Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menolak Kutukan Migas

Editor: teguh
Jum'at, 29 Agustus 2014
doks SuaraBanyuurip.com
Achlif Nogroho Widi Utomo

 

Oleh: Achlif Nogroho Widi Utomo *)

KABUPATEN BLORA dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki cadangan minyak bumi sangat besar di Indonesia. Melihat potensi sumber daya alam yang ada, seharusnya Blora termasuk daerah “kaya” sehingga berimbas pada kesejahteraan masyarakatnya.

Kenyataanya saat ini Blora masih termasuk dalam sepuluh kabupaten/kota termiskin di Jawa Tengah. Blora terdengar tambah “seksi” bagi para investor di bidang Migas, setelah keluarnya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 1 Tahun 2008, tentang Pedoman Pengusahaan Minyak Bumi Pada Sumur Minyak Tua. Dalam peraturan tersebut, pemerintah memberikan kesempatan kepada BUMD dan Koperasi Unit Desa (KUD) untuk ikut dalam pengelolaan sumur minyak tua di daerah.

Akan tetapi mimpi indah tentang hasil dari pengelolaan potensi Migas, baik sumbangan PAD bagi Kabupaten Blora maupun mimpi meningkatnya kesejahteraan masyarakat, kini terkesan hanya sekedar mimpi indah belaka. PT Blora Patra Energi (BPE) sebagai BUMD Blora pengelola sumur minyak tua di Kabupaten Blora digadang–gadang dapat mengelola potensi yang ada secara profesional, tak sesuai harapan. Tidak sedikit yang mengkritik, dan bahkan berkomentar nyinyir diberbagai media terkait kinerja PBE.

Penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Blora bagi BPE yang tidak sedikit dirasa kurang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Bahkan adanya statemen Plt. Direktur Utama BPE di media yang bertajuk “Kabupaten Blora Dilanda Kutukan‟ Migas, Potensi Besar Tak Diimbangi Kemampuan Pengolahan” dianggap sebagai Excuses atau alasan atas ketidakprofesionalan pengelolaan.

Terlebih sebelumnya Fraksi Gerakan Pembaruan Nurani Rakyat (Gapura) DPRD Kabupaten mempersoalkan rangkap jabatan Dirut BUMD Blora yang dikhawatirkan mengganggu kinerja perusahaan, dan akhirnya terkesan tidak profesional. Apapun alasannya, penilaian tersebut terbukti bahwa kinerja BPE untuk menyumbang PAD bagi Blora turun dari tahun sebelumnya.

Mencari Solusi Menolak “Kutukan Migas”

“Kutukan Migas” dalam literatur akademik maupun pemikiran profesional merupakan “Mitos” yang digunakan sebagai Justify atau alasan pembenaran dari ketidakmampuan pengelolalaan potensi Migas yang ada secara profesional. Kritikan, cemooh, bahkan cacian memang mudah dikeluarkan, namun kita harus merubah konstruksi berfikir kita, dari sekedar mengkritik menjadi sahabat mencari solusi untuk Blora yang lebih baik.

Dalam hal pengelolaan sumur minyak tua melalui BUMD, apa yang sudah dihasilkan sampai saat ini mari kita apresiasi bersama sebagai suatu capaian walaupun belum optimal. Mari berfikir realistis, berkontribusi positif untuk memberikan solusi yang membangun PT BPE lebih baik melalui konsep F4 (Forget the past, Focus, Fight, Finish).

Forget The Past. Tidak dipungkiri baik yang senang maupun yang tidak senang, bahwa BPE telah berkontribusi menyumbang PAD bagi Kabupaten Blora. Hal positif yang perlu kita apresiasi bersama, walaupun secara nilai masih jauh dari harapan. Untuk menyikapi persepsi negatif masyarakat luas mengenai hal tersebut, perlu kiranya dilakukan audit kinerja, dan keuangan oleh lembaga auditor independen yang bebas dari faktor kepentingan politis manapun. Kemudian hasilnya dipublikasikan secara terbuka.

Dari hasil tersebut tentunya akan muncul kajian, dan rekomendasi. Apa yang telah dicapai mari ditingkatkan, dan apa yang tidak baik tentunya harus diperbaiki. Setelah itu mari kita tutup buku “masa lalu” dan kita buka lembaran BPE baru bersama dengan manajemen baru yang lebih profesional.

Focus. BUMD merupakan badan usaha profesional milik daerah yang bertujuan memberikan nilai tambah (Profit), dan dapat memberikan kontribusi positif bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Rangkap jabatan Plt. Direktur Utama PT. Blora Patra Energi oleh Direktur Utama PT. Blora Patragas Hulu (BPH) dengan alasan bersedia tanpa digaji dari kinerjanya sebagai Direktur BPE, memunculkan penilaian bahwa Pemerintah Kabupaten Blora tidak fokus mengelola sumur minyak tua sebagai potensi peningkatan PAD. Sudah saatnya pemerintah melakukan rekrutmen pengelola BUMD secara profesional dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Fight. Dalam hal pengelolalaan suatu perusahaan, tentunya ada kompetitor yang memiliki core bisnis yang sama. Untuk dapat berkompetisi dan berkembang, tentunya manajemen perusahaan harus dibekali dengan skill yang mumpuni, dan selalu ditingkatkan baik skill teknis maupun non teknis. Sehingga mampu bersaing meningkatkan hasil produksi dengan kemampuan teknisnya, melakukan lobby kepada calon investor, untuk penambahan modal apabila dianggap perlu, dan memberi nilai keuntungan bagi perusahaan.

Finish. Berikanlah kesempatan dan kepercayaan kepada menejemen baru BPE untuk menyelesaikan kinerjanya sampai akhir masa tugas dalam pengelolan perusahaan tanpa intervensi kepentingan politis dari manapun. Tentunya selalu diawasi, dan dievaliasi secara berkala sehingga dapat selalu dipantu kinerja manajemen dari waktu ke waktu.

Karena kita dapat bermimpi, mimpikanlah yang indah. Karena kita mampu berpikir, pikirkanlah yang besar. Karena kita hendak bekerja, bekerjalah yang terbaik, karena tidak ada kesuksesan di jalan yang setengah- setengah (Mtgw 2010).

Semoga pesan di atas menginspirasi kita untuk tidak berputus asa, dan berhenti berharap akan perbaikan pengelolaan sumur minyak tua di Kabupaten Blora secara profesional. Serta terus memberikan sumbangsih pikiran, tenaga, dan lain sebagainya untuk Blora “Cacana Jaya Kerta Bumi”. (*)

Penulis adalah : Angggota DPRD Blora 2014-2019 dari PPP.

 

 

Dibaca : 778x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan