Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pembatik Blora Belajar Desain dan Pemasaran

Editor: nugroho
Minggu, 01 Februari 2015
ahmad sampurno
TINGKATKAN SDM : Pembatik Blora saat mengikuti lokakarya desain dan pemasaran batik yang dilaksanakan EMCL.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) kembali memberikan pelatihan pada pembatik di Kabupaten Blora untuk meningkatkan kualitas batik melalui pengembangan disain batik hingga mencapai standart nasional. Upaya itu diimbangi dengan pemberian bekal strategi pemasaran bagi pembatik, untuk berkompetisi di pasar luar.

Dalam pelatihan ini, EMCL menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal untuk mengadakan Lokakarya Pengembangan Disain dan Strategi Pemasaran Batik Blora. Sebanyak 15 Kelompok pembatik dari Kabupaten Blora mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di salah satu rumah makan di Kecamatan Cepu, Sabtu (31/1/2014) kemarin.

Perwakilan LSM Mitra Sejati, yang menjadi penanggung jawab kegiatan, Heri Tursilo, menjelaskan, bahwa lokakarya tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan batik yang dilakukan beberapa waktu lalu di Kecamatan Kradenan.

"Diharapkan para pembatik Blora siap menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)  pada tahun 2015 ini," tegas Heri.

Ia menyatakan, akan terus berupaya mengawal Batik Blora mencapai pada standarisasi nasional. “Semoga Batik Blora, bisa bersaing di pasaran seiring diberlakukannya MEA dangan jaminan standar nasional,” jelasnya.

Untuk itu, tambah Heri, dalam pengembagangan disain batik dan strategi pemasaran, pihaknya menggandeng tenaga ahli dan sudah berpengalaman.

Senada juga disampaikan Juru bicara EMCL, Rexy Mawardijaya. Ia berharap Batik Blora bisa bersaing  pada pasaran yang sudah ada.

Pada bagian lain, salah satu pemeteri dari INDIGOVERA, Semarang, Liza Anggraeni Putri, mengungkapkan, selama ini pembatik masih berpikir untuk segmantasi dan memenuhi kebutuhan lokal. Sehingga hal itu dianggap menjadi penghambat berkembangnya Batik Blora. Padahal dengan pengembagan disain dan produk, Batik Blora bisa bersaing di luar Blora.

“Dengan lokakarya itu peserta diajak untuk berfikir mengambangkan disain dan produk bukan hanya pada segmentasi lokal,” kata liza Anggraeni Putri didampingi Vera Candra Kartika Sari.

Selama ini masyarakat hanya mengenal batik Blora dengan simbol tertentu, seperti daun jati, bonggol jati, pipa angguk dan beberapa corak lokal lain. “Kalau tidak daun jati atau bonggol jati berarti bukan batik Blora, itu salah.  Yang namanya Batik Blora, adalah batik yang dibuat di Blora. Apapun motif dan coraknya,” timpal Vera.

Padahal, banyak corak lain, yang bisa dikembangkan dan dipadukan menjadi sebuah disain yang menarik dan lebih menarik di pasaran. “Pola pikir masyarakat saat ini yang perlu dirubah,” lanjut dia.

Pada kesempatan itu, INDIGOVERA menjelaskan pada para pembatik untuk mengembangkan produk batik dalam wujud yang lain. “Dari pada para pembatik hanya menjual berupa lembaran kain batik yang harganya murah, lebih baik lagi jika mau membuat produk dari kain batik yang nilai jualnya akan lebih tinggi,” pungkas Vera.(ams)

Dibaca : 1085x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan