Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pembunuhan Anak Tuban Diambang Batas Wajar

Editor: samian
Senin, 23 Oktober 2017
Ali Imron
USUT TUNTAS : Home visit KPR dan Dinsos P3A di rumah orang tua almarhum M. Arifin.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Kasus kekerasan anak bahkan pembunuhan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tahun 2017 ini sudah diambang batas kewajaran. Sebagai kabupaten yang ramah anak, sudah ada 4 kasus kekerasan yang dialami anak-anak Indonesia di Tuban termasuk M. Arifin (6).

"Itulah sebabnya Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) bersama Dinas Sosial (Dinsos) melakukan home visit ke rumah Arifin," ujar Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah, melalui pesan singkat yang diterima suarabanyuurip.com, Senin (23/10/2017).

Kedatangan KPR bersama Dinsos yang diwakili Menik, untuk memberikan penguatan psikoligis kepada keluarga korban dan advokasi berbasis hukum. Saat datang kerumah korban, pihaknya ditemui kedua orang tuanya dan kerabatnya.

Waktu itu, ibu korban dalam posisi tidur tidak bergerak sama sekali. Ibunda Arifin, Waniti (45) sepertinya masih mengalami trauma yang cukup berat sehingga diperlukan konseling dan pengobatan medis.

Anehnya kabar dari bapaknya korban, Samijo (57) sampai sekarang belum dipanggil polisi. Pihak keluarga hanya mendengar, kalau pelakunya di bawa ke rumah sakit jiwa di malang.

"Katanya gila," ungkap Samijo kepada KPR.

Bapak korban dan keluarga besarnya, berharap pada pihak yang berwajib benar-benar mengusut tuntas kasus yang pembunuh anaknya. Harapannya tidak ada lagi korban anak-anak selanjutnya.

Samijo mencurigai "masak jasad anak saya sudah 4 hari, kan sudah keluar bau tidak sedap tapi keluarga yang didalam rumah kok tidak tau, itu saya curiga". Pihak keluarga berharap polisi segera bisa memberikan jawaban, namun sampai sekarang belum ada kabar dari polisi.

Kedua orang tua Arifin pun tidak habis pikir, kenapa pihak polisi sampai sekarang belum ada reaksi ke keluarga korban. Sedangkan menurut UU 35/2014 pasal 80 bunyinya Dalam hal anak sebagai dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,00.

Keluarga korban juga semestinya diberikan kabar, atas tindakan polisi yang bertugas supaya tidak menduga-duga dan memberikan nilai negatif. Selain itu, tidak ada satupun pihak DPR yang artinya Dewan Perwakilan Rakyat, baik ketua nya maupun komisi C atau komisi-komisi yang lain berkunjung kerumah korban.

Kesannya sangat abai terhadap kasus yang menimpa anak-anak di Kabupaten Tuban, atau Bumi Wali. Sedangkan untuk menjadikan Kabupaten Tuban yang ramah anak atau mendapatkan predikat KLA itu menjadi kerja bersama-sama tidak hanya satu bidang saja.

Layanan yang akan KPR berikan adalah, memberikan pendampingan ke ibunya dalam perspektif psikologis dan bantuan hukum baik litigasi dan non litigasi. Hal ini dilakukan supaya penegak hukum di Indonesia tidak tebang pilih, dan keluarga korban memperoleh haknya sebagai warga negara indonesia.

Wakil ketua Komisi C DPRD Tuban, Tri Astuti, mengaku telah berkoordinasi dengan Dinsos. Untuk hasil home visit bersama KPR. Untuk hasilnya pihaknya belum memperolehnya secara detail.

"Besok kita berencana mendatangi keluarga korban," janjinya.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Tuban, Nur Jannah, bersama KPR bakal mendampingi keluarga korban. Untuk penguatan psikologisnya juga akan dikoordinaskan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes).

"Ibunya Arifin sangat lemah dan butuh pendampingan," jelasnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Tuban, AKP M. Wahyudin Latif, menepis tudingan KPR kalau tidak ada komunikasi dengan pihak keluarga korban. Apapun perkembangan selalu kami sampaikan.

"Kami aktif komunikasi dengan keluarga korban," pungkasnya.(Aim)

 

Dibaca : 687x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan