Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Panen Terakhir di Tengah Kemarau Panjang

Editor: teguh
Selasa, 14 Juli 2015
Ririn Wedia
PENEN : Bagi buruh tani seperti Pono dan kawannya panen kali ini adalah terakhir sebelum musim berganti.

WALAU terik matahari serasa memanggang tubuh, namun menyurutkan empat petani membabat hampar padi yang telah menguning. Para buruh tani itu tak tampak letih mengayunkan sabit di atas setengah hektar lahan, di Dusun Puduk, Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro.  

Bagi warga desa ring 1 lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu hamparan padi tersebut, seperti pengharapan terakhir di saat musim kemarau terik. Apalagi dalam hitungan para burtuh tani, panen ini merupakan panen terakhir sampai memasuki musim hujan nanti.

Demikian pula dengan Pono (45). Sang buruh tani masih bertahan di saat jam menunjuk angka 13.00. Peluh yang membasahi kaos tak jelas warnanya, semakin melahirkan beban fisik yang ditahannya.

"Lumayan, dalam satu minggu ini saya  dapat kerjaan panen padi di sekitar lokasi proyek Banyuurip," ujar Pono dengan logat Jawa saat ditemui Suarabanyuurip.com, Selasa (14/7/2015).

Bersama tiga rekannya, bapak empat putra ini mengayak bulir padi dari sisa-sisa sekam yang tertinggal untuk dimasukkan ke dalam sak. Meski setelah panen kali ini tanah menjadi tandus, namun masih ada harapan dengan garapan berikutnya yakni menanam jagung.

"Kalau mburuh sawah begini dapatnya sehari bisa Rp100.000 sampai Rp150.000," tambah Pono seraya menyeka peluh di dahinya.

Sambil sibuk mengangkat karung-karung yang sudah penuh, pria yang hanya tamatan SD ini mengungkapkan, jika musim kemarau tiba bias dipastikan akan mengurangi pendapatan sebagai buruh tani.

"Kalau merawat jagung, upahnya maksimal Rp25.000 per hari. Itupun hanya pada waktu tertentu saja," tambah Pono.

Segala kekurangan itu tidak membuatnya berhenti bersyukur. Paling tidak, moment lebaran tahun ini masih bisa membelikan baju baru untuk kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Sedangkan, dua anaknya yang beranjak dewasa masih bisa menggunakan baju lama.

"Alhamdulillah masih bisa bersyukur," tukasnya.

Hasil panen kali ini hanya menghasilkan 1 ton gabah kering. Menurun jika dibandingkan musim penghujan yang bisa mencapai 5-7 ton tiap hektarnya.

"Harga perkilo gabah naik dari sebelumnya Rp3.000 sekarang Rp4.000," tukasnya.

Adzan Ashar sayup-sayup terdengar dari surau kampung. Penanda waktu menjalankan ibdah sholat tersebut, juga menandai berakhirnya pekerjaan. Pono bersama tiga karib seprofesi yakni,  Jumari, Wiyono, dan Pariman langsung bergegas. Mereka menaikan satu persatu sak di atas motor. Hasil panen yang telah dirontokan itu harus disetor ke pemilik sawah.

"Usai panen disini saya garap lahan lain lagi," ujar warga ring 1 Banyuurip ini yang tidak pernah merasakan dampak positif dari kegiatan Migas tersebut. (ririn wedia)

Dibaca : 529x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan