SDLB Negeri di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Tuban. Ditambah jadwal kuliahnya bukan setiap hari, melainkan hanya hari.

Jauh sebelum memutuskan kuliah S-2, juga sempat konsultasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Hasilnya dinas merestuinya, karena PNS saja disetujui apalagi yang guru kontrak untuk kuliah.

Sebatas diketahui, di SDLB Negeri Tuban memiliki sembilan GTT. Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jatim sudah turun langsung untuk lima GTT termasuk dirinya. Sedangkan lainnya SK ditandatangani oleh Kepsek.

Gema pertama kali mengajar sebagai tenaga sukwan di SDLB Negeri terhitung mulai tanggal 2 Agustus 2017, sesuai SK Kepsek SDLB N nomor: 424/31/414.042.001.51/2017. Ditambah Surat Tugas dari Kepsek Hendro Yulianto, kepada Gema nomor: 800/09/414.042.001/2018. Dimana surat tugas ini berlaku mulai 2 Januari 2018 sampai 31 Desember 2018.

Sementara SK dari Gubernur untuknya, bernomor:188/669/KPTS/013/2017, tentang penugasan GTT pada SMAN, SMKN, dan pendidikan khusus, dan pendidikan layanan khusus negeri Pemprov Jatim tahun anggaran 2017.

Dikonfirmasi terpisah, Kepsek SDLB Negeri Tuban, Hendro Yulianto, menampik kalau Gema diputus kontraknya gara-gara melanjutkan studinya. Keluarnya GTT tersebut atas kemauannya sendiri, bukan karena pihak sekolah.

"Siapa yang diputus kontrak, tidak ada itu," kelitnya.

Hendro juga menyebut, jika Gema kuliahnya setiap waktu, sehinga tidak bisa menyesuaikan jadwal sekolah. Jalan yang terbaik bagi GTT yang mengabdi setahun itu, adalah dengan keluar dulu.(Aim)

Dibaca : 11311x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan