Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Mengenal Staff Public Affairs PEPC

Pandu Subiyanto, Selalu Belajar dari Kehidupan

Editor: nugroho
Minggu, 16 Agustus 2015
dok/sbu
Staf Public Affairs PEPC, Pandu Subiyanto.

SuaraBanyuurip.com

Bersentuhan dengan gejolak warga sekitar pemboran migas sudah menjadi santapan Pandu Subiyanto. Namun dengan sikap luwes, sabar, dan komunikasi yang baik, gejolak sosial itu dapat ditanganinya.

Aksi amuk massa pekerja di area kerja engineering, procurement and construction (EPC) - 1 Lapagan Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam,  Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 1 Agustus 2015 lalu, telah menyita perhatian berbagai elemen masyarakat. Kejadian di dalam lokasi obyek vital itu telah menjadi isu nasional, bahkan internasional.

Sebab selam ini, Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, merupakan  salah satu mega proyek yang menjadi primadona. Muntahan minyak pada saat produksi puncak dari lapangan yang dikendalikan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu  disebut dapat memberi kontribusi terhadap kebutuhan energi nasional dari sektor migas. Namun dalam perjalananya pelaksanaan proyek Lapangan Banyuurip tidak pernah lepas dari gejolak sosial yang melibatkan masyarakat sekitar dengan perusahaan.

Bagi Staff Public Affairs Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), Pandu Subiyanto, gejolak sosial sebenarnya bukan sesuatu persoalan yang baru. Ia menilai semuanya  merupakan sebuah dinamika. Namun secara khusus, Pandu mengaku prihatin atas insiden amuk massa di EPC-1 beberapa waktu lalu. Sebab gejolak sosial bukan melibatkaan antara masyarakat dengan perusahaan seperti pada umumnya. Akan tetapi para pekerja proyek sendiri.

“Dengan kondisi seperti ini  yang rugi tidak hanya perusahaan, tapi semua pihak termasuk masyarakat luas. Sungguh kami sangat prihatin,” tandasnya.

Insiden tersebut juga seperti menggugah kenangan lama baginya. Pandu lantas mengisahkan ketika fasilitas pembangunan lain di Lapangan Banyuurip mulai dibangun. Kebetulan saat itu dirinya menjadi bagian staff EMCL.

Pandu menuturan, untuk membangun fasilitas produksi Lapangan Banyuurip melalui proses perjuangan yang panjang. Termasuk ketika terjadi gejolak sosial dari masyarakat, dia menjadi garda terdepan ketika warga setempat melakukan berbagai aksi demo mulai dari penolakan, permintaa ganti rugi lahan yang tidak sesuai harapan sampai minta pekerjaan.

Pandu pun memiliki cara tersendiri untuk menghadapi warga ketika gejolak sosial terus meradang. Tidak perlu banyak teori, pandu hanya menggunakan sikap yang luwes, sabar, dan gaya komunikasi yang bisa diterima oleh warga.

Penanganan yang luwes oleh Pandu, membuat warga bisa mengerti kondisi yang dihadapi perusahaan. Warga yang semula menolak atau memusuhinya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi perkawanan. Bahkan termasuk kepada trouble maker atau tokoh yang dianggap memiliki pengaruh dari warga yang melakukan aksi gejolak sosial. Dari eksistensinya kemudian dia cukup diperhitungkan berbagai pihak.

"Yang penting kita bertanggung jawab dengan apa yang kita kerjakan," ucap Pandu kepada suarabanyuurip.com, beberapa hari paska insiden amuk massa di area proyek EPC-1 Banyuurip.

Sikap luwes dan humanis sepertinya sudah menjadi kepribadian Pandu. Dia dekat dengan siapa saja, mulai rakyat jelata, pejabat pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten, pimpinan pondok pesantren, dan juga pekerja media.

Hingga ketika  dia pindah di perusahaan lain, sikap tersebut masih tampak melekat pada dirinya. Di tengah tuntutan kerja dari perusahaan, Pandu masih menyempatkan waktu untuk sekadar berkeliling dari rumah ke rumah warga. Sesekali dia ikut berbaur dan saling bercengkrama satu sama lain. Mengobrol kesana kemari sambil menikmati kopi khas warga masyarakat sekitar proyek.

"Saya berbicara dari hati ke hati dengan penuh kekeluargaan," kata Pandu.

Kendati demikianm, menurut Pandu, untuk menangani konflik perusahaan dengan warga tidak lah mudah. Dibutuhkan integritas dan dedikasi yang tinggi. Sebab, secara naluriah warga bisa menilai orang bekerja dengan ketulusan atau  hanya sekedar janji surga semata. Dia menegaskan, yang paling penting adalah bagaimana mencari sebuah solusi bersama. Sehingga tidak ada yang saling dirugikan.  

“Jadi kami bekerja tidak mengenal jam kantor. Kami selalu pergi kemana saja, yang penting bisa bertemu dengan masyarakat meski hanya sekedar ngobrol atau ngopi,”  suami Heryanti Wahyu Pancaningrum ini.

Pandu tidak pernah mengira akan menjadi bagian dari elemen penting dari sebuah perusahaan multinasional di bidang migas. Sebab, yang disebut bekerja adalah masuk kantor atau pabrik yang memproduksi barang. Sebagai orang yang lahir dan tinggal di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Pandu hanya memperoleh pengetahuan dari lingkungan sekitar seperti pabrik milik PT Migas Cepu.

Di dalam perjalanan karirnya dia sempat menjadi penyiar radio di Cepu. Tak behenti di situ. Beberapa job seperti Master Ceremony (MC) dan penyanyi di acara-acara formal pernah dilakoninya.

Sikapnya yang luwes dan humanis itu membuat jalan hidup bapak tiga anak ini berubah. Manajemen PT Humpuss Patragas, sebuah perusahaan yang disebut - sebut milik Hutomo Mandala Putra merekrutnya untuk menjadi  public affair (Humas). Dia bekerja di PT. Humpuus selama sekitar 10 tahun mulai dari 1990 hingga 2000. Ketika Humpuss Patragas dilikuidasii tak lama setelah Presiden Soeharto jatuh, Pandu ditarik menjadi staf di bagian yang sama oleh Mobil Cepu Ltd, anak usaha ExxonMobil, perusahaan migas rakasasa Paman Sam.

“Tadinya saya berfikir, bekerja ya seperti orang-orang pabrik di Migas itu. Maka saya sekolah masuk STM agar bisa bekerja seperti mereka,” ujar alumnus STM Migas Cepu tahun 1981 ini.

Pada medio tahun 2013 - 2014, dia berpindah ke PEPC, sebuah perusahaan yang juga pemilik separo saham di Blok Cepu. Tidak lama lagi, PEPC juga akan mengerjakan proyek gas Jambaran Tiung Biru (JTB). Meski usianya terbilang tidak muda lagi, anak dari pasangan Sukirman dan Supiyah ini mengaku siap mengemban tugas. Sebab bukan tidak mungkin potensi gejolak sosial juga akan terjadi disekitar wilayah kerja PEPC.

“Ya hidup ini dijalani saja karena semuanya sudah ada yang mengatur. Kebetulan, saat ini ada yang membutuhkan jasa saya, maka saya ikuti saja. Saya banyak belajar dari kehidupan,” ujar Pandu mengkahiri bincang-bincangnya dengan suarabanyuurip.com.(athok moch nur rozaqy)

 

Dibaca : 1411x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan