Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Menu Gratis Bubur Khas Timur Tengah

Editor: nugroho
Rabu, 24 Juni 2015
edy purnomo
ANTRE : Warga Tuban sedang antri bubur Bubur Muhdhor yang dibagikan secara gratis di Masjid Muhdhor.

SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban – Mau menikmati sajian bubur khas timur tengah? Datang saja ke Masjid Muhdhor, Jalan Pemuda, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bubur ini disajikan secara gratis selama Ramadan mulai pukul 16:45 WIB.

Sajian bubur dengan bumbu gulai ini bernama Bubur Muhdhor. Makanan ini dibuat oleh Takmir Masjid setempat untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang ingin menambah menu buka puasa.

“Namanya bubur Muhdhor, diambil dari nama Masjid ini,” kata Ketua Takmir Masjid Muhdhor, Ustadz Alwi Assegaf kepada suarabanyuurip.com, Rabu (24/06/2015).

Bubur Muhdhor, merupakan salah satu tradisi yang dilakukan keturunan Arab dan dipertahankan sampai sekarang. Bubur ini dibuat sejak kisaran tahun 1937 silam.

“Jadi sebelum kemerdekaan tradisi ini sudah ada,” tegas Alwi Assegaf.

Setiap hari, bubur ini bisa menghabiskan sekira 30 kilogram (Kg) beras sebagai bahannya. Belum lagi racikan berupa bahan rempah-rempah yang harus dibeli setiap hari.

Awalnya mulanya pembuatan bubur ini disebabkan keinginan rasa memberi kepada fakir dan miskin. Kemudian sekarang berkembang untuk diberikan kepada siapapun yang tengah menjalankan ibadah puasa.

“Dulu bahannya dibuat dari swadaya masyarakat, sekarang memang ada juga donatur yang berkeinginan menyumbang untuk pembelian bahan bubur ini,” kata Alwi, mengungkapkan.

“Bubur ini untuk siapa saja yang berkeinginan merasakan menu buka puasa menggunakan menu ini,” lanjut dia.

Pembuatan bubur ini dimulai sekira pukul 12:00 setiap hari di bulan Ramadan. Selama beberapa jam, para pria keturunan Arab ini mengaduk tepung beras di bejana yang dibuat dari kuningan selama bergantian.

“Kalau sampai telat mengaduknya bubur tidak akan jadi,” kata Agil, salah satu pembuat bubur yang setiap hari ada di Masjid Muhdhor.

Selang tiga jam kemudian, adonan beras ini dicampur dengan garam dan bumbu gulai. Bumbu ini pun sudah diracikkan sendiri oleh istri-istri mereka sebelumnya. Ketika ditanya, Agil mengatakan bumbunya memang mirip dengan pembuatan gulai pada umumnya.

“Kalau bumbunya sudah diracikkan istri-istri di rumah, di sini kita tinggal mengaduk dan mencampurkan,” kata Agil.

Baru pada kisaran pukul pukul 13:20 WIB, bubur ini selesai diaduk. Setelah didiamkan beberapa menit, bubur ini siap dibagikan kepada masyarakat. Bubur ini enak untuk dimakan dengan masakan lain, seperti kuah lodeh, asem, ataupun masakan yang lain.

“Dimakan dengan apapun enak, makanya setiap sore cukup banyak yang mengantri disini,” kata Agil.

Tidak hanya warga biasa yang mengantri, tetapi juga beberapa takmir Musholla dan Masjid yang ada di Tuban ikut pula mengantri bubur ini untuk takjil buka puasa.

“Kalau Masjid dan Musholla kita dulukan soalnya kan dibuat takjil, kemudian kita langsung bagikan kepada masyarakat secara umum,” kata Agil.

Semasa kecil, kata Agil, banyak di tempat lain yang membuat bubur serupa ketika Ramadan. Seperti halnya di Kabupaten Gresik dan juga Kota Surabaya.

“Tetapi sekarang kayaknya tinggal di sini, yang lainnya sudah tidak ada,” kata pria lahir dan besar di Tuban ini.

Bubur ini, bagi penikmatnya mempunyai cita rasa tersendiri sebagai menu buka puasa. Rasanya yang gurih dengan campuran daging dan rempah-rempah cocok disandingkan dengan sayuran yang lain.

“Saya memang setiap hari antri bubur di sini,” kata Tamijah (39), salah satu warga.(edp)

Dibaca : 683x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan