Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Nasib Guru Tak Lagi Nelangsa

Editor: teguh
Kamis, 26 November 2015
doks/suarabanyuurip.com
Totok Martono SPd.

Oleh : Totok Martono SPd

SETIAP peringatan Hari Guru Nasional, saya selalu terkenang saat masih berstatus sebagai guru. Sekitar 4 tahun (2009-2012) saya menjadi guru SMKN, merasakan bagaimana rasanya mengajar di dalam gelas, berbaur dengan kalangan 'priyayi' yang didaulat dengan status terhormat Pahlawan tanpa tanda jasa. Sekitar 4 tahun lalu profesi itu dengan berat hati saya tinggalkan.

 

Pernah berkecimpung di dunia Oemar Bakrie saya bisa merasakan pergeseran nilai profesi guru. Menjadi seorang guru tidak lagi atas nama pengabdian namun juga pada penempatan status sosial. Ini dikarenakan profesi guru dimata masyarakat masih sangat terhormat dan mulia. Guru dipandang sosok pandai, bisa dijadikan panutan seperti penjabaran kata guru di GUgu dan ditiRU.

Mengapa saya mengatakan terjadi pergeseran makna pengabdian dengan penempatan status sosial ? Jika pada tahun 80-90 an nasib guru masih cukup memprihatinkan. Meski bergaji kecil atau tidak digaji sama sekali mereka tetap tegar dan penuh dedikasi menunaikan tugas mulia.

 

Kalau boleh saya mengatakan, para guru kala itu benar-benar mengabdi atas nama panggilan jiwa. Pengabdian tulus inilah yang barangkali melahirkan predikat terhormat guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Sejak satu dasawarsa ini profesi guru menjadi pekerjaan yang paling diburu dan diidamkan. Lebih diperhatikan kesejahteraan guru dengan adanya program sertifikasi menjadi magnet orang berlomba-lomba ingin menjadi guru.

 

Menjadi guru bukan lagi panggilan jiwa untuk mencerdaskan generasi bangsa, namun berubah nawaitu memburu kesejahteraan. Fenomena ironis ini yang -diakui atau tidak-menjadi akar dari pergeseran makna pengabdian menjadi penempatan status sosial.

Saling berlomba-lomba menjadi guru meski harus menjadi GTT atau guru honorer. Siapa tahu nanti bisa diangkat Pegawai Negeri Sipil (PNS) lalu mendapat sertifikasi.

Jika masih banyak guru berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) atau guru honorer, hidup mereka juga tidak miskin-miskin amat. Kerelaan menjadi GTT bisa jadi bukan atas nama pengabdian, namun pada penempatan status sosial.

 

Guru GTT sekarang nasibnya tidak senelangsa guru jaman dulu.  Saya pernah membuat penelitian kecil kehidupan GTT yang hasilnya luar biasa mengejutkan. Mereka yang 'nekad' menjadi GTT jika diprosentasikan 90 persen dari keluarga berekonomi mapan. Sebagian besar para GTT berlatar belakang keluarga pendidik. Bapaknya guru, ibunya guru atau kedua orang tuanya berprofesi guru.

 

Meski menjadi GTT bergaji kecil, mereka dari keluarga mapan ini tidak akan risau akan kesulitan ekonomi. Biasanya orang tua mereka akan tetap membantu finansial selama dibutuhkan.

Dulu saya sering terkagum-kagum dengan teman guru GTT yang sering gonta-ganti motor gress dari show room. Setelah saya desak dari mana mendapatkan uang, teman GTT itu dengan bangga menjawab, "Dibelikan Ortu." Saya pun hanya mampu tersenyum kecut.

Saya juga terheran-heran setiap mendatangi hajatan teman GTT yang menikah. Digelar dengan pesta mewah dan meriah.Bahkan sering digedung megah, Kali ini saya tak perlu bertanya lagi dari mana dananya. Saya tahu percis jawabnya, Dibiayai orang tua!

Menjadi GTT kini juga tidak miskin-miskin amat karena gaji kecil. Hampir disetiap lembaga pendidikan telah menstandarkan honor yang layak bagi GTT. Rata-rata untuk setiap jam honor GTT dikisaran Rp20 ribu-Rp30 ribu per jam pelajaran. Bahkan di sekolah besar nilai honor bisa mencapai Rp50 ribu per jam. Nilai honor tersebut terus meningkat setiap tahun. Honor itu didapat dari uang SPP siswa yang setiap tahun terus merangkak naik mahalnya.

 

Untuk mendapat penghasilan yang besar, banyak guru yang nyabang mengajar di beberapa lembaga pendidikan. Jika dikalkulasi perbulan, meski kalah jauh dari gaji guru PNS bersertifikasi, honor yang dikantongi masih di atas Upah Minimum Kabupaten (UMK)

Selain penghasilan yang lumayan besar itu, saya pikir, profesi guru paling dimanjakan pemerintah. Guru bisa menikmati liburan panjang dipertengahan semester pendidikan dan diakhir tahun pelajaran. Liburan yang tidak bakalan dinikmati profesi apapun dijajaran birokrasi. Satu lagi, setiap tahun guru bisa menikmati rekreasi gratis menemani siswa siswinya kala purna siswa.

Dihari guru ini patut kiranya lebih banyak tafakur dan bersyukur. Lebih mengkukuhkan semangat, meluruskan niat memberikan pengabdian terbaik mencerdaskan generasi bangsa. Puluhan, ratusan hingga ribuan anak yang pernah diajar akan selalu memanjatkan doa tulus dan mengukir nama guru disanubari sepanjang hayat dikandung badan.

"Terpujilah wahai engkau Bapak Ibu Guru, Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku...”

 

Selamat Hari Guru.

 

*) Penulis adalah Jurnalis yang mantan guru.

Dibaca : 571x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Kamis, 26 November 2015 15:50
kalau tahu guru sekarang nasibnya baik, apa tidak menyesal pindah haluan jadi Jurnalis, Pak Guru...?
Teguh Budi Utama
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan