Sabtu, 17 November 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Orang Tua Polisikan Kepala Sekolah

Editor: nugroho
Selasa, 30 Oktober 2018
Ahmad Sampurno
DIVISUN: Korban saat berada di RSUD Blora untuk menjalani visum seteĺah diduga mengalami kekerasan dari kepala sekolah.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Orang tua siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melaporkan kepala sekolah (kepsek) ke polisi lantaran diduga melakukan kekerasan terhadap anaknya saat di sekolah, Sabtu (27/10/2018) siang. 

Dugaan kekerasan itu menimpa Ali Gufron kelas VI SD Negeri 1 Mojowetan, Kecamatan Banjarejo. Korban mengalami bengkak pada bagian pelipis sebelah kanan, akibat terbentur tembok. 

Merasa tidak terima, orang tua korban bernama Parmin kemudian melaporkan tindak kekerasan yang dlakukan Sumijan, Kepala Sekolah SDN Mojowetan ke Polsek Banjarejo.  

Tindak kekerasan itu bermula saat korban bersama teman-temannya bermain pecut usai pelajaran olahraga. Namun belum sempat pecut dibunyikan keburu kepala sekolah datang, dan kemudian diduga membenturkan kepala korban ke tembok hingga menyebabkan pelipisnya bengkak.

Merasa kesakitan, korban lantas pulang sambil menangis dan menceritakan kekerasan itu kepada orangtuanya. Tidak terima dengan perlakukan kepala sekolah, Parmin  langsung mendatangi kepala sekolah untuk menyanyakan peristiwa teraebut.

Tapi hingga jam sekolah berakhir tidak ada permintaan maaf dari kepala sekolah kepada keluarganya. Akhirnya Parmin bersama kedua anaknya mendatangi Polsek Banjarjo untuk melaporkan dugaan kekerasan terhadap anaknya. 

"Saya sakit hati. Tidak terima anak saya dibeginikan. Kalau sekedar disentil masih memakluminya. Tapi ini sudah keterlaluan," ucapnya.

Parmin berharap kepala sekolah bisa dipecat dari jabatannya, atau dipindah dari SDN Mojowetan karena diduga telah melakukan kekerasan.

"Banyak yang cerita kalau korbannya tidak hanya anak saya. Sebelumnya juga ada bahkan anaknya sampai ada yang pindah sekolah," terangnya.

Setelah mengadukan ke Polsek Banjarejo, Parmin kembali datang ke RSUD Blora untuk melalkukan visum anaknya. Sebab dia diminta pihak Polres (PPA) dan sudah ditunggu di RSUD. 

Sementara itu korban mengaku, saat itu yang bermain cemeti sebenarnya temannya. Setelah kepala sekolah datang, siswa lainnya pada kabur dan tinggal dirinya.

Kepala sekolah kemudian mendorong kepalanya hingga membentur tembok.

"Saya mau menyambung cemeti, belum tak buat mainan," tutur korban.

Usai melakukan Visum di RSUD Blora, kepala sekolah,  didampingi guru dan pengawas sekolah sudah menunggu di rumah korban. Kedatangan mereka untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

Namun, ayah korban belum bisa memaafkan tindak kekerasan tersebut. Sekalipun kepala sekolah dan rombongannya sudah berupaya merayu.

"Mohon maaf saya masih belum bisa. Masih sakit hati. Nanti saya rembuk dengan ibu," ucap Parmin.

Kepala SDN Mojowetan, Sumijan mengaku tidak membenturkan kepala korban ketembok, hanya 'jenggung'. Tapi karena waktu itu dekat dengan tembok jadi terbentur.

Dirinya berharap semua ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Sehingga tidak merembet keranah hukum. Apa yang dilakukannya tidak ada niat melukai, hanya mendidik agar lebih baik.

"Saya memang salah. Karena emosional dengar ramai-ramai di kelas," imbuhnya.


Kepala Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) satreskrim polres Blora, Ipda Lilik Widyastuti, menyatakan jika persoalan tersebut ditangani polsek Banjarejo.

"Hasil visum juga belum keluar," katanya singkat
(ams)

Dibaca : 6825x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan