Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pedagang Akik Cepu Mengeluh

Editor: samian
Kamis, 03 September 2015
SuaraBanyuurip.com/Sampurno
TUNJUKAN : Pedagang akik menunjukan bukti tandatangan kesepakatan.

SuaraBanyuurip.comAhmad Sampurno

Blora - Pedagang akik lokal di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa-Tengah, mengeluhkan keberadaan pedagang akik dari luar daerah. Pasalnya, pedagang dari luar Cepu bersaing dengan tidak sehat sehingga mengakibatkan pedagang lokal mengalami kerugian.

Pedagang akik luar daerah menjual emban (cincin akik) dengan harga di bawah pasaran Cepu. Dari standar harga berkisar Rp40.000, diturunkan hingga Rp25.000 sampai Rp20.000.

Akibatnya banyak pedagang cincin akik lokal Cepu tidak laku dan mereka merasa dirugikan. Mereka pun kemudian menyampaikan keluhannya kepada pihak kecamatan Cepu.

Mengetahui kondisi itu, pihak Kecamatan Cepu melangkah cepat memberikan solusi, yaitu berupa kesepakatan bersama yang ditandatangi oleh masing-masing perwakilan.

Camat Cepu, Mei Naryono, menjelaskan, sejumlah pedagang akik datang, dan sambat ke Kantor  Kecamatan. Karena di sini pusat pecinta akik Cepu Padangan Kasiman (Cepaka). Sehingga, mereka berbondong-bondong datang ke Kantor Kecamatan untuk meminta solusi. Mereka mengaku dagangan akiknya tidak laku. Karena disinyalir ada sejumlah pedagang lain yang menurunkan harganya secara sembarangan.

"Harga emban di Cepu normalnya Rp40.000, tapi ada yang jual dengan harga Rp20.000, sehingga perwakilan para pedagang pada protes," ujarnya.

Dalam pertemuan yang menghadirkan kedua belah pihak, lanjut Mei, akhirnya disepakati bahwa harga emban di Cepu paling rendah sebesar Rp35.000. "Harga boleh ditawarkan berapapun, asal harga terendahnya Rp35.000," jelasnya.

Pihaknya menyarankan, semua pedagang akik yang berada di Cepu agar segera bergabung pada paguyuban pedagang dan pecinta akik. Agar lebih mudah di koordinasi. Dia mengaku, saat ini di Cepu ada sekitar 30 pedagang akik yang sudah terdaftar, dan tentunya masih banyak yang belum terdaftar.

"Itu baru pedagang belum pengrajin yang jumlahnya barangkali lebih banyak," pungkas pria yang juga pembina paguyuban pecinta akik Cepaka ini.

Salah satu pedagang akik yang merasa dirugikan, Tiyono, mengatakan, setuju dengan keputusan pihak Kecamatan yang mengharuskan semua pedagang akik (melalui perwakilan) untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Sebab, sebelumnya ada sejumlah pedagang yang menjual emban akik dengan harga dibawah rata-rata yang tentunya merugikan pedagang lainnya.

"Kalau seperti ini kan enak, jadi tidak ada yang merasa dirugikan," Tiyono. (ams)

 

Dibaca : 1182x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan