Selasa, 19 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Memberi Inspirasi, Membangun Mimpi Anak Negeri

Editor: nugroho
Kamis, 20 Agustus 2015
ahmad sampurno
BERI INSPIRASI : Mischa Christy, pemrakarsa berdirinya Gesit Anak Indonesia berada di tengah-tengah siswa SD.

SuaraBanyuurip.com

Anak adalah generasi emas yang memegang masa depan Indonesia. Jika sejak dini mereka sudah banyak mendapatkan inspirasi dan termotivasi untuk jadi hebat, maka bukan mimpi jika dikemudian hari nanti, Indonesia akan jadi Hebat.

Gerakan Sejuta Inspirasi (Gesit) Anak Indonesia adalah organisasi independen nonprofit yang  bergerak di bidang pendidikan yang ada di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Namun pendidikan yang diberikan adalah memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak yang ada di pelosok desa.

Gesit Anak Indonesia tidak seperti kebanyakan organisasi atau lembaga pendidikan pada umumnya yang menunggu peserta atau mencari peserta untuk dididik. Gesit Anak Indonesia, langsung terjun ke lapangan di lokasi-lokasi pelosok desa yang tidak mendapatkan pemerataan pendidikan. Baik dari segi pengajar maupun fasilitas.

Mischa Christy (26), adalah pemrakarsa berdirinya Gesit Anak Indonesia. Saat ditemui di tempat kerjanya di salah satu bimbingan belajar (Bimbel) yang ada di Cepu, Mischa sapaan akrabnya, mulai bercerita awal berdirinya Gesit Anak Indonesia.

Menurutnya, berdirinya oraganisasi tersebut berawal dari kecintaannya terhadap anak-anak serta berkarir di bimbel. Dari situlah akhirnya muncul keinginan untuk tahu banyak hal tentang dunia pendidikan.  Sebab dari profesinya di bimbel tersebut, menuntutnya untuk datang ke sekolah-sekolah baik dari SD, SMP, mupun SMA.

Dari kunjungannya itu, dia di hadapkan dengan kenyataan pahit dunia pendidikan saat ini. Bahwa pemerataan pendidikan di wilayah Kecamatan Cepu adalah kurang.

“Itu menurut pengamatan saya,” kata Mischa kepada suarabanyuurip.com.

Pengamatan Miscah bukan tak berdasar. Beberapa bukti menunjukan jika kriteria kelususan Minimal (KKM) antar sekolah satu dengan yung lain di satu wilayah banyak yang berbeda. “Antara yang di pusat kecamatan dengan yang di pinggiran atau perbatasan kecamatan sudah nampak berbeda, baik secara akademik (dari sisi para pengajar) maupun secara fasilitas,” ujarnya heran.

Kondisi tersebut membuatnya bertanya-tanya, “Ini baru di Cepu, yang notabene adalah salah satu kecamatan yang cukup maju, lantas bagaimana dengan kecamatan-kecamatan sekitar yang lebih pelosok?”.

Kondisi tersebut menuntutnya untuk tak tinggal diam. Dengan modal keprihatinan dan rasa penasaran, Mischa mulai terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk beberapa kali ikut mengajar dalam ruang kelas.

“Dari sekian kali mengajar, saya merasa tetap belum puas, dan masih merasa belum melakukan apa-apa untuk pendidikan di wilayah ini,” ujarnya.

Hingga akhirnya Mischa menemukan satu kalimat yang diterbitkan oleh bimbel di mana di bekerja. “Tugas guru yang sebenarnya kepada siswa adalah memberi tahu sehingga tahu, memberi mereka cara supaya bisa, tetapi yang lebih dahsyat adalah memberi Inspirasi tentang kesuksesan, sehingga siswa termotivasi untuk mencari tahu dan mencari bisa,” katanya.

Dari kalimat itulah, dengan konsep “MLM Kebaikan”, Mischa bercita-cita bisa memberikan banyak inspirasi bagi anak-anak Indonesia. “Dengan membentuk satu komunitas atau gerakan bernama GESIT(Gerakan Sejuta Inspirasi ) Anak Indonesia,” ujar wanita berhijab ini.

Dari situlah berawal dari “saya” menjadi “kami”.  “Kami Datang ke sekolah-sekolah, dari yang di pusat kota sampai ke pelosok untuk memberi motivasi dan memberi inspirasi bagi anak-anak Indonesia,”  ucap Mischa.

Komunitas ini kemudian melakukan kunjungan rutin di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar (SD) di wilayah Blora. Mulai dari Cepu, Kedungtuban, Randublatung, hingga merambah sekolah di Bojonegoro seperti Kasiman, bahkan Kabupaten Tuban di antaranya Senori, sampai ke kota.

“Minimal dua bulan sekali kami jadwalkan untuk pengadaan kunjungan ke pelosok desa, untuk sekedar baksos maupun mengisi kelas motivasi untuk SD disekitarnya,”  ujar Mischa, mengngkapkan.

Yang harus dipahami, menurut dia, menginspirasi tidak hanya sekedar memberi kalimat-kalimat ataupun afirmasi-afirmasi positif pada seseorang. Namun lebih baik lagi jika dicontohkan dengan tindakan langsung.

Ada beberapa alasan Gesit Indonesia memilih “anak-anak” sebagai sasaran. Menurut dia, emas dapat ditemukan di mana saja, asal  berniat sungguh-sungguh untuk menemukannya dan membentuknya, maka  generasi emas inilah yang nantinya memegang masa depan Indonesia.

“Jika sejak anak-anak mereka sudah banyak mendapatkan inspirasi dan termotivasi untuk jadi hebat, maka tidak ayal jika dikemudian hari nanti, Indonesiaku pun akan jadi Hebat,” pungkasnya dengan penuh semangat.(ahmad sampurno)

 

Dibaca : 939x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan