Senin, 28 Mei 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Pelajar SMK Purwosari Belajar Energi Migas

Editor: nugroho
Jum'at, 26 Januari 2018
Ist
SAMPAIKAN MATERI : Bagian engineer EMCL saat menyampaikan pentingnya energi migas dalam kehidupan sehari-hari kepada pelajar SMK

SuaraBanyuurip.com - edi supraeko

Bojonegoro - Kehidupan manusia tidak lepas dari energi. Energi menjadi kebutuhan dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat. Baik itu energi terbarukan maupun energi yang tidak terbarukan memiliki peranan penting bagi manusia. Energi tidak terbarukan di antaranya adalah energi fosil berupa minyak dan gas.

“Bojonegoro termasuk wilayah yang kaya minyak dan gas, sebuah anugerah yang harus kita manfaatkan dengan baik,” ungkap Sendy Aditya Putra, senior engineer dari operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dalam sesi Belajar Energi Migas di SMK Negeri Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (26/1/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Sendy menjelaskan berbagai hal tentang potensi migas di Bojonegoro, tentang industri hulu migas, dan tentang peluang berkarir dalam industri ekstraktif tersebut. Ratusan siswa dari kelas X hingga XII nampak antusias menyimak penjelasannya. Bahkan di antaranya ada yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan Sendy.

Program belajar energi migas merupakan salah satu upaya EMCL untuk mengenalkan tentang operasi industri hulu migas kepada pelajar di Bojonegoro. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2012 di berbagai sekolah.  

Untuk menarik perhatian peserta, Sendy mengenakan pakaian keselamatan kerja berwarna oranye dan membawa beberapa peralatan seperti kacamata dan sarung tangan. 

"Di EMCL, kami sangat mengutamakan keselamatan pekerja. Oleh karena itu, peralatan perlindungan diri wajib dipakai saat bekerja, " jelas Sendy.  

Dia juga menyampaikan bahwa EMCL merasa bangga ikut berpartisipasi dalam mendukung pemerintah dalam pengembangan sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat yang bernilai positif. Satu di antaranya adalah program pengembangan energi alternatif di masyarakat berupa biogas.

"Biogas dari kotoran hewan merupakan energi terbarukan yang sangat relevan di masyarakat sini, karena sumbernya banyak ditemui di sekitar lingkungan seperti sapi dan unggas," ungkapnya.

Para siswa mengajukan berbagai pertanyaan tidak hanya tentang proses pengambilan minyak itu sendiri. Di antara mereka banyak pula yang melontarkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dan kontribusi migas bagi pembangunan di Bojonegoro. Tidak hanya Sendy yang menjawab, bahkan di antara siswa ada yang membantu memberi penjelasan.

“Ini pembelajaran yang baik,” timpal Kusnadi, Kepala Seksi Kurikulum Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kabupaten Bojonegoro. 

Menurutnya, kegiatan seperti ini harus terus dilakukan dan berkesinambungan. Karena belajar dari para praktisi, tutur dia, lebih mengena daripada hanya sekedar teori dari buku di sekolah.

“Jangan takut bertanya, gali semua ilmunya, ini kesempatan langka buat kalian,” ucap Kusnadi memotivasi para siswa.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula perwakilan Pemerintah Kecamatan Purwosari Imam Basuki serta Kepala Sekolah SMKN Purwosari, Roedi Agus Setyono.

Kepala Sekolah menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diterima siswanya untuk menerima kegiatan belajar energi migas.  

"Dengan adanya kegiatan ini, tentunya kami berharap anak-anak dapat mengenal tentang migas. Bahkan bisa langsung bertanya ke narasumber tentang apa-apa yang mereka belum ketahui," ujar Roedi. 

Kegiatan tidak hanya dilakukan dengan pemaparan materi, namun juga simulasi permainan yang menarik minat para siswa. Dalm simulasi tersebut para siswa dikenalkan dengan berbagai istilah tentang minyak bumi dan turunannya.

EMCL menyelenggarakan kegiatan ini bekerjasama dengan mitranya, yaitu Yayasan Kampung Ilmu dari Purwosari. Sebagai tambahan, Kampung Ilmu mengajak para siswa belajar menulis. Kali ini narasumbernya Muhammad Rokib, jurnalis dan pimpinan media di Bojonegoro. 

Menurut Rokib, dalam menulis berita, yang ditonjolkan adalah fakta-fakta yang ditemui di lapangan. Kalimat yang digunakan sangat informatif dan tidak bertele-tele. 

“Berbeda dengan menulis surat cinta,” ucapnya seraya berkelakar.

Materi menulis ditambahkan Kampung Ilmu sebagai upaya untuk mengenalkan dunia penulisan dan jurnalistik. Harapannya, siswa bisa menyerap materi dengan menuliskannya kembali. Pada sesi itu, siswa juga diajak untuk praktek menulis. 

“Para siswa cukup antusias,” kata Rokib berkomentar. (edi)

Dibaca : 361x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan