Senin, 28 Mei 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Alasan Kang Yoto Dukung Istrinya di Pilkada

Mahfudhoh Maju Karena Mencintai Rakyat Bojonegoro

Editor: nugroho
Sabtu, 03 Februari 2018
ririn wedia
BACABUP BOJONEGORO : Mahfudhoh dan Kang Yoto foto bersama warga Bojonegoro saat Festival Salak Wedi.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, membeberkan alasannya mendukung istrinya, Mahfudhoh, maju sebagai bakal calon bupati dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bojonegoro pada 27 Juni 2018 mendatang. Selain nama Mahfudhoh sudah tidak asing lagi di masyarakat, terutama kalangan ibu-ibu PKK, Suyoto berkeyakinan istrinya mampu meneruskan perjuangannya untuk mencintai masyarakat Bojonegoro.

“Kenapa saya dukung Bu Yoto, karena saya tidak ingin jadi penonton,” ujar Suyoto.

Bupati dua periode yang jabatannya akan habis pada Maret 2018, itu menginginkan dengan majunya Mahfudhoh di pentas politik ini dapat memberikan dan mengawal perubahan supaya terjadi keseimbangan baru yang lebih baik di Bojonegoro.

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini mengakui majunya Mahfudhoh dalam pesta demokrasi lima tahunan ini memunculkan anggapan masyakarat terhadap dirinya  yang power sindrom atau takut kehilangan kekuasaan. Selain itu ada juga yang menyebut dirinya haus kekuasaan.

“Saya bilang, iya! saya memang menginginkan kekuasaan, tapi kekuasaan itu untuk mencintai rakyat, bukan untuk diri saya dan keluarga,” tegasnya.

Kang Yoto mengungkapkan, Mahfudhoh sebenarnya sejak awal tidak punya keinginan masuk dalam dunia politik. Karena itulah PAN kemudian mengusung Kuswiyanto sebagai kandidat dalam Pilkada Bojonegoro. Namun karena dua kali calon wakilnya mundur, maka nama Mahfudhoh kemudian muncul.

"Saat masyarakat bingung dari simulasi itu, nama Bu Yoto kemudian muncul," ucapnya. 

Suyoto juga menampik anggapan politik dinasti yang muncul di pikiran banyak orang pasca pencalonan istrinya. Menurut dia, politik dinasti ini sudah banyak dilakukan di berbagai negara, termasuk salah satunya di Amerika Serikat yang dianggap sebagai champion demokrasi. 

"Dinasti politik itu cocok jika itu otoriter di alam demokrasi. Dinasti akan menjadi jelek jika menjadi alat untuk kolusi, korupsi, dan nepotisme. Nepotis ini bisa mengajak siapapun, bukan hanya keluarga," jelasnya.

Bojonegoro sekarang ini, kata Kang Yoto, baru tahap berjalan. Karena itu sangat mudah untuk kembali menjadikan orang miskin di Bojonegoro.

"Apabila masyarakat Bojonegoro ingin melihat satu-persatu orang menjadi miskin kembali itu mudah. Maka ubahlah kebijakan kesehatan, ubahlah kebijakan bidang pendidikan, jangan kelola banjir, jangan kelola pertanian, jangan kelola irigasinya, jangan beri bantuan alat pertanian atau alsintan, jangan pakai APBD untuk rakyat, pakailah untuk mikir birokrasi dan konco konconya birokrasi. Jangan kelola pemerintahan ini bersama rakyat, tapi kelola dengan kelompoknya dan kroninya," tuturnya.

“Sekarang kesempatan kita, apakah kita akan membiarkan hal itu terjadi, ataukah kita akan jadi bagian dari sejarah, menciptakan perubahan dan menjaga perubahan,” pungkas Kang Yoto.

Untuk diketahui, Mahfudhoh Suyoto mendapat rekomendasi dari Partai Nasional Demokrat (NasDem). Surat rekom tersebut diberikan hari ini serentak di Surabaya. Mahfudhoh akan dipasangkan dengan Kuswiyanto dari PAN. Pasangan tersebut diharapkan bisa menjalankan cita-cita besar Partai NasDem di Bojonegoro, yakni restorasi Indonesia untuk Gerakan Perubahan. (rien)

Dibaca : 1026x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Sabtu, 03 Februari 2018 14:58
Telek, to ngomong opo kue
andika
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan