Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Oknum Wartawan Peminta Sumbangan Gentayangan di Tuban

Editor: samian
Rabu, 13 September 2017
Ali Imron
Ketua RPS Tuban, Khoirul Huda.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Akhir-akhir ini masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, resah dengan maraknya oknum yang mengaku wartawan gentayangan di Tuban meminta sumbangan dalam rangka ulang tahun pers. Untuk meyakinkan korbannya, mereka kerap menunjukan kartu Id Cardnya.

"Salah satu sasaran oknum tersebut yakni MA Salafiyah di Kecamatan Merakurak," ujar Sekretaris Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban, Dion Fajar Arianto, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (13/9/2017).

Diketahuinya kasus ini, setelah seorang guru MA Salafiyah menghubungi Dion melalui nomor ponsel yang tertera pada website RPS. Mengetahui modus oknum wartawan teraebut, pria asal Jombang ini langsung melarang memberi sumbangan dalam bentuk apapun.

Fenomena meminta sumbangan semacam ini, perlu diwaspadai oleh publik. Dalih ulang tahun pers merupakan alasan oknum wartawan untuk mencari penghasilan tambahan.

Secara umum Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Apabila pada bulan September masih merayakan ulang tahun, tentu perlu dipertanyakan.

"Siapapun yang didatangi oknum wartawan dengan dalih meminta sumbangan tolak saja," pinta jurnalis media Transmedia ini.

Segendang seirama diungkapkan Ketua RPS Tuban, Khoirul Huda. Wartawan media cetak Harian Bhirawa ini, menyesalkan adanya praktik meminta-minta mengatasnamakan wartawan.

Diduga dengan keikutsertaan oknum wartawan pada kegiatan kehumasan Setda Tuban, membuat keberadaan mereka diakui legitimasinya. Hal ini yang tidak etis, karena orientasi oknum tersebut bukan pada karya melainkan finansial.

Wartawan yang aktif di organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro ini, membagi tips kepada publik cara mendeteksi wartawan dan oknum yang mengaku wartawan. Cara pertama lihatlah dari gelagatnya. Wartawan ketika mendatangi nara sumber jelas menguasai persoalan. Apabila tidak paham, jelas ada indikasi untuk meminta uang.

Ciri berikutnya, wartawan hanya bertujuan untuk mengkonfirmasi temuan lapangan. Bukan meminta uang saku. Beda lagi kalau sudah ada kerjasama iklan.

Terakhir wartawan yang berorientasi pada karya, usai memperoleh keterangan pasti langsung pamit. Tidak ada motif mengintimidasi, atau menakut-nakuti korban dicemarkan nama di medianya.

"Apabila masih ragu bisa langsung menghubungi RPS atau Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Tuban," terang pria kelahiran Kecamatan Widang.

Huda meminta publik untuk lebih cerdas. Jangan takut pada wartawan, kalau memang tidak melakukan pelanggaran atau penyelewengan. Sejatinya jurnalis merupakan penyambung lidah publik ke pemerintah.

"Apabila ada yang memanfaatkan profesi ini mari berantas bersama," tegasnya.(Aim)

Dibaca : 287x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Rabu, 13 September 2017 13:40
sepakat dengan kebujakan yang di sampaikan oleh bapak ketua wartawan bapak huda birawa, bagaimana untuk menyikapi dengan adanya modus modus seperti itu, apakah cuman kita sher di berita atau ada tindak lanjutnya.
tikno
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan