Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Meragukan Eksplorasi Sumur Migas di Blora

Editor: samian
Senin, 24 Oktober 2016
dok SBU
Kilang Humpuss di Cepu.

SuaraBanyuurip.com

Oleh : Ahmad Sampurno

Keberadaan sumber minyak dan gas bumi (Migas) disuatu daerah tentu menjadi impian bagi pemimpin dan masyarakatnya agar dapat membantu merubah kondisi yang ada. Selain perubahan dibidang infrastruktur tentunya juga dibidang perekonomian. Namun impian manis itu bisa berubah menjadi keraguan manakala banyak kegagalan aktivitas yang dilakukan perusahaan. Seperti halnya dirasakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah.

Harapan besar Pemkab Blora terhadap banyaknya proyek eksplorasi sumur Migas di wilayahnya bisa membuahkan hasil. Sehingga dapat membawa dampak positif bagi masyarakat. Salah satu diantaranya adalah percepatan pertumbuhan ekonomi.

Dengan keberhasilan proyek eksplorasi bahkan bisa mencapai produksi, maka roda perekonomian masyarakat Blora perlahan dapat berputar semakin cepat. Terlebih jika di Blora khususnya Cepu, kilang milik humpuss dengan kapasitas 10.000 barel per hari (bph) bisa diaktifkan kembali, setelah 18 tahun tidak pernah difungsikan sejak awal konstruksi diselesaikan.

Nampaknya, harapan dari tambang emas hitam itu semakin pekat dan semakin tidak terlihat. Rasa pesimistis dan rasa ragu akan keberasilan proyek tersebut mulai berkecamuk menghantui.

Setelah satu persatu proyek pengeboran di Blora urung membuahkan hasil atau bisa dikatakan gagal. Meski dengan dalih, jika dihitung dari nilai ekonomis masih jauh. Bahkan, pihak luar negeri yang ikut investasi dalam proyek itu pun memutuskan untuk putus dari kerjasama. Sehingga saham sepenuhnya milik Indonesia melalui Pertamina.

Diantara proyek pengeboran yang gagal itu adalah, Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina, PT Banyubang Blora Energi (BBE) yang mengerjakan proyek di lapangan Banyubang. Kemudian Pertamina EP Cepu Alas Dara Kemuning (PEPC ADK) yang menggarap sumur Eks-Humpuss namun sampai saat ini masih dalam kajian.

Dari empat kali re-entry sumur, hasilnya masih dalam kajian. Diantaranya, Sumur NGBT-01, Sumur NGBU-04, Sumur ALSD-01, Sumur ALSD-04. Tidak mau menyerah, PEPC ADK kembali melakukan pengeboran di wilayah Kabupaten Blora.

Kali ini PEPC ADK melanjutkan proyek pengeborannya di lapangan Kemuning pada sumur KMD-01Desa Nglobo, Kecamatan Jiken yang diprediksi berpotensi menghasilkan gas.

Berhasil atau tidaknya proyek eksplorasi tersebut, tidak ada yang tahu. Karena proyek eksplorasi itu seperti halnya judi. Yang dikerjakan adalah sumur bekas milik PT Humpuss Patragas.

Seharusnya, Pertamina bisa belajar dari Humpuss untuk mengetahui karakteristik sumur yang telah ditinggalkannya. Sehingga tingkat keberhasilan untuk melakukan re-entry bisa ditentukan sebelumnya.

Muncul anggapan dari beberapa pihak, jika Pertamina tidak mempunyai data yang qualified. Sehingga Pertamina mengalami kegagalan dalam empat kali re-entry.

Kemudian, Pertamina hulu Energi (PHE) Randuguting terpaksa harus lari dari Blora karena tidak ada hasil memuaskan. Bahkan beberapa kali sumur yang dilakukan mengalami dry hole.

Saat ini PHE Randugunting tengah memulai tahapan Ekslporasi di wilayah Kabupaten Rembang, setelah mengalami kegagalan pada sumur Wonopotro-1 di Desa Plantungan Kecamatan Blora Kabupaten Blora.

Dengan banyaknya kegagalan, menjadi pemicu anggapan khalayak jika Pertamina perlu  belajar lagi ilmu eksplorasi dan merekrut Sumber Manusia (SDM) yang mumpuni.

Disamping keberanian untuk menggunkan alat yang lebih cangging untuk meminimalisir risiko kegagalan. Mestinya Pertamina tahu, langkah apa yang harus dilakukan. Atau mereka justru benar-benar tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Karena bisnis perminyakan membutuhkan biaya tinggi.

Sehingga ada dugaan, bisnis eksplorasi ini untuk main-main supaya terlihat ada proyek yang dikerjakan. Untuk menutupi kelemahan dan membuka kesempatan untuk “Bagi-bagi”.

Berbeda jika yang melakukan dari pihak Exxon –terlepas dari rasa Nasionalisme- ada kemungkinan besar lapangan minyak  yang dikerjakan Pertamina --ADK, Wonopotro, bahkan Banyubang atau lapangan-lapangan lain yang saat ini kerjakan para KSO Pertamina akan mendapatkan hasil.

Dan langkah yang diambil Exxon untuk pindah ke Bojonegoro adalah tepat. Karena mereka mempunyai data yang qualified jika di lapangan Banyu Urip terdapat cekungan kandungan minyak. Bersamaan dengan ditemukannya minyak dikawasan Banyu Urip, ditemukan pula kandungan minyak di lapangan kedung keris serta potensi gas di lapangan Jambaran-Tiung Biru (J-TB).

Jika beralihnya Exxon ke Bojonegoro, Jawa Timur lantaran ditolak oleh masyarakat, itu anggapan yang tidak bisa dibenarkan. Karena Exxon sendiri punya data dan perhitungan, memilih bertahan di Cepu dengan potensi kecil. Meninggalkan sumur-sumur Eks-Humpuss yang saat ini dikerjakan PEPC ADK atau ke Bojonegoro dengan potensi yang melimpah.

Bukan maksud untuk mengelukan perusahaan asing. Karena mereka punya ilmu dan teknologi tinggi. Mungkin benar, dengan anggapan beberapa pihak, jika Pertamina tidak ahli dalam bidang eksplorasi. Hal itu terbukti dengan banyaknya proyek eksplorasi yang dilakukan cenderung mengalami kegagalan.

Ada nasihat yang patut disimak, “Jika suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya”.

Penulis adalah wartawan suarabanyuurip.com.

Dibaca : 753x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan