Sabtu, 24 Februari 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Ibu Melahirkan Meninggal di RSUD Tuban

Pemberi Layanan Kesehatan Pintar "Ngeles"

Editor: samian
Selasa, 16 Januari 2018
Ali Imron
Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Statmen Direktur RSUD dr. R Koesma Tuban, Jawa Timur, Saiful Hadi kepada awak media, soal kematian pasien bernama Siti Rodiyah (22) sangat disayangkan Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban. Pernyataan kalau pasien asal Desa Plumpang, Kecamatan Plumpang, tak mematuhi pesan bidan merupakan alasan belaka.

"Pemberi layanan kesehatan RSUD Koesma pinter ngeles," ujar Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (16/1/2018).

RSUD dr. R. Koesma adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, namun layanan yang diberikan pada perempuan melahirkan sangat buruk bahkan menakutkan. Taruhannya selalu saja nyawa (ingat kasus kematian bayi yang dicelupkan/mandikan kedalam air panas tahun 2017 lalu).

Sedangkan RSUD Koesma telah memiliki Maklumat Pelayanan (MP). MP tersebut tentang perbaikan layanan maternal dan neonatal, yaitu tentang pelayanan untuk ibu hamil dan bayi baru lahir. Kendati demikian, lagi-lagi selalu saja mencederai MP, dan melukai hati warga Kabupaten Tuban.

Jika keluarga korban melaporkan ke Polres, Nunuk kira itu tindakan yang benar. Dalam Undang-undang (UU) Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 Pasal 58, dimana setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

Sejauh ini dari tahun ke tahun, berarti Pemerintah dan RSUD mungkin belum melakukan evaluasi perbaikan layanan. Semestinya Pemkab dan DPRD Tuban, mampu memberikan sangsi yang ketat kepada seluruh pegawai RSUD. Bukan lantaran setiap ada pembunuhan terkesan diam dan hanya menjadi penonton.

"Lihat saja berita yang beredar atas pengakuan direkturnya maupun oknum yang lain terkesan ngeles bahkan sepertinya menyalahkan korban," terangnya.

Jika Pemkab dan DPRD Tuban masih saja belum memiliki kebijakan dan pemberi layanan belum mampu mematuhi Standart Prosedur Operasional (SPO) serta tidak mengimplementasikan MP dengan tegas, terpaksa KPR akan segera bertindak melakukan advokasi ke ranah hukum. Upaya ini demi mendorong masyarakat Tuban khususnya perempuan, untuk memperoleh kelayakan layanan kesehatan tanpa mempertaruhkan nyawa.

Keterangan resmi Direktur RSUD Tuban, Saiful Hadi, mempertanyakan mengapa jika perlu sesuatu, pasien tidak memberitahu kepada perawat yang jaga.

"Kalau ndak bisa mencet bel bisa panggil perawat pasti kedengaran," ujar Dokter Saiful Hadi, saat memberikan keterangan resminya kepada belasan wartawan di Aula RSUD Tuban, Senin (15/1/2018) kemarin.

Saiful sapaan karibnya menceritakan, awalnya pasien menjalani operasi sesar dan selesai pukul 10:30 WIB. Bayi laki-laki korban selamat dan kesadaran ibunya cukup bagus, sehingga dibawa ke ruang Flamboyan untuk observasi.

Korban waktu itu dibaringkan di tempat tidur perawatan. Bidan (bukan perawat) yang menjaganya juga telah mengedukasi pasien, agar tidak bergerak. Sekaligus memencet tombol atau berteriak ketika membutuhkan sesuatu.

"SOP kami memang tidak memperbolehkan keluarga masuk," imbuhnya.

Sekitar jam 11.30 Wib, petugas mendengar teriakan pasien minta tolong. Bidan kemudian masuk ke ruangan, dan melihat pasien sudah berada 1,5 meter dari tempat dia tidur sambil memegang infus.(Aim)

 

 

Dibaca : 4214x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan