Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kisah Lelaki Senja dari Kartosuro

Menjajakan Kerajinan Rotan di Trotoar Cepu

Editor: teguh
Jum'at, 24 Juli 2015
Ahmad Sampurno
MBAH HADI : Puluhan tahun bertahan pada profesi penjual kerajinan rotan, di trotoar kota Cepu.

Kerajinan rotan menopang hidupnya sejak puluhan tahun silam. Usia senja tak meruntuhkan semangat untuk tetap bekerja. Mbah Hadi dari Kartosuro bertahan di trotoar Cepu.

TAMPAK seorang pria dengan pakaian agak lusuh duduk di atas pagar pembatas sisi utara gedung Kantor Pos Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di sebelahnya berjejer kerajinan dari rotan. Meja, kursi, rak sepatu, serta beberapa kerajinan lain ditata sedemikian rupa di atas trotoar Jalan RSU Cepu.

Warna khas dari polesan tangan tua dengan cat khusus untuk rotan, memberikan kesan antik pada setiap lekuk batang rotan. Dengan sabar, pria tua bertopi itu menunggu konsumen menghampiri barang dagangannya.

Terik matahari menyengat, tidak menyurutkan semangat di sisa umurnya. Asap knalpot, serta raungan kendaraan berlalu lalang menjadi hal biasa. Perkembangan Cepu dari masa ke masa tidak pernah dia lewatkan, karena sudah puluhan tahun lelaki sepuh ini bertahan di wilayah setempat.

Dia adalah Hadi Suwarno, seorang kakek ramah yang setiap hari berada di trotoar sebelah utara kantor Pos Cepu. Pria tua yang akrab disapa Mbah Hadi itu mengaku, dirinya mencari nafkah dengan berjualan kerajinan rotan tersebut sejak tahun 1970, dan belum pernah berpindah dari lokasi itu hingga kini.

Kepada Suarabanyuurip.com, Mbah Hadi bercerita tentang kehidupan dan pengalaman-pengalamannya selama menjadi penghuni trotoar Kota Cepu. Setiap hari bertempat tinggal emperan Kantor Pos Cepu lama, karena dia bukan warga asli setempat. Mbah Hadi berasal dari Kartosuro, Jawa Tengah. Saking lamanya di Cepu, Mbah Hadi sudah aarab dengan warga sekitar. Pengalamannya sejak muda yang hobi merantau itu, masih terbawa hingga usianya mendekati senja.

Pada tahun 1970, waktu berangkat dari Kartosuro, dia membawa sejumlah kerajinan dari rotan. Maklum Kartosuro merupakan sentra produksi kerajinan rotan.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Cepu hingga saat ini, Mbah Hadi seolah tidak ingin berpindah tempat maupun pekerjaan lain. Dia beralasan, itu hanyalah kerentek (bisaikan-Red) hati. Dia tetap bertahan, dan tidak ingin berpindah lagi.

Mbah Hadi, perlu waktu satu hingga dua bulan untuk pulang kampung. Hal itu, dilakukannya sambil menunggu dagangannya terjual. Selain digunakan untuk bertemu keluarga, saat pulang itu digunakan membawa kerajinan rotan yang belum diberi warna, dibawanya untuk dijual lagi saat kembali ke Cepu.

"Pulang juga saat untuk kulakan. Tapi masih mentah (belum diwarnai) sampai di Cepu baru diberi warna khusus untuk rotan," ungkapnya.

Sekadar diketahui, saat ini dia memiliki 4 anak dan 1 buyut. Namun begitu, dirinya tidak pernah sedikitpun berkeinginan untuk merepoti anak dan cucunya. Hal itulah yang membuat dia, tetap berjualan di luar kota sendirian.

''Kalau kangen ya sebulan atau dua bulan sekali pulang nemuin cucu,'' tuturnya.

Mbah Hadi hanya tetap ingin berusaha mandiri. Dia berprinsip, selama dia masih sehat dan bisa berjualan, dia tidak ingin merepotkan siapapun.

''Nak iso nyambut gawe, nyambut gaweo! Lan ojo nyusahke anak,'' pesannya.

Penjual kursi, rak, meja, holahop, boncengan motor dan gebok kasur yang terbuat dari rotan tersebut berpesan, dalam hidup sebenarnya kunci sukses adalah ketelatenan. Menurutnya, hal itu juga yang membuatnya tidak pernah berpindah pekerjaan hingga hari ini. (ahmad sampurno)

 

 

Dibaca : 1100x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan