Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Olah Tetanen Ritual Petani yang Terpinggirkan

Editor: nugroho
Jum'at, 15 Juni 2012
Edy Purnomo
OLAH TETANEN : Tradisi bertani kental religi ini mulai tergerus jaman. Salah satu petani di Tuban saat ritual Olah Tetanen.

SuaraBanyuurip.com - Tuban

 

Perlahan ritual kaum tani yang dulu menghegemoni mulai ditinggalkan. Jaman bersama tanda-tandanya telah menggerus Olah Tetanen.

SEPERTI halnya tradisi yang kental nilai religi lainnya, kalangan petani di desa-desa di tanah air memiliki beragam tradisi. Demikian pula dnegan kaum tani di wilayah Kabupaten Tuban, Jatim. Satu diantara tradisi yang mulai ditinggalkan adalah Olah Tetanen.

Secara etimologis, Olah Tetanen, bisa diterjemahkan secara bebas sebagai tata cara bercocok tanam. Serumpun dengan tradisi petani lain di Indonesia, petani di belahan desa di wilayah Tuban juga memiliki tradisi bercocok tanam.

Tradisi ini selalu lekat dengan ritual. Konon Olah Tetanen tak mengenal klasifikasi masyarakat.  Mulai dari juragan, tuan tanah, hingga buruh tani pun melakoni tradisi tersebut. Apalagi, konon, tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bumi Ranggalawe.

Pada perkembangannya Olah Tetanen mulai ditinggalkan. Ritual disaat memulai bercocok tanam hingga akan menuai padi ini,  seolah tenggelam digerus zaman. Padahal tradisi ini pernah mengakar dan menyatu dalam kehidupan masyarakat petani.

Di samping itu banyaknya tudingan masyarakat yang menilai, bahwa ritual ini bertentangan dengan kaidah norma agama.  Hingga buntutnya tradisi klasik warisan leluhur ini tak berhasil diuri-uri. Akibatnya mulai dilupakan di tengah hiruk-pikuknya kehidupan masyarakat.

Menurut beberapa dokumentasi yang diperoleh SuaraBanyuurip.com dari Lembaga Kebudayaan Tuban (LKT), tradisi Olah Tetanen ini terdiri dari beberapa ritual yang kesemuanya memiliki makna di setiap lelakunya.

Olah Tetanen juga mempunyai aspek filosofis. Diantara apa saja yang akan dilakukan oleh petani dan kaitannya, mereka sadari sebagai bagian dari makhluk Tuhan. Diakui pula keberadaan mereka sebagai mahluk Tuban, juga ditakdirkan untuk berdoa dan mengucapkan rasa syukur kepada penciptanya.

Beberapa ritual Olah Tetanen itu diantaranya adalah Kawit Ngluku yang biasanya dilaksanakan saat akan membajak sawah. Ritual Nampek apabila akan mulai menyebarkan benih, Ndawut Tandur untuk mulai menanam padi,  Koleman yang dilakukan pada saat tanaman padi mulai berbiji. Ada juga Wiwit sebagai awal  apabila kita hendak memanen padi.

“Khusus untuk wiwit biasanya petani mempunyai pengharapan yang sangat besar. Yaitu  membentengi hasil panen dari segala mara bahaya, seperti hama, burung pipit, bencana dan semua hal yang bisa merusak hasil pertanian yang siap panen,” ujar Suantoko, peneliti tradisi masyarakat di Lembaga Kebudayaan Tuban.

Ada ritual lain setelah panen yaitu saat petani memasukkan biji padi untuk diolah menjadi beras. Tradisi ini dengan cara memasukkan ke dalam lumbung atau yang disebut nglumbung. Termasuk juga tradisi Kupatan Sapi yang mempunyai maksud sebagai ungkapan terima kasih, kepada sapi yang telah membantu petani selama menggarap sawah.

Tradisi pertanian ini sudah sangat jarang bisa ditemui di Tuban. Menurut catatan Suantoko,  desa yang masih sebagian petaninya memakai tradisi ini adalah Desa Ngino, Desa Sumber, Desa Genaharjo dan Desa Penambangan. Semuanya berada di wilayah Kecamatan Semanding. (edy purnomo)

 

Dibaca : 2051x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan