Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Latih 152 Kader Desa Berseri

Editor: nugroho
Rabu, 02 Desember 2015
ririn wedia
TINGKATKAN SDM : Kader Desa berseri dari desa sekitar operasi JOBP-PEJ sedang membuat kerajinan dari bambu.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro  – Operator migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) menggelar lokalatih desa bersih, sehat dan mandiri (Berseri) bagi tujuh desa di sekitar wilayah penunjang operasinya di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro, Jawa Timur, mulai Selasa hingga Kamis, (1-3/12/ 2015).

Ke tujuh desa itu adalah Desa Ngampel dan Sambiroto, Kecamatan Kapas, serta Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Sedangkan di Kabupaten Tuban meliputi Desa Sukosari, Rahayu, Kebon Agung  dan Desa Bulurejo.

Kegiatan lokalatih ini dikuti 152 orang. Tujuannya dapat melahirkan kader-kader penggerak Desa Berseri.

Kegiatan ini digelar JOB PPEJ bekerjasama pemerintah desa  dengan menggandeng  Grahatma dan Pusdakota. Dua lembaga itu digandeng karena sudah terbukti melahirkan kader-kader penggerak desa di berbagai pelosok negeri.

"Kami ingin mencetak kader-kader penggerak Desa Berseri. Masing-masing desa mengirimkan 22 orang. Mereka dipilih berdasar penilaian awal yang dilakukan tim Grahatma  dan Pusdakota. Jadi yang dipilih yang diketahui memang punya minat," kata Field Admin Superintendent JOB PPEJ, Akbar Pradima ditemui di lokasi lokalatih di salah satu hotel, Rabu (2/12/2015).

Program Desa Berseri  ini mengkombinasikan kepedulian pada lingkungan dan kewirausahaan yang berbasis pada sumber daya lokal, berorientasi pada pengembangan aset-aset penghidupan komunitas serta mendayagunakan potensi serta inisiatif komunitas. Selain itu berorientasi pada peningkatan kualitas komuitas  yang berkelanjutan.

"Kualitas hidup masyarakat di sekitar daerah penunjang operasi harus meningkat dan berkelanjutan. Itu penting karena migas itu tidak terbarukan. Jadi kami ingin saat migas sudah habis, kualitas kehidupan masyarakat tidak menurun, tetapi justru meningkat," tegas Akbar.

Fokus program ini dititikberatkan pada lima bidang yakni pengolahan sampah menjadi pupuk cair dan padat, pembuatan pakan ternak, bank sampah organik, pengembangan home industri kreatif ramah lingkungan dan berbasis 3 R serta pemanfaatan pekarangan untuk budidaya holtikultura.

Untuk program pakan ternak, JOB PPEJ mengarahkan pada pelatihan pembuatan pakan lele sesuai dengan kondisi masyarakat yang sudah punya ternak lele. Namun tujuan lokalatih ini bukan sekedar bagaimana produksi lele meningkat dan peternak lele bisa mengurangi anggaran pembelian pakan ternak.

Lokalatih ini juga ingin membangun kesadaran masyarakat agar lele itu bisa dimanfaatkan juga oleh masyarakat untuk meningkatkan gizi keluarga mereka. Karena itu, dalam pelatihan ini peserta dilatih bagaimana menjadikan lele menjadi makanan keluarga yang lebih menarik untuk anak-anak.

"Jadi usaha peningkatan kesejahteraan bukan hanya dengan menambah pendapatan, tetapi bagaimana masyarakat bisa mengurangi biaya lauk pauk karena bisa memanfaatkan produk mereka secara maksimal," katanya.

Sementara untuk pengembangan home industri produk olahan akan memanfaatkan pelepah pisang dan bambu. Alasannya, dua bahan baku yang banyak ditemui di 7 desa di sekitar daerah penunjang operasi  JOB PPEJ.

"Bambu dan pelepah pisang belum termanfaatkan Padahal, bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat jika dikelola menjadi industri rumah tangga. Tentu butuh kreatifitas," katanya.

Sementara program pemanfaatan pekarangan untuk budidaya hortikultura ditawarkan karena masyarakat cenderung hanya mengandalkan penghasilan dari bertani di sawah. Padahal pekarangan mereka juga bisa menghasilkan uang, seperti produk-produk pertanian yang bernilai ekonomi, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga mereka sendiri.

"Dalam pemanfaatan pekarangan untuk budidaya hortikultura ini, kami akan melatih amtara lain agroponik dengan mamanfaatkan barang-barang bekas menjadi bermanfaat seperti gelas minuman kemasan untuk tanaman gantung dan lain-lainnya," imbuh Akbar.

Salah seorang peserta, Dasri dari Desa Kebun Agung, Kecamatan Rengel, mengatakan, sangat memanfaatkan waktu yang diberikan untuk mengikuti pelatihan ekonomi kreatif ini. Dia berharap, dari pelatihan ini kemudian bisa mengembangkan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat sekitar.

"Bermanfaat sekali, sebelumnya belum pernah mempunyai pengalaman seperti ini," kata wanita yang memiliki usaha toko bahan kebutuhan sehari-hari di rumah ini.

Dalam kesempatan ini, dia mengikuti pelatihan membuat bank sampah. "Sampah yang banyak disekitar desa sendiri itu dibuat pupuk kompos, non organik bisa didaur ulang," katanya. 

Senada disampaikan Anik, Warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas. Ia mengaku sebenarnya tidak sadar banyak barang yang dianggap tidak banyak bermanfaat yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan penunjang ekonomi. Salah satunya adalah bambu.

"Dengan seperti ini bisa memanfaatkan potensi desa yang sudah ada, jadi bahan tidak beli. Desa Sambiroto banyak bambu yang bisa dimanfatkan," pungkas Anik yang mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu untuk tempat tisu, tempat buah, maupun tempat sampah.(rien)

 

Dibaca : 738x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan