Selasa, 18 Desember 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Pemuda Beged Hargai Si Kulit Cokelat Rp25 Ribu

Editor: samian
Minggu, 18 November 2018
Ahmad Sampurno
KREATIF : Kerajinan tangan Pemuda Desa Beged pikat pengunjung festival Banyu Urip 2018.

Warna kulitnya cokelat mulus. Bersinar terkena cahaya lampu saat malam hari. Jika disentuh terasa licin. Ada semacam tulisan menarik menyatu dengan kulit. Itulah buah kerajinan tangan berbahan bambu yang ditekuni Pemuda Desa Beged, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

KERAJINAN lokal sekitar lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, itu dipajang berjajar rapi di acara Festival Banyu Urip 2018. Para pengunjung bebas memilih, berkulit coklat tua atau coklat muda. Harganya relatif ada yang Rp 25.000 hingga ratusan ribu rupiah untuk membawanya.

Produk dari bambu ini terdiri dari, Mug, mini gelas, aneka tempat pencil, 1 set Tea pod (Teko, cangkir, nampan), tempat sendok, lampu belajar, aneka miniatur, serta kerajinan bambu lain.

Ketua Karang Taruna Beged, Muhammad Mahfud, menjelaskan, pembuatan aneka kerajinan bambu tersebut muncul dari ide liar para pemuda. Yang rata-rata masih menganggur.

Terlebih, sejak dulu desanya sudah dikenal masyarakat luas sebagai penghasil aneka anyaman bambu.

"Rinjing, tempeh, bakul, dan masih banyak yang lain," kata Mahfud, saat membuka cerita kepada Suarabanyuuri.com, Sabtu (17/11/2018).

Namun, menurut dia, produk tersebut kurang memiliki nilai ekonomis. Bayangkan saja satu buah tempeh yang dalam pembuatannya butuh waktu dua hari lebih hanya dihargai Rp 20 ribu. Belum produk yang lain.

Kondisi demikianlah yang memancing para Pemuda Desa Beged untuk berinovasi membuat berbagai produk lain yang lebih bernilai ekonomis.

"Baru satu bulan ini kami mengembangkan produk yang dianggap baru di desa kami," ujarnya.

Dia yakin, produk yang dihasilkan lebih memiliki nilai ekonomis tinggi dibanding tempeh dan sejenisnya.

"Ada belasan produk yang kami hasilkan dari bambu," tutur Mahfud menjelaskan satu persatu produk yang dihasilkan.

Di contohkan, untuk membuat satu Mug dari bambu, tidak butuh waktu lama kurang dari satu hari barang sudah jadi.

"Untuk nilai jualnya saya hargai Rp 25 ribu," ujar pemuda ramah ini.

Dari bagian pangkal bambu, dipotong menyerupai gelas. Lalu dihaluskan dengan alat yang dibuat sendiri dari pompa listrik bekas.

"Semua Handmade atau pembuatan tangan Pemuda Beged," ungkapnya.

Setelah halus, lalu diwarnai dengan pernis. Untuk lebih halus dan mengkilat, tahap akhir dilapisi melamin. Sementara untuk tulisan atau gambar, hasil dari foto copy. Kalau tidak foto copy tidak bisa. Karena harus tinta kering supaya bisa tertempel maksimal.

"Kertas yang sudah ada tulisan hasil foto copy, diberi semacam cairan. Lalu ditempel pada Mug sebelum di melamin," terangnya.

Masing-masing produk memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Sehingga membutuhkan waktu selesai berbeda pula.

"Waktunya antara satu sampai dua hari. Tergantung produknya," kata warga ring satu Blok Cepu ini.

Dia melanjutkan, sebanyak enam pemuda sebagai pelopor, memiliki keinginan lebih besar. Untuk membuat desanya menjadi tujuan wisata. Mengingat, desa itu sudah terkenal dengan produksi aneka jenis anyaman bambu.

"Sebagai launching, kami mengikuti Festival Banyu Urip ini. Dari event ini, Kami juga mendapat ratusan pesanan awal," pungkasnya.(Ahmad Sampurno)

Dibaca : 361x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan