Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Minta BLH Tangani Masalah Lingkungan Sumur Tua

Editor: nugroho
Senin, 06 Oktober 2014
ririn wedia
HEARING : Komisi D DPRD Bojonegoro meminta BLH tangani masalah lingkungan di sumur minyak tua.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendorong pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat untuk memantau kondisi lingkungan di sumur tua di Kecamatan Kedewan dan Kecamatan Malo.

Anggota Komisi D DPRD Bojonegoro, Nasuha, mengungkapkan, jarak sumur satu dengan sumur lainnya hanya sekitar 100 meter. Sehingga sangat berpotensi menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari blow out.

“Saya minta agar eksekutif bisa mencari jalan keluar pada kerusakan lingkungan yang terjadi dan jarak sumur bisa diatur,” ujar Nasuha dalam  dalam rapat dengar pendapat dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH), Senin (6/10/2014).

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Bojonegoro, Tedjo Sukmono, menyatakan, pernah melakukan koordinasi tentang keberadaan sumur minyak tua dengan Pertamina EP Asset 4, selaku pemilik Wilayah Kerja Pertambangan (WK). Dari hasil koordinasi itu diperoleh penjelasan jika pengelolaan sumur tua sudah diserahkan kepada Koperasi Unit Desa (KUD). 

"Tetapi, ternyata ada dusta antara mereka, sehingga banyak penyimpangan di lapangan. Seperti terjadinya blow out ini karena penambangan dilakukan dengan alat canggih bukan secara tradisional,” sambung Tedjo, mengungkapkan.

Dia menjelaskan, KUD telah melakukan manuver sendiri dengan menjalin kerjasama  dengan investor asing tanpa berkoordinasi dengan Pertamina Asset 4. Padahal sudah ada kerja sama operasi (KSO) Pertamina di sana. 

"Penyimpangan inilah yang menjadikan permasalahan pelik di daerah sumur tua. Karena itu, kami sudah melaporkan masalah itu ke kepolisian dan Kementrian Lingkungan Hidup agar memberikan peringatan tegas kepada Pertamina ,”tegasnya.

Mantan Staf Ahli Bupati ini menyatakan, banyak sumur muda di wilayah penambangan tradisional yang di buat oleh warga sekitar. Oleh sebab itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan penataan ulang baik lingkungan maupun sosial.

“Karena bahaya sekali, hasil dari laboratorium lumpur akibat blow out kemarin mengandung lemak dan CO2, apabila hujan turun otomatis akan merembet ke pemukiman,”pungkas Tedjo.(rien)

Dibaca : 690x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Selasa, 04 November 2014 11:18
Menurut Permen ESDM No. 1 Tahun 2008, sumur tua adalah sumur- sumur minyak bumi yang di bor sebelum tahun 1970 dan pernah diproduksikan serta terletak pada lapangan yang tidak diusahakan pada suatu wilayah kerja yang terikat kontrak kerjasama dan tidak diusahakan lagi oleh kontraktor. Sedangkan mayoritas sumur minyak di wonocolo adalah sumur minyak yang baru dibor, apakah bisa dikatakan sebagai sumur tua menurut permen ESDM ? Jika tidak, apakah usaha pengeboran sumur minyak baru di wonocolo bisa diwadahi oleh kerjasama pengelolaan sumur tua antara Pertamina dengan KUD setempat? Jika tidak bisa, kegiatan pengeboran sumur baru di wonocolo legal atau ilegal? Jika ilegal, mengapa pertamina mau menampung dan membeli minyak mentah dari pengeboran sumur minyak baru di wonocolo? Bisakah suarabanyuurip.com mengungkap hal ini kepada masyarakat? Kami tunggu.
wiwid
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan