Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menguji Nyali Presiden RI Kunjungi Bojonegoro

Editor: samian
Senin, 25 September 2017
ist
Pendapa Malwopati Pemkab Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com

Oleh : d suko nugroho

MITOS Kabupaten Bojonegoro, sebagai salah satu daerah angker di Jawa Timur, yang menjadi pantangan dikunjungi Presiden Repulik Indonesia, belum terpecahkan. Batalnya kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meresmikan proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran – Tiung Biru (J-TB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), pada hari ini, Senin (25/9/2017), semakin memperkuat mitos tersebut.  

Padahal sebelumnya rencana kunjungan Presiden RI ke 7 itu telah menyebar di group media social (Medsos), WhatsApp. Bahkan Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, juga membenarkan rencana kunjungan Jokowi. Namun kunjungan tersebut dibatalkan, dan peresemian mega proyek J-TB digantikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Belum diketahui secara pasti penyebab pembatalan peresmian proyek Unitisasi Gas JTB oleh Jokowi pada hari ini. Namun pembatalan agenda Jokowi ke Bojonegoro sudah terjadi beberapa kali sebelumnya. Seperti akan melakukan tasyakuran puncak produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, sebesar 165 ribu barel per hari (bph) di wilayah Kecamatan Gayam, yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), pada 27 April 2016 lalu. (baca : http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/jokowi-akan-hadiri-syukuran-puncak-produksi-banyuurip).

Bahkan dua hari sebelum kedatangan Jokowi, pihak operator juga sudah melakukan berbagai persiapan, salah satunya adalah mendirikan terop megah di lokasi Lapangan Banyuurip. Saat itu agendanya selain tasyakuran, juga akan meresemikan proyek Unitisasi Lapangan Gas JTB. (baca : http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/terop-megah-didirikan-di-lokasi-banyuurip).

Namun, lagi-lagi, rencana tersebut batal dan persiapan yang dilakukan sia-sia belaka. Tasyakuran puncak produksi Lapangan Banyuurip dialihkan di Jakarta. (Baca : http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/tasyukuran-produksi-puncak-digelar-di-jakarta).

Pembatalan kunjungan mantan Walikota Solo ke Bojonegoro kali ini kian menambah daftar jumlah Presiden RI yang tidak berani menginjakkan kakinya di Bumi Angling Dharma-sebutan lain Bojonegoro. Mitos Bojonegoro sebagai salah satu daerah angker, selain Kediri, masih membuat ciut ‘nyali’ presiden RI.   

Sebelum Jokowi, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga membatalkan kunjungannya ke Bojonegoro pada akhir Juni 2013. Saat itu, agendanya ingin melihat kesiapan proyek Banyuurip dan menyelesaikan masalah yang menghambat proyek tersebut. (Baca : http://suarabanyuurip.com/mobile/baca/presiden-sby-akan-kunjungi-blok-cepu). Namun rencana tersebut batal, dan belum diketahui secara pasti penyebabnya.

Kemudian, SBY kembali diagendakan akan meresmikan proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and constructions/EPC) Banyuurip pada 11 September 2014 (baca : http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/sby-dijadwalkan-resmikan-proyek-blok-cepu). Namun rencana tersebut diajukan pada 8 September 2014, dan persemian proyek di lokasi Lapangan Banyuurip digantikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian saat itu, Chairul Tanjung (Baca : http://suarabanyuurip.com/mobile/baca/chairul-tanjung-gantikan-sby-resmikan-proyek-blok-cepu). Sedangkan SBY menandatangani prasasti peresmian Fasilitas Produksi Lapangan Banyuurip, setelah menghadiri puncak peringatan Hari Jadi TNI di Surabaya, Selasa (7/10/2014), atau sehari sebelum Chairul Tanjung datang ke Bojonegoro.  

Batalnya kunjungan SBY dulu, maupun Jokowi di Bojonegoro sekarang ini, sudah diprediksi masyarakat, dan banyak pihak. Karena sesuai mitos yang berkembang, Bojonegoro merupakan salah satu daerah angker bagi Presiden RI.  Dari sudut pandang cerita pewayangan, Kabupaten Bojonegoro merupakan titisan Batara Hyang Wisnu, salah satu tokoh pewayangan yang banyak dipercaya orang Jawa pada umumnya. Karakter Hyang Wisnu sendiri adalah sosok ksatria dan raja sakti yang mengedepankan keadilan dan mementing kesejahteraan rakyat.

Artinya, untuk urusan politik tidak suka sewenang-wenang, dan memikirkan rakyat. Sehingga, sesuai cerita rakyat yang turun temurun diugemi masyarakat Bojonegoro, bagi pemimpin negeri yang memiliki karakter berlawanan dengan Hyang Wisnu, maka akan terkena kutukan. Kutukannya, bisa lengser dari tahta atau jabatanya.

Selain mitos itu, wilayah Bojonegoro juga tidak lepas dari sejarah kerajaan Jipang. Menurut buku Babad Tanah Jawi yang disusun W.L. Olthof di Leiden, Belanda pada 1941, Arya Penangsang sangat sulit untuk dibunuh. Namun pada akhirnya dia tewas secara mengenaskan setelah menyerang lebih dahulu dengan menyebrang Sungai Bengawan Solo di tangan prajurit Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya alias Maskarebet atau Jaka Tingkir. (Baca : http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/jadi-pantangan-dikunjungi-presiden)

Mitos itulah yang, mungkin, membuat pemimpin negeri ini enggan mampir menginjakkan kakinya di Bojonegoro. Karena sesuai mitos yang berkembang, Presiden RI yang mengunjungi Bojonegoro akan lengser atau turun tahta. Sebab kepanjangan dari nama Bojonegoro sendiri adalah Bojone Negoro atau istrinya Negara.

Padahal selama ini Bojonegoro dikenal memiliki sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas Bumi (Migas) yang melimpah. Ada sejumlah lapangan migas potensial yang sudah produksi yakni Lapangan Banyuurip yang saat ini sudah produksi di kisaran 200 ribu barel per hari (bph), Lapangan Sukowati, Blok Tuban, yang dioperatori Joint Pertamina – Pterochina East Java (JOBP-PEJ), Lapang Tiung Biru (TBR) dan Sumur minyak tua dengan operator Pertamina EP Aset 4. Dengan kandungan emas hitam itu, Bojonegoro pun menjadi penyumbang minyak terbesar bagi Indonesia, 25 persen dari produksi nasional. 

Kemudian Blok Blora dengan operator Sele Raya Energi (SRE) yang saat ini tahap eksplorasi, dan Lapangan J-TB dengan cadangan gasnya lebih dari 1,1 trillion cubic feet dengan kemampuan pasok sales gas per hari sebesar 172 juta standar kaki kubik (MMSCFD) selama 16 tahun.

Meski menjadi kabupaten pemasok energi terbesar dalam negeri, namun belum pernah ada Presiden RI menginjakkan kakinya di Bojonegoro, kecuali Presiden Soekarno. Benar atau tidaknya mitos tersebut, tapi yang pasti setiap presiden selain memiliki penasihat politik, juga mempunyai penasihat spiritual. Apalagi, perhelatan Pemilihan Presiden (Pilres) akan dilaksanakan sebentar lagi, yakni 2019 mendatang.

 Penulis ada wartawan suarabanyuurip

 

Dibaca : 1190x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan