Kamis, 13 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Sekolah Jurnalistik di Sekitar Lapangan Migas Mudi

Membincang Proses Dibalik Penyajian Berita Televisi

Editor: samian
Selasa, 09 Oktober 2018
Ali Imron
SEKOLAH JURNALISTIK : Salah satu pemateri Sekolah Jurnalistik, Khusni Mubarok memaparkan materi membuat video jurnalistik.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Di balik berita televisi yang biasa dilihat masyarakat setiap saat, ternyata ada proses yang rumit untuk menyajikannya. Tahap demi tahap dikupas oleh Khusni Mubarok salah satu reporter JTV, saat memberikan materi Sekolah Jurnalistik di SMA Al Mustawa Desa Prambontergayang, Kecamatan Soko program sinergi Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field dan Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban, Jawa Timur.

"Kita itu fana. Sedangkan tulisan, foto dan video itu abadi," ujar Mubarok, kepada suarabanyuurip.com selepas memberikan materi kepada 30 pelajar, Selasa (9/10/2018).

Sebelum membincang teknis, pria yang berdomisili di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban ini mengulas pengertian Jurnalistik. Menurut ilmu komunikasi jurnalistik adalah, suatu bentuk komunikasi yang berbentuk berita atau ulasan berita tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual dengan secepat-cepatnya.

Tokoh pers, Adinegoro juga mengemukakan pendapatnya, bahwa jurnalistik merupakan kepandaian mengarang untuk memberi pekabaran pada masyarakat dengan secepat-cepatnya agar tersiar seluas-luasnya.

Sedangkan televisi adalah sebuah media telekomunikasi yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak baik hitam putih maupun berwarna. Adapun sejarah singkat televisi pertama kali ditemukan oleh Jhon Logie Baird warga Skotlandia pada 1888. Waktu itu ditemukan citra satelit bisa ditransmisikan.

Pada awal masa perkembangannya di 1920, televisi menggunakan gabungan teknologi optik, mekanik dan elektronik untuk merekam, menampilkan dan menyiarkan gambar visual. Televisi baru berkembang pesat sejalan dengan teknologi elektronik pada 1946.

"Di Indonesia siara televisi hitam putih pertama dimulai 1962. Booming televisi di Tanah Air pada 1991 ketika RCTI mulai mengudara," jelas bapak satu anak ini.

Lebih dalam lagi, peserta Sekolah Jurnalistik diajak mengenali jenis-jenis berita. Mulai hard news, biasa disebut berita peristiwa. Berita ini terikat waktu, tempat kejadian, dan pasti terjadi kejadiannya. Misalnya kebakaran, banjir, gempa, kecelakaan, pembunuhan, demo dan lain-lain.

Disamping itu ada soft news, bukan berita peristiwa dan tidak terikat waktu biasa, sehingga tetap menarik diliput atau ditayangkan kapan saja (time less). Berita jenis ini yang dikembangkan di media televisi adalah berita ringan atau feature.

"Ragam feature meliputi sketsa human interest, profil, pariwisata, lingkungan hidup, sosok unik, sejarah, pengalaman pribadi, Iptek, dan kesehatan. Intinya apapun bisa dibuat feature," tegas pria yang menempuh pasca sarjana di Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Adapun tahapan produksi berita televisi mulai pra produksi. Ditahap ini ada rapat redaksi untuk penentuan ide, atau gagasan tentang isu terhangat. Dilanjutkan dengan pengumpulan data peliputan, penentuan angle, memilih narasumber, menyiapkan pointer pertanyaan, merinci kebutuhan gambar, dan pengecekan perlengkapan serta koordinasi dengan tim.

Tahap produksi meliputi, peliputan, editing video, penulisan naskah berita, video dan naskah diserahkan ke redaksi. Tahap pasca produksi meliputi, editing naskah dan video dari reporter. Dilanjut pengisian suara atau dubbing/manipulating, title/subtitle, efek, mixing, dan preview.

"Terakhir on air bisa berita atau evaluasi berita," terangnya.

Ada tiga jenis kamera yang bisa digunakan untuk mengambil video jurnalistik, mulai kamera studio, kamera portable/handycamp, dan kamera handphone. Sedangkan cara mengambil gambar berita dimulai sudut pengambilan gambar, memperhatikan ukuran gambar, dan gerakan kamera.

"Di akhiri dengan editing video berita televisi menggunakan berbagai aplikasi mulai adobe premier, AVS. Bagi pemula lebih mudah memakai aplikasi windows movie maker," tandasnya.

Usai menerima materi video jurnalistik, salah satu peserta, Eri Nurmawati, mengaku ingin mendalami pengetahuan  membuat berita video. Sekalipun baru pertama kali mendapat penjelasan langsung dari reporter media, tapi dirinya lumayan paham karena tahap-tahapannya mudah dipahami.

"Tadi enak penjelasannya. Lugas dan tidak bertele-tele," pungkasnya. (Aim)

Dibaca : 392x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>