Senin, 24 Juni 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Pekerja Migas Berpotensi Tambah Pengidap HIV-AIDS Bojonegoro

Editor: nugroho
Senin, 27 Mei 2019
dok/sbu
SOSIALISASI : Pekerja proyek Grounsill Bendung Gerak saat mendapat edukasi tentang HIV-AIDS dari KPA dan Dinkes Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Kehadiran pekerja migas dari luar daerah berpotensi menambah sebaran human immunodeficiency virus/acquride immune deficiency syndrome atau HIV-AIDS di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun untuk memastikannya harus melalui tes.

"Mungkin. Tapi kita tidak bisa menjustice orang-orang luar (bukan luar negeri) yang masuk ke sini mengidap sebelum dites HIV lebih dulu," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Bojonegoro, Jhony Nurharyanto kepada suarabanyuurip.com, Senin (27/5/2019).

Menurutnya, peluang bertambahnya penderita HIV-AIDS oleh kehadiran pekerja migas dari luar daerah ini dimungkinkan bisa terjadi. Karena saat mereka datang ke Bojonegoro belum diketahui secara pasti apakah mengidap atau tidak virus tersebut.

"Apalagi kalau mereka sudah mengidap dan suka 'jajan', tentu akan menambah jumlah penderita. Karena penyakit ini salah satu penularannya melalui hubungan seks," katanya.

Sedangkan tes HIV, lanjut Jhony-sapaan akrabnya, tidak bisa dipaksa atau diwajibakan. Melainkan suka rela.

"Kecuali instansi tertentu yang mempunyai kewenangan komando alias mandatori seperti TNI atau Polri," tegasnya.

Dijelaskan, HIV bukan AIDS, tetapi virus yang menyebabkan orang bisa menderita AIDS. Proses HIV menjadi AIDS butuh waktu lama yakni antara 5 sampai 10 tahun.

 "Jadi org dengan HIV itu tidak kelihatan, sehat-sehat saja seperti kita," tuturnya.

Berbagai upaya telah dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS untuk mencegah dan mengurangi jumlah penderita HIV-AIDS di Bojonegoro. Diantaranya mengedukasi masyarakat agar senantiasa berpola hidup sehat bagi yang sudah berkeluarga.

"Kita bersama Dinas Kesehatan selain mengedukasi juga mengadakan tes HIV gratis, pelatihan cara memandikan jenazah yang ngidap penyakit menular dan lain lain," tuturnya. 

Data Komisi Penanggulangan AIDS Bojonegoro, jumlah pengidap HIV-AIDS sepanjang tahun 2018 sebanyak 190 kasus. Dari jumlah tersebut, tertinggi di wilayah Ngasem, sentra proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) dengan 16 kasus. 

Jumlah tersebut sama dengan wilayah Kalitidu. Disusul wilayah Kecamatan Bojonegoro sejumlah 15 kasus.
Dari 190 penderita HIV- AIDS delapan orang diantaranya meningggal dunia. Penyakit ini didominasi oleh kaum perempuan sebanyak 107 orang, dan laki-laki 83 orang. Dengan usia terbanyak antara 40 - 44 tahun sebanyak 31 kasus. 

Sementara hingga triwulan pertama 2019 ini, terdapat 21 kasus. Rinciannya, 11 pengidap HIV dan 10 pengidap AIDS. 

"Sesuai program tahun ini wilayah Nasem belum kita agendakan. Baru tahun 2020 mendatang. Tapi kita dan Dinkes siap kalau diminta mengedukasi pekerja dan karyawan seperti di proyek groundsill Bendung Gerak beberapa hari lalu," pungkas Jhony. 

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Wawan Kurniyanto merasa prihatin karena kasus HIV-AIDS terus mengalami peningkatan. Padahal stakeholder terkait telah melakukan langkah kongkret menanggulangi penyakit ini tersebut.

"Ini menjadi perhatian kami kedepan supaya ada penurunan," ujar Politisi asal Partai Gerindra.(rien)

Dibaca : 4270x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan