Jum'at, 22 Juni 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pelecehan Seksual Siswa Terungkap Melalui Surat

Editor: samian
Sabtu, 13 Januari 2018
Ali Imron
TERUNGKAP : Orang tua korban pelecehan seksual asal Palang melapor ke KPR Tuban.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Dedi Agung (40), dan Feni (40) tak mengira jika anak kesayangannya yang masih berusia 14 tahun menjadi korban pelecehan seksual di tempat belajarnya. 

Pengalaman pahit tersebut terungkap melalui sebuah surat yang ditulis korban di Bulan Agustus 2017 lalu.

"Anak saya menjadi korban sejak Tahun 2015 sampai 2017 di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) modern di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur," ujar Ibu korban Feni, kepada suarabanyuurip.com, saat bercerita di Balai Wartawan Jalan Pramuka Nomor 1 Tuban, Sabtu (13/1/2018).

Perempuan asal Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tak habis pikir, kenapa di lembaga pendidikan perbuatan tak senonoh itu terjadi. Saat buah hatinya mengeluh pertama kalinya, dikiranya hanya dibullying, berantem, dan diejek kawannya.

Setiap kali anaknya pulang, ayah dan ibu korban perlahan merasakan ada yang ganjil. Korban yang semula periang dan sehat, berubah menjadi pendiam dan mengurung diri di kamarnya. Selain itu kerap mengeluh sakit kepala.

"Sejak semester 2 SMP sudah mulai enggan kembali ke pondok," imbuh Feni sambil meneteskan air matanya.

Berhubung keinginan menjadikan anaknya pandai lebih kuat, akhirnya korban dibujuk untuk tetap sekolah. Dalam kurun waktu tiga tahun, korban menerima pelecehan seksual kurang lebih 10 kali.

Berawal dari surat yang ditulis korban itulah, fenomena yang terjadi di lembaga pendidikan umum dan agama mencuat. Kedua orang tua korban langsung datang ke pondok modern, bertemu dengan pengurus dan pelaku.

"Disinilah terjadi pemutarbalikkan fakta," terangnya.

Korban justru dituduh menjadi pelaku, dengan korban 21 anak lainnya. Menerima tuduhan itu, orang tua dan korban tak terima. Hasil mediasi di pondok tersebut ada tiga pelaku yang juga berasal dari Desa Karangagung, yang juga menjadi daerah ring 1 jalur pipa minyak Lapangan Banyuurip, Blok Cepu.

Tepatnya tanggal 2 November 2017, dugaan kasus ini dilaporkan ke penegak hukum setempat. Entah bagaimana prosesnya, kasus ini belum jelas penyelesaiannya.

Setelah menceritakan pengalaman pahit anaknya kepada wartawan Tuban, Feni dan Dedi Agung langsung ke kantor Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban. Di tempat inilah, keduanya menumpahkan rasa kecewa, kasihan, dan marah atas apa yang menimpa korban.

"Pertama kita ingin ketemu dengan korban," sambung salah satu anggota KPR, Warti.

Upaya ini penting, untuk menentukan langkah pendampingan selanjutnya. Di samping itu, pemulihan mental korban harus dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Ditegaskan pula, pendampingan korban kekerasan seksual di LSM yang konsen pada isu kekerasam perempuan dan anak gratis. Begitupula dengan bantuan hukumnya. Pengacara KPR akan siap mendampingi korban selama proses hukum berlangsung. (Aim)

 

Dibaca : 4827x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan