Senin, 18 Juni 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Polemik Lahan Blok Cepu

Pemilik Lahan Turunkan Harga Rp1,5 M

Editor: nugroho
Sabtu, 23 Februari 2013

SuaraBanyuurip.com - Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro – Munip, warga Dusun Temlokorejo, Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, salah satu pemilik lahan yang terkena proyek migas Blok Cepu menurunkan harga lahannya seluas 2000 meter per segi (M2) dari Rp2 milyar menjadi Rp1,5 milyar.

"Sekarang kami turunkan jadi Rp.1,5 Miliar," ujar  istri Munip, Ismiati saat ditemui suarabanyuurip.com dirumahnya, Jum'at (22/2/2013).

Ismiati mengakui, jika harga yang dia tawarkan sebelumnya terbilang  tinggi. Namun setelah ada kesepakatan dengan Munip, suaminya, harga tersebut diturunkan. Meski begitu, Ismiati tetap akan mempertahankan lahan tersebut dengan nominal dikisaran Rp.1,5 miliar. Sebab sebelumnya, sempat ada yang menawar lahan sebesar Rp1 miliar, namun tidak dia dilepaskan. 

"Hitungannya jangan per meter, tetapi borongan dengan rumah kami. Paling mentok Rp1,4 miliar," kata Ibu dua anak ini. 

Ismiati menerangkan, sisa lahan miliknya tersebut terkena pembangunan proyek. Sehingga cukup berdekatan dengan rumah yang dihuninya bertahun-tahun itu. 

"Selain itu juga ribet mas penataan lahannya dan juga khawatir terganggu," ucapnya.

Untuk diketahui, total lahan miliknya awalnya seluas 3000 M2 kemudian terjual 1000 M2 pada tahun 2005 lalu seharaga Rp. 30 juta. Sehingga masih tersisa 2000 M2.

Namun sejak saat itu, Munip dan operator Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL) belum menemukan kecocokan harga hingga lahan tersebut sekarang ini diperlukan untuk proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC) 1 Banyuurip.  Lahan milik Munip itu tepatnya menuju lokasi well pad A dan C Banyuurip.  

"Sekarang ada proyek pemagaran dan berhenti diantara lahan kami yang dulu tiba-tiba diserobot Bulldozer. Setelah kejadian itu pun kami juga tidak dapat ganti rugi, padahal ada tanaman kami yang rusak akibat kejadian itu," kata dia.  

Ismiati mengaku dalam situasi dilematis dan belum tahu menahu bagaimana jalan keluar dari permasalahan ini.

"Sampai saat ini belum ada perkembangan, kalau pun disamakan dengan harga pada umumnya kami keberatan," pungkasnya pasrah.(roz)

Dibaca : 1102x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan