Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kisah Dirut CV Jawa Express

Mantan Anak Jalanan yang Sukses Dirikan Perusahaan

Editor: nugroho
Rabu, 28 Januari 2015
SuaraBanyuurip.com
Hadi, Direktur CV Jawa Expres sedang berposes di depan kantornya di Jalan Raya Bojonegoro - Cepu.

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Takdir hidup seseorang siapapun tidak bisa menebaknya. Sekalipun itu mantan anak jalanan yang memiliki masa lalu kelam. Namun jika Tuhan menghendeki apapun bisa terjadi. 

Seperti jalan hidup yang dilalui Hadi, warga Desa Manukan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dulunya dia seorang penjahat yang lekat dengan kekerasan jalanan. Ia kerap berpindah-pindah dari satu terminal ke terminal lainnya.

Namun masa lalu itu kini dikubur dalam-dalam. Niat hadi ingin keluar dari lembah hitam begitu besar. Karena itulah Ia mendirikan sebuah perusahaan di bidang jasa konstruksi yakni CV. Jawa Express pada kisaran tahun 2009 silam. 

Perubahan terhadap jalan hidup Hadi bukan tanpa sebab. Lembaran baru itu muncul berawal adanya seminar bidang kontraktor yang diadakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sekira tahun 2008 seilam. Dari mengikuti seminar itulah titik balik kehidupan Hadi mulai berbalik.

Keinginannya untuk meninggalkan dunia hitam semakin kuat. Terlebih sebagai warga ring 1 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, menjadikan angan-angannya untuk berkiprah di dunia konstruksi semakin kuat. Karena pasti banyak peluang pekerjaan yang bisa dikerjakan.  

Hadipun mulai belajar di dunia kontraktor selama setahun. Kemudian dia mendirikan CV Jawa Express tahun 2009. Usaha yang dirintisnya dari nol itu tidak langsung berjalan mulus. Banyak proses pahit yang harus dilalui. Bahkan usahanya sempat gulung tikar sampai satu tahun. 

"Pertama saya memulai ngerjakan proyek migas di lokasi sumur kedung keris. Karena baru belajar, saya bingung banyak tantangan yang tak hadapi. Bahkan saya tidak dapat untung tapi malah gulung tikar," kata Direktur CV Jawa Express, Hadi membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com. 

Karena telah terbiasa dengan hidup yang keras, kegagalan yang dialami, tak membuat Hadi patah arang. Dengan berbekal semangat yang kuat Ia bangkit dari keterpurukan. Hadi terus berjuang mewujudkan impiannya untuk bisa terlibat di proyek. Dia pun ikut mengerjakan pembangunan kantor EMCL di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu.

Dari ikut membangun kantor EMCL itulah, sedikit-demi sedikit Hadi mulai  bisa memahami bagaiamana cara mengerjakan proyek, sekalipun belum secara detail. Berbekal pengalaman itu, dia pun mencoba mengadu nasib dengan ikut mengerjakan proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (Engineering Procurement and Construction/EPC)-1 dan 5 Banyuurip, Blok Cepu yang bersentra di Kecamatan Gayam, pada 2011 lalu.

Ada beberapa bekerjaan yang dikerjakan CV Jawa Express. Yakni pekerjaan pengurukan dan lain sebagainya sebagai subkonkontraktor di proyek EPC-1 Banyuurip yang dilaksanakan PT Tripatra - Samsung.

Tak lama kemudian, Cv Jawa Express juga mendapat pekerjaan pengurukan dan pekerjaan lainya di proyek EPC-5 Banyuurip yang dilaksanakan PT Rekayasa Industri - Hutama Karya (Rikind-HK). Kemudian ikut pula minta bagian jatah pengurukan dilokasi EPC-5 dan pengerjaan pembangunan lainnya.

Dengan pengalamannya berkiprah di proyek migas, nama CV Jawa Express kian berkibar. Beberapa pekerjaan di proyek Banyuurip yang hingga saat ini dikerjakan CV Jaw Express masih ditangani. Di antaranya adalah suplier pengurukan, pembangunan water pone (penampung air kecil), penanaman rumput dibendungan water basin, saluran air, penanganan sampah organic, pembongkaran jalan RWI dan lain-lain.

Meski telah terbilang sukses dalam berkiprah di dunia konstruksi, namun CV Jawa Express tak melupakan asalnya. Perusahaan ini selalu melibatkan tenaga kerja lokal dalam melaksanakan aktifitasnya. Bahkan CV Jawa Express tidak pernah menunggak pembayaran gaji yang menjadi hak para pekerja.  

"Saya terus belajar untuk tidak pernah mengeluh dengan berbagai resiko apapun yang menimpa. Tetap harus semangat, komitmen dan tanggungjawab dalam melaksanakan pekerjaan. Alhamdulillah saya bersyukur dengan keadaan yang saya terima saat ini meski masih perlu banyak belajar lagi agar kedepan semakin bertambah baik lagi," tegas pria yang juga tokoh masyarakat Desa Manukan itu.

Hadi berharap, EMCL maupun kontraktornya harus tetap mematuhi peraturan daerah (Perda) No.23/2011 tentang kandungan lokal. Karena itu ia bersama kontraktor lain dan warga akan terus mengawalnya  karena regulasi inilah yang melindungi masyarakat dan memberikan kesempatan kepada kontraktor lokal untuk terlibat secara maksimal di proyek migas di Bojonegoro.

“Sehingga masyarakat lokal tidak sekedar jadi penonton tetapi juga  bisa terlibat baik di project EPC Banyuurip maupun proyek Unitisasi sumur Gas Jambaran - Tiung Biru  nantinya,” tandas pria kelahiran 10 Oktober 1975 ini.

Karena itu dirinya bersama warga maupun kontraktor lokal ring satu siap membantu memberikan dukungan dan pengamanan kelancaran proyek negara ini.  Dengan catatan, operator maupun kontraktornya tetap mengacu Perda Konten Lokal maupun aturan lainnya. Namun  jika operator maupun kontraktor tak patuh pada aturan yang ditetapkan, maka dirinya yang paling terdepan melakukan protes.

"Ini awal yang baik bagi kita semua. Karena itu, mari kita manfaatkan perda yang benar – benar mendukung konten lokal ini," ajaknya.

Namun demikian Hadi menyadari, jika proyek migas ini membutuhkan keterampilan dan kemampuan khusus. Karena itu, operator dan kontraknya perlu memberikan pendampingan dan pelatihan sebagai bentuk memberdayakan masyarakat dan kontraktor lokal agar kedepan dapat bersaing dengan perusahaan dari luar daerah.

Menurut Hadi, selama mengerjakan proyek Banyuurip, Blok Cepu masih ada kendala yang dirasakan. Salah satunya adalah invoice yang sering terlambat berbulan-bulan. Kondisi ini membuat kontraktor lokal kedederan. Oleh karena itu, dia berharap EMCL dan kontraktor pelaksananya lebih mempermudah pencairan taguhan agar pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor lokal bisa tetap bisa berjalan lancar.

Selain itu, lanjut dia, juga berkaitan dengan pengerjaan proyek senila Rp50 juta samapai Rp200 juta yang sifatnya penunjukan langsung (PL) perlu diberikan kontraktor lokal sekitar Banyuurip dan jangan diberikan kontraktor dari luar daerah. Karena selain banyak kontraktor lokal yang mampu mengerjakan pekerjaan tersebut, juga akan banyak menyerap tenaga kerja lokal.

"Melibatkan kontraktor lokal ini sebagai bentuk pemberdayaan dan meminimalisir gejolak sosial. Karena dengan dilibatkan, kontraktor lokal akan bisa belajar untuk menjadi perusahaan yang profesional," tandas Hadi.

Dengan kesibukannya menjadi kontraktor proyek Banyuurip sekarang ini, bapak dua anak itu juga tidak meninggalkan kegiatan sosial kepada warga sekitar. Salah satunya menyisihkan sebagian hasilnya untuk diwujudkan dalam bentuk santunan kepada anak-anak yatim piatu. Hal ini dia lakukan juga sebagai penebus dosa-dosa dimasa lalu.

"Kegiatan ini saya lakukan setiap tahun. Bahkan juga sewaktu-waktu. Dalam waktu dekat ini saya akan syukuran juga atas berdirinya PT Jawa Express Indo Gas (JEIG) yang saya pegang pula," pungkas Hadi. (sam/ADV)

Dibaca : 2829x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Selasa, 07 April 2015 21:08
mantab pak berita Inspirasinya!
Ahmad Arifin
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan