Minggu, 18 November 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Merawat Seni Tradisional Gejok Lesung Lewat Festival Kemerdekaan

Editor: samian
Senin, 20 Agustus 2018
Ali Imron
URI-URI PENINGGALAN LELUHUR : Para lansia Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban piawai dalam menabuh lesung.

SuaraBanyuurip.com -

Tek, tok, tek, dug, tek, tok, tek, dug, teg, tug , dug”, begitulah suara lesung (alat penumbuk padi) bertalu-talu saat ditabuh. Tak pelak membuat siapapun yang mendengarnya musti bakal teringat ketika bernostalgia masa lalu. Tetabuhan itu dilakukan oleh warga masyarakat Tuban, Jawa Timur, di acara festival Kemerdekaan RI ke 73.

BEBERAPA orang yang telah lanjut usia (lansia) dari Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, piawai melakukan penabuhan lesung dengan saling bergantian. Tetabuhan itu dikenal dengan sebutan “Klotekan atau Gejok Lesung”.

“Sampai sekarang kami masih merawat gejok lesung,” demikian ujar Kepala Desa Kembangbilo, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Muhammad Abdul Rokim, kepada Suarabanyuurip.com disela-sela festival lesung dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73 di lapangan desa setempat, Senin (20/8/2018).

Di depan ratusan penonton dari Kecamatan Tuban, Merakurak, Semanding dan sekitarnya, Rokim begitu akrab disapa menambahkan, ide festival lesung ini berawal dari keinginan para tetua desa. Mereka ingin menghidupkan warisan seni tradisional turun temurun tersebut.

Di Kembangbilo penabuh lesung didominasi perempuan lansia. Generasi muda masih enggan belajar klotekan lesung, karena ada anggapan kuno dan ketinggalan jaman. Oleh karena itu, melalui festival ini diharapkan perlahan menggugah kiat kawula muda untuk melestarikannya.

Dimasanya, lesung merupakan alat penumbuk padi yang membuat masyarakat rukun. Kerukunan itu terwujud, karena untuk menumbuk padi minimal dilakukan enam sampai tujuh orang. Disela-sela itu, para penabuh juga memainkannya sebagai hiburan.

“Kejayaan lesung kian pudar, setelah perkembangan teknologi yang lebih modern,” tegas kades ramah itu.

Sekalipun terancam punah, tapi di desa tepian Kecamatan Kota ini masih menyimpan 30-an lesung. Sedangkan Lansia yang bisa klotekan lesung, lebih dari seratusan. Mereka yang pandai memainkan lesung rata-rata berusia diatas 50-an tahun.

Dari 311 desa dan 17 kelurahan di Kabupaten Tuban, Kembangbilo menjadi satu-satunya desa yang mengangkat kesenian lesung dalam kegiatan kemerdekaan. Targetnya tahun depan akan digelar acara lesung yang lebih meriah lagi.

Penabuh lesung yang merupakan peserta festival, Sulikah, harus berlatih selama dua pekan bersama lima lansia tetangganya. Direntang waktu itu, kelompoknya cukup berhasil menyuguhkan tabuh lesung kodokan, dan tembang “perahu layar”.

“Baru sekali ini lesung dimainkan di acara Agustusan,” ungkap perempuan bertubuh tinggi semampai ini.

Sebagai saksi kejayaan lesung, Likah membeberkan beragam manfaatnya. Mulai sebagai penanda awal panen, tanda adanya bahaya (maling, banjir, dan pegebluk), komunikasi, menyambut tamu kehormatan, maupun acara mantenan dan sunatan.

“Dulu saat ada yang mantenan, sepekan sebelum hari H pasti suara lesung bertalu-talu,” jelasnya mengisahkan.

Setelah melihat penampilan beberapa kelompok, Camat Tuban, Sugeng Winarno, kagum dan tidak menyangka di Kembangbilo masih memiliki lesung. Tahun depan diharapkan festival lesung, bisa dihelat lebih semarak lagi.

“Kalau tahun ini satu lagu yang dibawakan penabuh, tahun depan bisa dua lagu,” sambung mantan Camat Jenu ini.

Sugeng optimis lesung akan bangkit. Salah satunya ditampilkan dalam even kecamatan maupun kabupaten. Di wilayahnya lesung sendiri, belum dimiliki semua desa maupun kelurahan.

Yang pasti seni tradisional lesung layak untuk dihidupkan kembali agar menjadi andalan kesenian daerah. Paling tidak dengan perhatian pemerintah kecamatan dan kabupaten, lesung akan kembali dikenal masyarakat luas. Syukur-syukur mereka belajar untuk memainkan gejok lesung.

"Menguri uri peninggalan leluhur perlu dilakukan agar tidak punah ditelan perkembangan zaman," pungkasnya. (Ali Imron)

Dibaca : 570x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan