Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pelipur Lara Warga Tepian Bengawan

Editor: nugroho
Senin, 21 September 2015
12
d suko nugroho
MERIAH : Warga rela berpanas-panasan di Bendung Gerak untuk menyaksikan lomba perahu hias Festival Bengawan Bojonegoro.
SuaraBanyuurip.com
peserta perahu hias sebelum berangkat

SuaraBanyuurip.com

Serangkaian kegiatan dihelat di Festival Bengawan Bojonegoro sehari penuh. Kegiatan tahunan itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga bantaran Bengawan Solo.  

Minggu, (20/9/2015) siang, Warsih terlihat tergesa-gesa. Perempuan berusia 42 tahun itu mengajak dua anaknya dan tiga tetangganya berjalan lebih cepat. Meski terik serasa membakar kulit, namun langkah kaki mereka gesit menyusuri jalan paving Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ayo sing cepet nek mlaku (ayo yang cepat jalannya),” kata Warsih mengomando.

Langkah cepat mereka bukan sedang ingin mengungsi seperti saat Sungai Bengawan Solo meluap. Maklum, desa yang dikenal sebagai Agrowisata Kebun Belimbing itu merupakan desa langganan banjir. Acap kali sungai terpanjang di Pulau Jawa itu meluap, rumah-rumah warga di desa ini selalu menjadi sasaran amuknya. Tak terkecuali rumah Warsih yang berjarak kurang dari satu kilo meter dari bengawan.

Hari itu, Warsih bersama anak-anaknya dan warga berbondong-bondong menuju Bendung Gerak. Lokasi yang menjadi perhelatan Festival Bengawan Bojonegoro. Di tempat ini banyak kegiatan yang diselenggarakan panitia.

Mulai dari perahu hias, laying-layang, tangkap bebek, renang. Di tempat ini juga disuguhi hiburan campursari persembahan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bojonegoro melalui kesenian pertunjukan rakyat (Pertura). Kegiatan semakin meriah dan menyedot perhatian masyarakat karena dibarengkan dengan Festival Belimbing.

“Ya senang lah Mas, hiburan kayak gini kan cuman setahun pisan,” ucap Sriati, (35), menimpali.

Selama ini warga di bantaran Sungai Bengawan Solo jarang sekali mendapati hiburan seperti  Festival Bengawan Bojonegoro. Keberadaan sungai yang membelah Pulau Jawa itu kerap menimbulkan malapetaka berupa banjir. Namun juga menjadi gantungan hidup warga.

Setiap setahun sekali sudah dipastikan Bengawan Solo meluap. Peristiwa itu sebagian besar terjadi pada akhir tahun menjelang pergantian tahun, atau bahkan di awal-awal tahun. Di mana pada waktu itu intensitas hujan di daerah hulu dan di wilayah Bojonegoro sendiri cukup tinggi.

Jika sudah begitu, perut bengawan tak mampu menampung debit air dari daerah hulu dan hujan lokal. Air kemudian meluber kemana-mana menerjang rumah warga, lahan pertanian, dan infrastruktur yang memunculkan kecemasan dan kepanikan. Kerugian pun bisa mencapai ratusan milyar.   

Kondisi banjir yang kian tak menentu tersebut, dikarenakan badan bengawan yang makin dangkal. Salah satu faktornya disebabkan gejala alam yang juga diakibatkan maraknya illegal logging (pembalakan liar) di hutan-hutan sekitar Bengawan Solo. Banyak faktor yang menyebabkan Bengawan Solo meluap.

Beragam faktor telah tercatat jika banjir tak sekadar meluapnya badan bengawan karena tak mampu menampung beban deposit air. Akan tetapi perut bengawan seperti tak mampu lagi menampung hara dan limbah.

Logika sederhananya, pendangkalan bengawan tak bisa dihindari badan sungai. Tanggul yang dibangun di kanan kiri bengawan juga tak mampu menahan amuk air. Apalagi mesin penambang tak henti meraung-meraung mengeruk pasir bengawan. Air bah kian liar kesana kemari.

Lumayan bisa untuk hiburan. Mumpung nggawannya sat (bengawannya kering). Kalau sudah musim hujan, pasti banjir
Namun di sisi lain, banjir Sungai Bengawan Solo tidak serta merta hanya dianggap sebagai musibah. Oleh sebagian warga sekitar bengawan, banjir justru merupakan berkah alam. Sebab, setelah sawah direndam air banjir biasanya makin subur. Air bengawan yang meluber ke lahan persawahan membawa mineral, untuk memperbaiki hara tanah yang jenuh karena pemakaian pupuk kimia.

Selain itu lumpur yang terbawa juga banyak dimanfaatkan warga bantaran untuk membuat batu bata. Banyak usaha lainnya yang bertumpu dari Sungai Bengawan Solo salah satunya pertanian. Sehingga keberadaannya menjadi gantungan hidup warga bantaran.

“Lumayan bisa untuk hiburan. Mumpung nggawannya sat (bengawannya kering). Kalau sudah musim hujan, pasti banjir,” ujar Sriati, mengungkapkan.  

Karena itu, sebelum perhelatan perahu hias diberangkatkan, warga sekitar bengawan maupun luar daerah telah memadati Bendung Gerak sejak pukul 10.00 WIB. Mereka rela berpanas-panasan di bawah terik matahari sambil menunggu pemberangkatan oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto, pada pukul 14.00 WIB.

Bukan hanya di Bendung Gerak, sepanjang bantaran bengawan mulai bendungan hingga Taman Bengawan Solo yang menjadi rute perahu hias dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 338 itu juga dipadati warga. Mereka terlihat sumringah ketika menyaksikan beragam perahu hias yang ditampilkan peserta. Tak jarang warga mengabadikan melalui kamera handphone.

Di temui terpisah, Ketua Panitia Fastival Bengawan Bojonegoro, Wahyu Subakdiono menjelaskan, selain untuk melestarikan budaya, Festival Bengawan Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk mengajak masyarakat untuk menjaga dan melindungi Sungai Bengawan Solo. Karena banyak manfaatkan yang sudah diberikan bengawan kepada warga.

“Jadi sudah seharusnya masyarakat menjaganya,” sambung Wahyu.

Lomba perahu hias ini diikuti hampir 50 peserta. Puluhan perahu itu dihias beragam mulai dari potensi belimbing, kemegahan Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, naga, angsa, Ki Andong Sari sesepuh Ledok Kulon dengan Sapi, bajak laut dan masih banyak lagi. Di dalam perahu itu terlihat peserta mengenakan pakaian adat serupa karnaval.

“Ini merupakan asset budaya Bojonegoro yang harus terus dilestarikan dan dipromosikan agar menjadi ikon yang mampu menarik wisatawan domestic maupun manca,” tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Amir Syahid.

Usai perahu hias, kegiatan dilanjutkan dengan lampion apung yang dimulai dari Tambangan Ledok Kulon hingga TBS pada pukul 18.30 WIB. Ada ratusan lampion berukuran kecil dan besar yang dilarungkan di bengawan. Setelah itu kegiatan diteruskan performa art dari Teater Awu dan RSJ. Kegiatan ditutup dengan pembacaan surat pilihan untuk Kang Yoto, puisi Kang Yoto untuk bengawan dan pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan.

Malam pun kian kelam dan bengawan kembali lengang. Warga yang berkerumun di pinggir bengawan pulang ke rumah masing-masing. Bagi mereka, serangkaian hiburan sehari penuh di Festival Bengawan Bojonegoro ini cukup menjadi pelipur lara sebelum musim hujan datang berkunjung menyapa mereka.(d suko nugroho)

 

Dibaca : 514x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan