Kamis, 23 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Memungut Rembulan di Tengah Pesta Bhayangkara

Editor: nugroho
Sabtu, 23 Juni 2012
Edy Purnomo
Pemulung : Seorang pemulung tengah memunguti sampah plastik dan kertas di tengah HUT Bayangkara di alun-alun Tuban.

SISA pagi masih terasa ketika lelaki paruh baya memasuki alun-alun kota. Seulas senyum mengembang di antara bibir hitam. Dari celah topi yang bertengger di kepalanya, terlihat sorot mata yang tajam.

Pria dengan kaos butut dan celana kusam tanpa alas kaki itu melangkah tenang. Tanpa rasa canggung. Sikapnya pun tak gamang ketika memunguti sampah kertas dan plastik yang bercecer, diantara kaki-kaki ribuan orang.  Hiruk pikuk pengumumam undian berhadiah dalam helat HUT Bhayangkara ke 66 yang digelar Polres Tuban, Sabtu (23/6/2012), pun tak dia hiraukan.

Penuh semangat, pemulung yang kemudian diketahui bernama Parman (38), itu memasukkan sampah ke dalam karung. Karung yang tersampir di pundaknya pun perlahan sarat muatan. Sesekali dia menyibak kerumunan orang yang berpakaian necis disana. Terlihat berbeda, namun tak menjadi problema baginya.

“Namanya juga mencari makan, Mas,” ujar Parman mengawali ceritanya.

Seiring hangatnya mentari pagi, obrolan kami pun berlanjut semakin akrab. Sesekali saya yang mengikuti dari belakang harus menunggu, ketika Parman membungkuk memungut sampah di depannya.

Duda satu anak akibat kematian istrinya beberapa tahun lalu ini, menumpang hidup bersama orangtuanya yang sudah sepuh di wilayah Semanding, Tuban. Keadaan memaksa Parman berperan ganda, sebagai pencari nafkah dan pendidik bagi putri tunggalnya.

Seperti biasa, pemulung yang menggeluti profesinya selama 8 tahun ini, selalu mendatangi acara-acara besar di alun-alun kota. Termasuk juga di tempat keramaian lain. Baginya serakan sampah adalah berkah yang diberikan oleh Tuhan untuk dipungutnya.

Untuk hari-hari biasa, dia berkeliling sepuluhan kilo meter keliling wilayah Tuban dengan sepeda ontel bututnya. Dalam sehari dia mengaku mampu mengumpulkan sekitar 50 Kg atau setara denganRp 25.000, hitungannya kisaran harga Rp 500/Kg kepada salah satu pengepul yang ada di wilayah Dusun Merik, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Kota, Tuban. Sedangkan apabila ada event besar seperti ini Parman bisa memperoleh penghasilan tambahan sekitar Rp 15.000.

“Setelah disini selesai, saya baru berkeliling lagi, Mas,” ujar Parman.

Beban hidup yang semakin menghimpit membuat Parman tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menghitung setiap rupiah dari anggaran yang dikeluarkanya.

“Putri saya mulai SMP kelas 2, Mas,” ujar Parman yang bercerita tentang putrinya, sambil menanggalkan topi kemudian mengipaskannya di bawah rindang pohon Beringin di sudut Alun-alun Tuban.

Dengan mata menerawang, Parman berucap kalau sebenarnya putrinya malu dengan pekerjaan yang dilakoninya saat ini. Anak semata wayang itu pernah menyarankan untuk mencari pekerjaan lain.

Akan tetapi harapan tinggal harapan, karena selama ini dia sama sekali tidak mempunyai keahlian apa-apa. Demi menjaga perasaan putrinya, dia sebisa mungkin menghindar saat bertemu dengan putrinya sedang di jalan bersama teman-temannya. Atau bahkan, saat teman-teman putrinya berkunjung ke rumahnya.

Disisi lain, Parman merasa sangat bersyukur melihat perkembangan pendidikan putrinya. Karena kecerdasan putrinya sangat bisa diandalkan. Bahkan putrinya bisa melanjutkan sekolah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun, karena putrinya sering mendapatkan juara di kelasnya.

Pernah dia menitikkan air mata saat putrinya menyarankan dia untuk menikah lagi. Putinya merasa kasihan melihat kondisinya yang sudah lama membujang.

“Bapak nikah lagi saja,” ujar Parman menirukan ucapan putrinya saat itu. Sang putri tak tega melihat ayanya terus menduda sejak ibunya meninggal.

Namun entah kenapa hingga saat ini keinginannya untuk menikah lagi belum kunjung tiba. Pernah sesekali muncul hasratnya untuk beristri lagi. Namun saat itu juga langsung pupus karena melihat kondisi ekonominya yang sangat jauh dari kata mapan. Di samping dia selalu teringat pada masa depan putri semata wayangnya.

“Yang penting anak saya bisa sekolah dan hidup layak, Mas,” ujar Parman seraya menambahkan, jika anaknya pernah berkata bercita-cita membuatkannya sebuah rumah.

Butiran air mata sudah tak mampu lagi dipendamnya, dengan senyum dipaksakan dia bangkit berdiri dan berpamitan untuk kembali memungut sampah. Sejenak masih terlihat punggungnya, kemudian menghilang diantara kerumunan orang-orang yang berjoget dan bersuka ria mengikuti irama dangdut yang disediakan panitia. (edy purnomo)

Dibaca : 571x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Kamis, 20 September 2012 11:43
aq sangat terenyuh sekali
yusefinia
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan