Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menentukan Nilai Wajar Saham Freeport

Editor: nugroho
Kamis, 07 September 2017
satuharapan.com
Sampe L. Purba

SuaraBanyuurip.com

Oleh : Sampe L. Purba

BEBERAPA hari yang lalu, Menteri ESDM Ignasius Jonan selaku Ketua Tim Perunding didampingi oleh Menkeu Sri Mulyani – dua orang Menteri Kabinet pak Jokowi yang energik kaliber global – mengumumkan dicapainya kesepakatan dengan Freeport Mcmoran (FCX), induk perusahaan PT Freeport Indonesia (PTFI). Butir penting yang dicapai adalah FCX akan mendivestasi/ melepas kepemilikan sahamnya di PT FI hingga 51% ke Indonesia dalam 5 tahun, Kontrak Karya akan diubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus dengan jaminan perpanjangan hingga 2041, membangun fasilitas pemurnian (smelter), porsi penerimaan Indonesia lebih besar dari sebelumnya dengan jaminan stabilitas fiskal.

Terkait dengan divestasi, dua hal penting yang harus difinalisasi adalah menentukan nilai wajar divestasi, dan siapa yang akan mendapatkan saham tersebut. Yang pertama, menuntut kecerdasan, kepiawaian dan kemampuan bernegosiasi dengan FCX, sedangkan yang kedua merupakan urusan dapur Pemerintah Indonesia. Tulisan ini akan menitikberatkan pada penentuan nilai wajar saham Freeport.

Anatomi Struktur kepemilikan dan Keuangan FCX

Freeport McMoran Inc tercatat di bursa New York (NYSE) dengan kode FCX. Laporan otoritas pasar modal Amerika Serikat (SEC) memberi informasi berikut. FCX menguasai 100% Freeport Mineral Corporation (FMC) dan 90,44% PTFI. FCX bergerak di bidang produksi bijih tembaga, emas dan molybdenum 89 % serta 11 % bisnis minyak dan gas. Per akhir tahun 2016 tercatat memiliki cadangan tembaga 86,8 milyar pon tembaga, 26,1 juta pon cadangan emas, 2,95 milyar pon molybdenum (berguna sebagai senyawa metalugis penahan panas). Dari PT FI tercatat 31% cadangan tembaga, dan 99% cadangan emas.

Nilai aset 37.317 juta dolar , hutang 28.060 juta dolar, modal 9.257 juta dolar. Omset Penjualan 14. 830 juta dolar (termasuk di dalamnya dari operasi Indonesia 3.295 juta dolar). Operasi dari Indonesia memberikan keuntungan sebesar 1.027 juta dolar, atau sekitar 31 %. Tercatat Total rugi konsolidasi sebesar 4.025 juta dolar. Kerugian tersebut terutama dari penarikan (impairment) aset operasi minyak dan gas bumi di luar Indonesia.

Saham FCX cenderung turun harganya. Pada akhir tahun 2013 masih di atas 40 dolar per lembar, trendnya turun konstan. Satu tahun terakhir harga per saham bergerak antara 9,24 dolar – 17, 06 dolar. Jumlah saham biasa yang diperdagangkan sebanyak 1.447.304.000 lembar. Per akhir Agustus 2017 tercatat di kisaran $14.70 per lembar. Dividend Yield sekitar 1,37% dan Price Earning rasio di atas 20 kali. Hal ini menunjukkan appresiasi dan ekspektasi dari pasar sekitar 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan dividen per lembar sahamnya.

Informasi signifikan material lainnya adalah FMC menghadapi tuntutan hukum pemulihan lingkungan di Amerika Serikat. Dalam tahun 2016, tercatat 1,2 milyar dolar dicadangkan untuk biaya itu. Komitmen ikatan Hutang kontraktual penjualan produk tercatat 33.053 juta dolar. FCX juga memposisikan operasional Contract of Worknya di Indonesia hingga tahun 2041. 
FCX menginformasikan kemungkinan adanya perubahan hukum lingkungan di Indonesia yang berdampak kepada kenaikan biaya. FCX memberitahu bahwa aset utamanya adalah konsesi dan tagihan-tagihan yang ada pada anak-anak perusahaannya. Dengan demikian kemampuan membayar hutang-hutangnya sangat tergantung pada berjalannya konsesi dan kelancaran operasional anak-anak perusahaannya, dan tidak ada jaminan bahwa anak-anak perusahaannya akan menanggung hutang induknya.

Menentukan nilai wajar saham FCX

Tim Teknis Perunding Pemerintah Indonesia yang mensupervisi Konsultan Penilai kewajaran harga saham divestasi hendaknya menggunakan informasi di atas sebagai kartu dan bekal untuk posisi tawar dalam negosiasi. Beberapa hal filosofis mendasar yang diusulkan untuk dapat digunakan antara lain adalah hal-hal berikut.

Pertama, jangan mengaitkan harga saham yang tercatat di bursa NYSE sebagai patokan. Secara teoretis PTFI adalah ibarat telor emas dalam bingkai FCX. Apabila PTFI dikeluarkan (spin off/ detached), maka kinerja keuangan FCX akan anjlok. Catatan di atas menunjukkan bahwa 99% cadangan emas FCX adalah dari PTFI. Harga komoditas emas cenderung stabil dan prospektif.

Kedua, mempertanyakan dasar pendakuan nilai cadangan (reserves) tembaga dan emas dalam laporan keuangan FCX. Sebagaimana diketahui bahwa Contractually and legally, konsesi PTFI adalah sampai tahun 2021. Adapun untuk periode perpanjangan 20 tahun tersebut, sifatnya adalah opsi yang masih tergantung dan dirundingkan. Cadangan yang dibukukan atas sesuatu yang belum dimiliki dengan pasti, yang menjadi underlying backbone (tulang punggung) laporan keuangan konsolidasi, itu harus disesuaikan untuk mendapatkan nilai wajar. Lagi pula, sejalan dengan konstitusi kita, cadangan yang belum ditambang masih merupakan milik Negara.

Ketiga, potensi biaya pemulihan lingkungan. Sebagaimana diungkapkan dalam FCX kepada SEC dalam form laporan 10 K (laporan kepada publik dari perusahaan yang tercatat di bursa), di bawah sub judul legal proceedings, FCX menyadari bahwa dalam operasi PTFI limbah penambangan (tailing) dialirkan ke sungai. Sekalipun telah ditangani dengan mengusahakan agar endapannya tidak meluber, memiliki potensi dampak lingkungan. Pemerintah Indonesia telah menyarankan agar limbah tidak dibuang ke sungai, tetapi untuk dialirkan melalui pipa, namun tidak diikuti oleh PTFI. 

Penggalian batuan untuk mencapai cadangan bijih (ore) di kedalaman, yang apabila bercampur dengan air, udara dan bakteri dapat menjadikan drainase batuan asam, yang apabila tidak dikelola dengan baik memberikan dampak lingkungan yang buruk. Hal yang sama juga terhadap tumpukan (stockpiling) galian bebatuan dapat terancam erosi apabila hujan turun. FCX mengungkapkan secara gamblang ke SEC bahwa “Mining operations on the scale of our Indonesia operations involve significant environmental risks and challenges” – Skala operasi penambangan di Indonesia mengandung resiko lingkungan dan tantangan yang signifikan.

Pemerintah telah berhasil menorehkan satu milestone penting dalam perundingan status PTFI. Momentum gaung secara politik dan strategis ini harus dipelihara. Devil is in detail – kata peribahasa. Sementara perundingan detil belum mulai, pihak FCX telah mengumumkan bahwa rencana divestasi 51% tidak akan mengubah control pengendalian operasional mereka terhadap PTFI. Ini adalah sebuah tantangan. Target Pemerintah Indonesia, hendaknya tidak hanya untuk mendapatkan saham PTFI, tetapi juga pengendalian operasional, termasuk kemungkinan untuk di spin off dari FCX, dan didaftarkan secara mandiri di bursa yang dikehendaki.

Menentukan harga wajar saham di bursa

Pada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa, pendekatan dalam menilai kewajaran dan memprediksi harga saham ke depan biasanya ada dua yaitu pendekatan fundamental (fundamental approach) , dan pendekatan teknikal (technical approach). Dalam pendekatan fundamental faktor yang dianalisa adalah kinerja keuangan, dan prospek usaha ke depan. Komponen utamanya adalah laba emiten, pertumbuhan omset dan komposisi laporan keuangan. Indikator yang dicermati adalah harga dividen per saham (DPS), harga saham per DPS yang dikenal dengan Price Earning Ratio (PER), nilai buku (Book Value) Perusahaan, perbandingan Laba per modal ( return on equity – ROE), Laba per aset (Return on Asset – ROA), Leverage ratio perbandingan hutang dengan modal (Debt to Equity – DER), pertumbuhan Dividen (DE growth), dan lain lain.

Analisa teknikal juga disebut dengan charting analysis, lebih menekankan kepada pergerakan historis saham sebagai proyeksi ke depan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pergerakan harga saham telah mempertimbangkan dan merefleksikan faktor fundamental, informasi pasar bersifat terbuka dan semua memiliki akses yang sama (efficient market hypothesis), dan ada pola-pola pergerakan. Anomali dan seasonalitas seperti pengumuman dividen, corporate action (seperti stock split, tender offer), rencana akuisisi dan lain-lain dinetralisir dalam pemodelannya.

Dengan cara itu, analis atau broker mengidentifikasi harga saham yang terlalu rendah (under value) atau terlalu mahal (over value) dibanding ekspektasi pasar. Pertanyaannya adalah, kalau semua memiliki informasi yang sama, maka tidak akan ada saham yang under atau over value.

Lalu bagaimana perdagangan saham dapat bergairah ?

Harga pada dasarnya merupakan titik temu antara penjualan dan pembelian. Harga tidak selamanya merupakan refleksi fundamental dan proyeksi teknikal yang wajar. Ada kalanya harga disetir untuk kepentingan para Spekulan. Investor atau pialang yang menginginkan harga sahamnya tinggi, akan mempengaruhi pasar dengan membeli sebanyak mungkin saham yang dipersepsikan under value, dan dicitrakan akan tetap naik, dengan harapan akan diikuti masyarakat. Kalau perlu membeli margin atas saham yang belum dimiliki, menjualnya dan membelinya kembali ketika harganya jatuh (short selling).

Ada tiga hal yang harus diwaspadai dalam perdagangan harga saham. Pertama, informasi orang dalam (insider information) yang mengetahui terlebih dahulu rencana korporasi yang berpengaruh kepada harga saham. Kedua, pemberian informasi yang menyesatkan (misleading) ke pasar, seperti rencana korporasi yang akal-akalan dan artifisial. Ketiga, corner atau penggorengan saham. Corner adalah rekayasa harga saham dengan cara melakukan transaksi fiktif atau semu. Kasus Salah satu Bank Nasional pada April 1997 yang harga sahamnya meroket hingga di atas 200% hanya dalam beberapa jam setelah bursa di buka adalah contoh klasik, karena faktanya tidak ada faktor fundamental atau informasi lain yang relevan untuk pergerakan itu. 

Penulis : Sarjana Hukum - Sarjana Ekonomi - Alumni Lemhannas RI

 

 

Dibaca : 141x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan