Sabtu, 23 Maret 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menakar Untung-rugi Proyek Migas : Perspektif Ecosystem Services

Editor: nugroho
Senin, 07 Januari 2019
foto Mashudi for sbu.
Mashudi saat berada di Australia.

SuaraBanyuurip.com

                    Oleh : Mashudi

Baru-baru ini terdengar berita bahwa keuntungan proyek pengeboran gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) diprediksikan mencapai 3.61 milyar dollar AS atau sekitar 51,35 triliun rupiah, angka yang fantastis!!!. Jika ditambahkan dengan keuntungan proyek minyak yang sudah jalan sebelumnya angkanya pasti makin besar. Namun, pertanyaan sederhana yang muncul adalah: bakal kemana uang puluhan triliun itu bermuara, ke dapur-dapur warga, ke proyek pembangunan desa, ngalir ke Jakarta, atau kemana? Sedikit lebih kongkrit, berapa persenkah uang yang akan di dapatkan daerah untuk membiayai pembangunan? Lalu, bagi warga sekitar pengeboran (termasuk saya), pertanyaannya mungkin lebih pragmatis: apakah dengan ini kehidupan kami bisa lebih baik, apakah kami akan untung/rugi? Nahh, untuk pertanyaan pertama dan kedua, yang menyoal angka-angka, saya tak tahu jawabannya, biar yang berwenang menjelaskan. Tapi untuk pertanyaan terakhir, saya bisa memberikan sedikit pandangan. 

Analisis paling sederhana dari hitungan untung-rugi adalah membandingkan apa saja yang kita dapatkan dan apa saja yang kita korbankan. Semakin tinggi rasio antara yang kita dapat dengan yang dikorbankan akan semakin besar keuntungannya. Hitungan seperti ini biasanya sangat detail dikerjakan korporat sebelum proyek mulai. Semakin tinggi rasio keuntungannya maka proyek akan digarap. Nah keuntungan yang dimaksud itu tentu dari sudut pandang korporasi, yang boleh jadi berbeda dengan persepsi keuntungan oleh warga atau bahkan pemerintah. Yang pasti disini adalah akan ada pihak yang lebih diuntungkan (mendapatkan lebih dari yang dikeluarkan) dan pihak lainnya yang lebih dirugikan (mengeluarkan lebih dari yang didapatkan). Dalam Cost-Benefit Analysis kaidahnya jelas, setelah teridentifikasi pihak mana yang lebih banyak dirugikan, adalah wajib hukumnya bagi pihak yang untung tadi menyiapkan kompensasi yang layak, agar tercapai pengelolaan sumberdaya alam berkeadilan. Jumlah kompensasi harus diketahui dan disetujui semua pihak, termasuk warga, begitu idealnya. 

Bagi warga (termasuk saya waktu itu), alih-alih bisa memikirkan untung-rugi dan ikut mengambil keputusan, sebagian besar dari mereka hanya tahu apa yang akan mereka dapatkan dan hanya sedikit sekali yang paham apa yang sebenarnya mereka korbankan. Waktu itu kita hanya mengerti bahwa uang hasil jual tanah nanti bisa untuk renovasi rumah, untuk beli kendaraan, untuk biaya sekolah, dan yang agak beruntung berfikir untuk modal usaha. Selain itu, dengan masuknya proyek, jalan akan jadi aspal, kampung akan lebih banyak orang, dan buka warung kopi jadi laris. Udah itu aja. Satu hal yang mungkin saya dan warga lainnya paham waktu itu, bahwa keuntungan-keuntungan yang jumlahnya banyak diatas itu bisa diperoleh hanya dengan mengganti nama kepemilikan sawah kita dengan orang lain, simpel dan langsung paraf aja deh. Hehe

Puluhan tahun berselang, saya memperoleh kesempatan studi di perguruan tinggi dan dikenalkan dengan konsep Ecosystem Services Valuation. Ide yang sebenarnya ada sejak akhir tahun 90-an dan baru saja saya mengerti dua tahun lalu. Konsep ini intinya adalah mengukur nilai perubahan fungsi ekosistem yang terjadi akibat suatu proyek dan memasukkannya ke dalam variabel “sesuatu yang dikorbankan” sehingga melengkapi analisis untung-rugi, yang sebelumnya dihitung hanya dari perspektif ekonomi (hanya hitung-hitungan rupiah saja).

Dengan konsep ini saya bisa menjelaskan sedikit lebih detail bahwa keuntungan-keuntungan yang diperoleh tempo hari itu ternyata nilainya tak semurah pemindahan nama kepemilikan sawah saja. Perubahan lingkungan yang mucul akibat dikonvesinya ekosistem persawahan dan hutan akan diikuti dengan perubahan kualitas udara, air, lansekap tanah, dan vegetasi yang secara total mempengaruhi kualitas hidup hewan dan manusia disekitarnya baik secara ekologis, ekonomis, maupun sosial.

Secara ekologis, ekosistem persawahan dan hutan memiliki fungsi sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon dioksida karena melimpahnya tumbuhan yang hidup di area tersebut. Sumber air dari presipitasi dapat disimpan lebih lama dan dialirkan ke air tanah dalam jumlah yang cukup sehingga bisa dipanen ketika musim kemarau. Konversi ekosistem ini menjadi industri berarti akan mengubah lansekap tanah, mengubah pola aliran sungai, menguragi vegetasi pepohonan, dan menghilangkan persawahan.

Selain itu, industrialisasi juga memasukkan unsur-unsur asing yang belum pernah ada di ekosistem tersebut seperti kendaraan berat, pipa-pipa bawah tanah, rig-rig pengeboran, bahan-bahan kimia seperti bahan bakar, oli, katalis produksi, dan lain sebagainya. Konversi ekosistem dan introduksi bahan-bahan asing tersebut dapat mengurangi kemampuan ekosistem untuk melakukan fungsi-fungsi yang biasa dikerjakannya dalam keadaan normal. Jika tidak di kelola dengan baik, penurunan fungsi ekositem tersebut akan memunculkan berbagai masalah seperti menurunnya kebugaran warga akibat menurunnya kualitas udara, munculnya kelangkaan air di musim kemarau, polusi udara, air, dan tanah.

Lebih dari itu, dari sudut pandang konservasi, berubahnya ekosistem ini juga sekaligus menghilangkan habitat hewan dan tumbuhan lokal. Sederhananya adalah, saya dan teman-teman tidak bisa lagi dengan mudah mencari dan menemukan burung pentet dan kutilang seperti masa kecil dulu. Akibatnya, saya harus mengeluarkan uang tambahan jika ingin memelihara burung-burung tersebut dan mungkin saja akan lebih sering ke dokter karena prevalensi sakit naik seiring menurunnya kualitas udara dan air. 

Secara ekonomis, ekosistem sawah dan hutan juga dapat menghasilkan uang sebagai sumber pengahasilan warga. Ekosistem sawah misalnya, setahu saya sebelum di konversi menjadi industri, daerahku termasuk lahan yang sangat produktif, penghasil padi saat penghujan, kacang-kacangan dan sayuran saat pancaroba, dan jagung serta umbi-umbian saat kemarau. Belum lagi nilai tambah dari tanaman pakan ternak yang ditanam di guludan, rumput untuk penggembalaan (yang gratis), serta hewan-hewan alam bernilai ekonomis seperti belut, ikan, belalang, burung, kepiting sawah, udang, dan bahkan ular, semuanya memiliki nilai ekonomis dan bisa ditemukan di sawah. Kita belum membicarakan kayu-kayu jati, lamtoro, dan mahoni yang juga bernilai jual cukup tinggi.

Ekosistem hutan mungkin nilai ekonomisnya sedikit berbeda, lebih banyak ke kayu saja, tetapi memiliki nilai ekologis yang lebih tinggi. Satu hal yang perlu diingat bahwa fungsi ekosistem dan sumber ekonomi diatas sifatnya renewable, bisa dipanen berulang kali semasa hidup kita bahkan bisa diwariskan ke anak cucu kita. Nahh, setelah ekosistem tersebut diganti dengan industri, semuanya berubah. Sekarang ini kita harus mengeluarkan uang untuk membeli padi, membeli jagung, kacang, sayur, ikan, belut, belalang, udang, dan lain sebagainya jika pengen makan itu. Harganya gak murah, belalang 50 ribu hanya dapat setengah kilo lho!!. Selain itu, untuk bisa menghidupi ternak kita gak bisa lagi “angon” sambil leyeh-leyeh seperti dulu, harus jalan beberapa kilometer dulu untuk dapet rumput. Bagi yang gak mau jalan, ya bawa motor, bensin, uang lagi deh. Hehe

Terakhir adalah fungsi ekosistem sawah dan hutan ditinjau dari segi sosial. Area persawahan yang dikonversi menjadi industri itu letaknya di tengah-tengah, menghubungkan satu desa dengan yang lainnya. Kepemilikan sawah terkadang membuat orang mengenal pemilik sawah samping kiri-kanan nya karena bertemu waktu jam kerja. Biasanya pemilik sawah sebelah adalah kerabat dekat karena sawahnya hasil pembagian warisan, namun tak jarang juga mereka merupakan orang lain yang bahkan berasal dari beda desa.

Interaksi sosial sering terjadi di sini dan tak jarang berbuah menjadi bisnis, bahkan seingat saya ada yang menemukan jodohnya karena pertemuan di sawah. Komunikasi warga baik dengan kerabat dekat maupun yang berasal dari lain desa bisa terjadi disini, bahkan sangat intens karena lamanya waktu di sawah. Otomatis, ekosistem sawah ini menjadi entitas sosial yang sangat efektif saat itu.

Sebagai perbandingan, di kota-kota besar, pemerintahnya sibuk menganggarkan proyek jutaan bahkan milyaran rupiah hanya untuk menyediakan ruang sosial yang intim semacam ini, di kampung mah gratis, tapi jaman dulu. Selain itu, sawah dan hutan merupakan tempat yang sangat baik untuk bermain anak. Anak bisa mengasah motoriknya sembari mengenal alam dan belajar bercocok tanam. Maka tidak heran sekarang ini banyak trend paket wisata yang bayarnya juataan rupiah hanya untuk mengenalkan anak tentang sawah.

Di kota, pemerintah menggelontorkan dana ratusan juta untuk membangun tempat bermain ramah anak, di kampung mah gratis, tapi sekali lagi, itu jaman dulu. Satu lagi adalah terkait hijau-hijauan (greenery) yang merupakan tempat efektif untuk relaksasi dan refreshing dari aktivitas rutin harian yang penat. Pengalaman pribadi saya dulu, seringkali ke sawah saat dekat-dekat ujian dan selesai ujian, rasanya nikmat dan stress berkurang banget. Di perkotaan, banyak proyek ratusan juta hanya untuk menyediakan greenery ini, di kampung mah gratis, tapi lagi-lagi jaman dulu. Setelah ekosistem sawah dan hutan ini di konversi jadi industri, apakah masih tersedia ruang sosial, ruang main anak, ruang terbuka hijau, dan ruang relaksasi dari stress yang yang gratis itu? Yang di kota nilainya milyaran itu? Jawab sendiri.

Sebagai penutup, saya ingin sekali lagi menanyakan: Setelah ekosistem sawah dan hutan kita dikonversi menjadi industri, apakah fungsi ekologis, fungsi ekonomis, dan fungsi sosialnya bisa dipertahankan?. Menurut pembaca semua, berapakah nilai uang fungsi ekosistem (ekologis, ekonomis, dan sosial) dari sawah dan hutan yang kita miliki sebelumnya? Apakah kita mendapatkan lebih dari apa yg kita korbankan? Jawab sendiri ya.

Penulis Cah Temlokorejo, Gayam.

Sedang menempuh pendidikan Master of Environmental Management, University of Queensland, Australia

 

Dibaca : 462x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>