Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menag Dorong Tonjolkan Integrasi Ilmu Quraniyah

Editor: samian
Jum'at, 18 September 2015

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan - Kementerian Agama (Menag) melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Islam kini tengah getol mendorong Universitas Islam Negeri (UIN) agar menonjolkan integrasi Ilmu Quraniyah dengan Ilmu Kauniyah.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI, Amsal Bakhtiar saat menjadi keynote speaker dalam Workshop Al Qur’an dan Sains, Islamisasi, Integrasi atau Sumber Etik Ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlah, Sendangagung, Paciran beberapa waktu.

Workshop sendiri sebagai langkah awal Pondok pesantren (Ponpes) yang diasuh KH M Dawam Sholeh untuk mendirikan Pendidikan Tinggi Agama Islam di Al Ishlah. Hadir dalam workshop perwakilan Asia Tenggara dari International Institute of Islamic Thought (IIIT) Habib Chirzin.

Menurut Amsal Bakhtiar, jika Al Ishlah mampu merumuskan konsep integrasi ilmu yang berasal dari ayat-ayat Al Quran (Quraniyah) dengan ilmu yang terhampar di jagat raya ini (Kauniyah), akan menjadi kontribusi yang bagus bagi dunia Islam. UIN sedang menonjolkan integrasi Ilmu Quraniyah dengan Ilmu Kauniyah.

“Integrasi ini masih dalam proses mencari bentuk, dan belum pada kesimpulan yang komprehensif. Jika ada unsur distingtif, pembeda, dari Al Ishlah melalui workshop ini, dengan konsep dari perguruan tinggi islam swasta lainnya, itu akan sangat bagus sekali, “ kata dia.

Dijelaskan, dasar integrasi itu karena secara historis, sejak abad pertama hijriyah. Islam bisa berkembang pesat, karena memahami dengan baik integrasi ini. Dicontohkan Ibnu Sina yang ahli fiqih dan sekaligus seorang dokter hebat.

“Ulama kala itu tidak membedakan keahlian Quraniyah dengan Kauniyah,“ jelas dia.

Sedangkan secara filosofis, Al Qur’an sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan, sains. Karena ayat Allah tidak hanya yang tertulis dalam Al Qur’an, tapi juga yang terhampar di alam.

“Kemudian terjadi kemunduran dan disintegrasi oleh berbagai sebab ketika seolah-olah quraniyah itu hanya milik madrasah dan pesantren, sedangkan kauniyah hanya milik sekolah umum, “ katanya menambahkan.

Sementara Pj Bupati Lamongan, Wahid Wahyudi, yang hadir dalam workshop, memberikan kritik ketidakmampuan Sumbar Daya Manusia (SDM) lokal untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan dibutuhkan lompatan untuk bisa menjadi tuan di rumah sendiri.

Dia kemudian mencontohkan banyaknya sumberdaya alam Indonesia yang begitu melimpah, namun dikelola oleh SDM dari luar negeri. (tok)

 

Dibaca : 865x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan