Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Olah Buah Gadung, Meraup Omset Rp10 juta Sebulan

Editor: samian
Rabu, 04 Oktober 2017
Totok Martono
MENGOLAH KERIPIK GADUNG : Sejumlah karyawan sedang menjemur keripik gadung sebelum diolah menjadi camilan yang nikmat

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan - Cita rasa kripik gadung memang bisa menggoyang lidah. Namun jika dalam pengolahan kurang tepat akan menyebabkan keracunan bagi penikmatnya. Ditangan Kristanto buah gadung yang mengandung racun bisa diolah menjadi kripik yang gurih dan renyah. Bahkan sejak empat tahun lalu dari produksi kripik gadung bisa menghasilkan omset puluhan juta rupiah perbulan baginya.

"Membuat keripik gadung yang paling sulit memang menghilangkan kandungan racunnya. Jika pengolahan kurang tepat bisa menyebabkan pusing dan mual," kata Kristanto, warga asal Desa Puncakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini, kepada Suarabanyuurip.com.

Karena pengolahan keripik gadung yang sulit maka pengusaha yang melirik usaha ini bisa dihitung dengan jari. Di Kabupaten Lamongan sendiri bisa dibilang hanya Kristanto yang memproduksi kripik gadung.

Dalam seminggu rata-rata bapak dua anak ini bisa memproduksi sekira satu kwintal buah gadung. Buah gadung didapatkan dari wilayah Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, seharga Rp1000 perkilogram.

"Buah gadung termasuk buah musiman. Pasokan melimpah antara bulan Juli hingga September. Selama tiga bulan tersebut rata-rata pasokan buah gadung yang saya terima dari petani kurang lebih 20 ton," ujar Kristanto menguraikan.

Dalam pengolahannya buah gadung seberat satu kwintal jika sudah diproses menjadi keripik menyusut tinggal 50 kilogram. Jika dikalkulasi dalam satu bulan dia bisa memproduksi sekira 200 kilogram keripik gadung.

Untuk memproduksi keripik gadung Kristanto mempekerjakan 29 orang karyawan yang semuanya merupakan perempuan. Tenaga kerja paling banyak yaitu bagian pengupasan dan penjemuran.

Proses pembuatan keripik gadung sendiri cukup menyita waktu. Setelah dikupas hingga bersih buah gadung diiris tipis menggunakan alat iris khusus dengan ketebalan 3 milimeter. Kemudian irisan buah gadung dijemur di terik sinar matahari hingga sehari penuh

"Proses penjemuran sering menjadi kendala karena setiap musim penghujan penjemuran bisa berlangsung dua hingga tiga hari," papar pria kelahiran 2 Oktober 1980 ini.

Setelah kering betul irisan buah gadung diproses dengan bahan khusus untuk menghilangkan getah yang mengandung racun. Kemudian irisan buah gadung direbus berjam jam. Setelah perebusan dijemur lagi hingga benar-benar kering baru kemudian digoreng.

"Proses perebusan maupun penggorengan menggunakan kayu bakar. Karena cita rasanya lebih gurih dibandingkan menggunakan kompor gas," terangnya lagi.

Keripik gadung berlabel Puncak Rasa ini dipasaran dalam tiga kemasan yaitu kemasan kecil dengan harga Rp1000 perbungkus, kemasan sedang Rp5 ribu perbungkus dan kemasan besar Rp10 ribu perbungkus. Sampai saat ini produk keripik Kristanto pemasaranya baru sebatas wilayah Lamongan, Tuban dan Surabaya. Dari penjualan keripik keripik omset yang dikantongi Kristanto sedikitnya Rp10 juta setiap bulannya.

"Pangsa pasar keripik gadung masih cukup luas tapi saya sulit memenuhi permintaan pasar karena proses pembuatanya yang tidak mudah," tandas Kristanto (tok)

 

 

Dibaca : 173x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan