Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Merefleksi Makna Hutan di Hari Pahlawan

Editor: samian
Jum'at, 10 November 2017
Ali Imron
PERINGATI HARI PAHLAWAN : Puluhan siswa SMK Kehutanan Gomang bersama Perhutani saat menggelar upacara Hari Pahlawan Nasional.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Untuk meningkatkan spirit Nasionalisme, Pondok Pesantren (Ponpes) Walisanga Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bersama Perhutani menggelar upacara Hari Pahlawan Nasional (HPN) tanggal 10 Nopember. Mereka ingin merefleksi makna hutan bagi perjuangan pahlawan yang gugur dalam perebutan kemerdekaan.

"Hari Pahlawan Nasional ada hubungan erat dengan hutan," ujar pengasuh Ponpes Walisanga,  KH. Noer Nasroh Hadiningrat, kepada suarabanyuurip.com, setelah upacara di halaman SMK Kehutanan binaan Perhutani Provinsi Jatim, Jumat (10/11/2017).

Sejak dulu keberadaan hutan melindungi ribuan nyawa masyarakat, dan pejuang. Oleh karena itu, tugas orang-orang perhutani harus memprioritaskan sandang dulu dibandingkan pangan. Dedaunan di hutan harus dibiarkan rimbun dan meneduhkan dulu.

Kalau hutan dibuat sarana sandang, pangan otomatis ikut. Contohnya tanaman sela dan tumpang sari dapat hidup, mulai jagung, kacang, dan ketela pohon yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, ketika hutan dieksploitasi untuk tambak, lahan pertanian, otomatis akan berubah kepentingannya.

"Padahal manfaat hutan sangat besar sekali," imbuhnya.

Hutan selama ini menjadi sandangannya dunia/jagat. Kalau tidak ada hutan artinya jagat tidak punya pakaian lagi. Kalau tidak punya pakaian akan terbuka kemaluannya. Kalau kemaluannya selalu terbuka dan terus terbuka, tentu tidak ada bedanya dengan orang gila.

Pengasuh SMK Kehutanan, Kristomo, secara kontinu terus memotivasi dan mendorong pelajar untuk melestarikan hutan. Pada prinsipnya hutan bukan milik generasi sekarang, tapi milik masa depan.

"Tak salah jika Perhutani menggelar upacara pada momentum 10 Nopember di Ponpes Walisanga," sambung perwakilan Perhutani Provinsi Jatim.

Salah satu mitra Perhutani yang hadir, Achmad Machsun, menegaskan, melestarikan dan menjaga hutan merupakan anjuran Tuhan. Termasuk juga bagian terpenting meminimalisir percepatan hari kiamat. Sekaligus persoalan pelestarian hutan, bagian dari amal jariyah yang dibawa mati kelak.

"Menjaga hutan sama halnya menyumbang Oksigen bagi seluruh alam," sergahnya.

Sebagai rimbawan, Adm Perhutani Bojonegoro, Daniel Budi Cahyono, juga memaparkan, mempertahankan NKRI itu prioritas Perhutani. Salah satu caranya menjaga kelestarian hutan Jawa. Hal ini karena, 60% sistem kehidupan masyarakat Indonesia disangga hutan.

"Kalau hutan rusak sama halnya pertahanan Indonesia diambang kehancuran," jelasnya.

Jika ingin menghancurkan Indonesia, tidak perlu mengajak perang. Cukup rusak hutannya, maka seluruh sistem kehidupan akan lumpuh. Perhutani tidak akan membiarkan itu terjadi.

Daniel merasa dan meyakini, pengelolaan hutan harus mengutamakan aspek ekologi. Baru kemudian aspek kemanfaatan sosial dan ekonomi akan mengikuti dengan sendirinya.

Setelah kita mengarahkan semua sistem, kebijakan untuk melestarikan hutan. Otomatis pertanian, peternakan, dan wisata akan selaras dengan pengelolaan hutan.

"Pada titik inilah akan terwujud jargon hutan lestari dan rakyat mukti," pungkasnya. (Aim)

Dibaca : 103x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan