Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kisah Minto, Penjaga SPBU Plaosan

Melatih Reog Hingga Dirikan Kelompok PPKS

Editor: nugroho
Selasa, 26 Agustus 2014
totok martono
KELOMPOK PPKS : Minto bersama rekan-rekannya di PPKS sesaat sebelum tampil dalam sebuah hajatan.

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan - Menjadi pelatih sekaligus pemain reog bukanlah sebuah profesi bagi Minto, (31), namun lebih pada penyaluran jiwa seni. Karena itulah meski dia telah bekerja sebagai tenaga kebersihan, tetap tak bisa meninggalkan kesenian tradisional itu.

Jiwa seni, sepertinya, telah menyatu dalam diri Minto. Di sela-sela kesibukannya menjadi tenaga kebersihan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPB) Plaosan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Minto masih meluangkan waktunya bermain reog.

Padahal, di SPBU tersebut, lelaki asal Desa Plaosan itu juga merangkap sebagai penjaga SPBU. Seabrek aktifitas ia lakukan setiap harinya mulai dari membersihkan sampah, toilet dan musholla.

Namun pekerjaan itu tak membuatnya lelah untuk menguri-uri kesenian tradisonal. Saat berada di tengah-tengah kelompok Paguyupan Putro Karyo Singo (PPKS), Minto menjadi sentral dari kelompoknya karena dikenal piawai dalam membawakan semua jenis tarian. MUlai dari tari Merak, Remo, Jatil, Bujang Anom hingga Dadak merak. Bahkan Minto memegang peran paling vital karena dirinya yang selama ini menjadi pembarong (membawa barongan).

Barongan berkepala singa dengan hiasan bulu merak berukuran besar itu beratnya mencapai puluhan kilogram. Belum lagi jika ada ‘penumpang’ yang naik di atas kepala barongan beban yang harus dipikul Minto bisa mencapai ratusan kilogram.  Untuk menyangga beban seberat itu, Minto menggunakan gigi untuk mengusung barongan dan penumpangnya.

“Ada ritual khusus sebelum bermain ( menjadi pembarong) yaitu puasa mutih sehari semalam,” kata Minto membuka cerita kepada suarabanyuurip.com.

“Selain itu ada doa-doa khusus yang harus dibaca agar selalu diberkati keselamatan oleh Tuhan pemilik kuasa,” lanjut dia.

Bergulat dengan kesenian reog telah dijalani Minto sejak tahun 2000. Sebelumnya dirinya bergabung dengan beberapa grup reog ternama di Jawa Timur. Pada perjalanannya ada seorang kenalanannya bernama Buntana mengajaknya untuk mendirikan grup kesenian reog.

Dari situlah akhirnya terbentuklah Paguyupan Karyo Singo Guna. Buntana sebagai pembina sedang Minto sebagai pelatih sekaligus tokoh sentral.

“Saya bersyukur, jiwa seni saya bisa tersalur lewat paguyupan ini,” tutur Minto.

Di paguyupan terdapat 32 anggota terdiri dari 10 Wiyogo (penabuh gamelan) dan 22 pemain. Selama 14 tahun berjalan, paguyupan Karyo Singo Guna sudah ratusan kali pentas. Baik tanggapan hajatan maupun undangan dalam berbagai kegiatan resmi.

“Kalau wilayah Lamongan sudah njajah milangkori (sudah dimasuki semua), wilayah lainnya yaitu Bojonegoro, Tuban dan Gresik,” kata Minto, mengungkapkan.

Tanggapan yang ramai biasanya pada bulan Agustus dimana banyak instansi atau desa yang merayakan agustusan. “Tarifnya Rp6 juta jauh atau dekat dengan durasi waktu sekitar 3 jam,” papar Minto.

Meski sibuk tanggapan, Minto pantang mengabaikan tugas utamanya di SPBU. Dirinya tidak ingin ada yang dikorbankan antara kerja dan penyaluran hobi seninya.

“Saya sudah cukup betah kerja di SPBU meski pangkatnya paling rendah. Paling tidak setiap bulan saya punya gaji UMK untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan dua anak,” cetus Minto.

Pengawas SPBU Plaosan, Kenthus dikonfirmasi terpisah mengatakan, Minto termasuk karyawan yang rajin dan memiliki semangat kerja tinggi.

“Melalui media anda, mungkin ada perhatian dari Pertamina untuk mas Minto yang selama ini konsisten nguri-nguri kesenian tradisional,” harap Kenthus. (tok)

 

Dibaca : 1701x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan