Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Nduk Tuban 2006 Terbitkan Kumpulan Cerpen

Editor: samian
Minggu, 29 Oktober 2017
Ali Imron
Penulis cerpen dan Nduk Tuban 2006, Linda Tri Sumarno.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Menjadi pendidik di SDN 1 Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, atau sekitar Lapangan Migas Tawun, tak membuat Linda Tria Sumarno berhenti berkarya. Berkat kegigihannya perempuan yang didaulat menjadi Nduk Tuban tahun 2006 silam, pada tahun ini berhasil menerbitkan kumpulan cerpen berjudul "eutanasia".

"Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saya suka menulis," ujar Linda Tria Sumarno, kepada suarabanyuurip.com, saat dijumpai di Jalan Basuki Rahmat Tuban, Minggu (29/10/2017).

Perempuan yang lahir di Bangilan pada 20 Mei 1984 ini, menyelesaikan kumpulan cerpen dalam waktu sembilan bulan. Jeda tersebut sama seperti ibu mengandung, yang membutuhkan waktu sempurna untuk melahirkan buah hatinya. Berawal dari keresahan maraknya ketimpangan di tanah kelahirannya, akhirnya terbitlah eutanasia.

Buku kumpulan cerpen dengan tebal 147 halaman ini, memuat 12 karya cerpen. Salah satu cerpen berjudul eutanasia berada di halaman 53. Menurut ilmu medis, eutanasia adalah praktik pencabutan kehidupan manusia melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit. Biasanya dilakukan dengan memberikan suntikan yang mematikan.

"Eutanasia dalam cerpen ini bermakna lain dan pembaca berhak menafsirkan sendiri," imbuh anak ketiga dari pasangan Bambang Sumarno dan Sri Purwaningsing.

Tak segan, Linda sapaan karibnya ingin mengajak pembaca untuk menyingkap dan membincang tentang awal abad 16 Masehi. Diantaranya membicang tentang Sandur, pantai Tuban, Kuil dengan lambang yuyu di pintu gerbangnya, alamnya, orang-orangnya, juga realita masih banyak kemiskinan.

Lebih dari itu, istri Poppy jaos Hoa ini juga menyingkap kesewenang-wenangan tentang penderitaan masyarakat yang berusaha dibungkus oleh pihak tertentu. Harapannya mereka pengambil kebijakan seolah tutup mata.

Semangat menggebu-gebunya juga tak lepas dari nasihat tokoh besar Islam, Imam Al-Ghazali. "Jika kamu bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah". Selain itu, sebagai perempuan Linda ingin jejak dan pemikirannya abadi dan dikenang.

"Hanya perempuan cerdaslah yang bakal dikenang dunia," pesan anggota komunitas literasi Kali Kening Bangilan.

Disetiap cerpennya juga terselip pesan bagi generasi masa depan. Dunia ini bukan berisi gelak tawa dan kesenangan, tapi juga tentang kesedihan, ketidakadilan, penindasan, dan kesewenangan yang harus dilawan tanpa kompromi.

Sebagai pihak yang dipercaya memberikan pengantar kumpulan cerpen ini, Soesilo Toer, menjelaskan gaya nglantur Linda diyakini mampu mengungguli keindahan "raja nglantur kenamaan, Ivan S Turgenev, pengarang kelahiran Rusia abad 19.

"Semoga dengan membaca kumpulan cerpen Linda menjadi titik awal bangkitnya seni Sastra Indonesia bersinar kembali," tandas pengelola Perpustakaan Pataba (Pramoedya Anak Semua Bangsa).

Sebagaimana diketahui, Linda waktu studi di SMAN 2 Tuban juga dipercaya menjadi pimpinan redaksi serta pengisi kolom cerpen di Majalah Prospek. Beberapa cerpennya juga pernah dimuat di media cetak Radar Jawa Pos, dan karya lain yang sudah terbit berjudul "Antologi Cerita Pengarang Tuban".(Aim)

 

 

Dibaca : 217x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan