Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Catatan suarabanyuurip dari Tambang Emas Antam

Miliki Tujuh Portal Ore, Terbesar di Pulau Jawa

Editor: nugroho
Minggu, 13 September 2015
12
ririn wedia
BAWAH GUNUNG : Salah satu terowongan di bawah Gunung Pongkor menuju penambangan emas yang dikelola PT Antam.
SuaraBanyuurip.com
Menyusuri terowongan

SuaraBanyuurip.com

Oleh : Ririn Wedia Nafitasari

Bogor - Keberadaan industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi pengalaman berharga bagi saya. Melalui berita hasil liputan di suarabanyuurip.com, saya mendapatkan undangan Workshop dari Kementerian Koordinator Perekonomian melalui Extractive Industries Transparency Initiative (EITI). Pelatihan digelar selama 5 hari pada 6-9 September 2015 lalu di Bogor, Jawa Barat.

Pelatihan ini diikuti 25 jurnalis media nasional. Saya, mungkin, satu-satunya jurnalis dari media lokal yang berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut.

Dari semua materi yang diberikan nara sumber, salah satu hal menarik adalah ketika saya dan para peserta melakukan perjalanan ke lokasi penambangan emas. Tambang emas yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini berada di Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Perjalanan dari hotel menuju Gunung Pongkor cukup membuat jantung berdetak kencang. Bagaimana tidak, bus yang kami kendarai terus mengeluarkan tenaga untuk dapat melewati jalan menanjak dan tikungan tajam.

Selama hampir dua jam saya merasakan was-was. Namun perasaan itu terbayar ketika semua peserta disambut ramah oleh manajemen PT Aneka Tambang (Antam), pengelola penambangan emas di Gunung Pongkor tersebut.

Dari keterangan salah satu karyawan PT Antam, Arief Armanto, Gunung Pongkor ini merupakan tambang bawah tanah terbesar di Pulau Jawa. Produksi yang dilakukan adalah 24 jam sehari, 7 hari seminggu setiap tahun.

Itu berarti, produksi yang dilakukan tanpa berhenti. Tak mengherankan jika Antam Pongkor mampu memproduksi lebih dari 382.983 WMT oRE, 1.607 Kg Emas dan 13.352 Kg Perak di tahun 2014.

Usai mendapatkan pemaparan terkait kegiatan penambangan yang akan berakhir tahun 2019 ini, saya dan semua peserta menuju lokasi tambang yang berada di perbukitan. Sebelum memasuki lokasi, semua peserta wajib menggunakan peralatan keselamatan seperti helm berbentuk bulat berwarna kuning lengkap dengan penutup telinga, masker, rompi safety, dan sepatu boot berkuran besar dan panjang.

Tak ketinggalan kami juga mendapat briefing dan berdoa. Setelah itu kami mulai memasuki terowongan. Kondisinya gelap gulita tanpa ada penerangan sedikitpun. Rasa merinding pun muncul.

Namun dengan pengawalan dari kepala keamanan, kami dapat melalui jalan selebar 3 meter itu dengan tenang.

Di dalam lokasi pertambangan di Pongkor ini memiliki tujuh portal (pintu) guna memperoleh Ore. Ore adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak (diambil) mineral berharganya secara ekonomis baik itu logam maupun bukan logam. Bijih diekstraksi melalui penambangan, kemudian hasilnya dimurnikan lagi untuk mendapatkan unsur-unsur yang bernilai ekonomis. Dari portal tersebut, rata-rata tambang berada 500 meter dari permukaan laut.

Informasi yang saya terima, masing-masingg portal yang dibangun memiliki waktu yang berbeda-beda. Yakni antara tahun 1992 sampai dengan 2014.

Perjalanan pun terus berlanjut. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin dalam dan pengap. Melalui lampu yang terpasang pada helm, kami menuju salah satu lokasi tempat penambang melakukan pengeboran pada dinding gunung. Di lokasi ini, suara mesin terdengar sangat keras, debu dan bau apek semerbak mengelilingi udara sekitar.

Namun dua orang penambang tampak tak memperdulikannya. Seperti sudah terbiasa mereka terus bergelut dengan mesin di tangan. Dengan sekuat tenaga mereka berupaya menghasilkan ore.

Bekerja di dalam sebuah terowongan menjadikan tak banyak orang yang mengetahui bagaimana kerasnya hidup sebagai seorang penambang emas di Gunung Pongkor ini. Bahkan, tidak ada satupun dari peserta yang mampu mengkorek berapa gaji yang mereka terima setiap bulannya. Apakah sebanding dengan tetesan keringatnya ?

Belum lagi kecelakaan kerja mengintai mereka setiap saat. Bisa saja, akibat faktor alam, langit-langit goa buatan manusia itu runtuh dan menimpa tubuh-tubuh para penambang tersebut.

Namun dari keterangan yang saya dapatkan, bahaya itu dapat dihindari selama para pekerja mengikuti peraturan maka kecelakaan kerja bisa dihindari.

Selain pertaruhan nyawa para penambang, ada hal yang lebih membuat saya miris. Yakni cerita tentang para penambang emas tanpa izin atau dalam bahasa setempat disebut Gurandil.

Para Gurandil ini melakukan pencarian emas di lokasi sekitar tambang milik PT Antam hanya dengan berbekal linggis, martil, pemahat, lilin, dan korek api.

Dari sumber yang saya dapat, para Gurandil ini sebenarnya mengetahui jika perbuatannya ‘mencuri’ melanggar hukum dan penuh resiko. Namun, karena tidak ada lagi pekerjaan lain untuk mencari nafkah, terpaksa mereka mendapatkan emas dengan bertaruh nyawa.

Siapapun mengakui, Emas memiliki daya tarik tersendiri. Selain bisa dijadikan sebuah perhiasan, emas merupakan investasi yang tidak akan pernah mati. Inilah yang membuat sebagian banyak orang rela mempertaruhkan nyawa demi mendapatkannya. Seperti para penambang dan Gurandil.

Perjalanan di dalam terowongan di Gunung Pongkor pun berakhir. Saya merasa puas meski dengan nafas tersengal-sengal. Seperti biasa, petugas kemanan dan karyawan PT Antam tidak bersedia memberikan keterangan resmi mengenai kegiatan para penambang di dalam lokasi.

Dibaca : 764x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan