Rabu, 20 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Akibat Parade Perahu Hias Bengawan Solo

Penambang Bongkar Pasang Jambatan

Editor: nugroho
Kamis, 16 Oktober 2014
ririn wedia
BONGKAR PASANG : Supriyanto bersiap-siap membongkar jembatan kayu karena adanya parade perahu hias di Sungai Bengawan Solo.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Parade perahu hias di Festival Bengawan Bojonegoro dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) Ke 337, pada Kamis (16/10/2014) siang, dikeluhkan sejumlah pengelola jembatan penyeberangan di beberapa titik lokasi penambangan. Pasalnya, mereka harus beberapa kali membongkar pasang jembatan bambu yang melintas di atas Sungai Bengawan Solo.

Jembatan bambu ini dipasang oleh penambang sebagai ganti jasa penyeberangan perahu tradisional yang berhenti beroperasi karena menyusutnya debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa pada musim kemarau. Sekali melintasi jembatan, warga dikenakan tarif Rp1000, sama seperti tarif penyeberangan perahu tradisional.     

Salah satu pemilik jembatan bambu di Tambangan Jalan Prajurit Abu, Suprayitno, mengungkapkan, akibat adanya parade perahu hias itu dalam sehari ini dirinya bersama tiga rekannya harus beberap kali membongkar pasang jembatan. 

"Sehari ini sudah empat kali bongkar pasang, tanpa ada upah sedikitpun,” keluhnya.

Bapak dua anak ini mengaku, belum memperoleh sosialisasi atau pemberitahuan apapun mengenai kegiatan yang diperkirakan berlangsung hingga malam nanti. Padahal di tambang ini merupakan satu-satunya penghubung tercepat antara Desa Trucuk dengan Kota Bojonegoro.

“Otomatis susahnya berlipat ganda Mbak. Sudah tidak dapat ganti rugi, keluar keringat, lelah, gak dapat uang dari penyebarang," kata Supriyanto mengungkapkan. 

Akibat adanya Festival Bangawan Bojonegoro yang menelan biaya sesuai pengajuan panitia sejumlah Rp 1,4 miliar itu, menjadikan sejumlah penambang kehilangan mata pencaharian dan beberapa warga di seberang bengawan kesulitan untuk menyeberang.

"Ya kita mintanya ada kompensasi bagi pengelola jembatan. Karena sudah susah payah bongkar pasang jembatan dan kehilangan pendapatan," sambung salah satu pengelola jembatan lainnya. 

Dalam sehari pengelola jembatan penyeberangan mengaku bisa memperoleh pendapatan Rp100.000 sampai Rp200.000. Saat ini, selain di Tambangan Prajurit Abu, ada beberapa jembatan penyeberangan yang dibangun penambang yakni dua jembatan di Kelurahan Ledokwetan, Kecamatan Bojonegoro. 

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro, Iskandar, membenarkan adanya keluhan dari sejumlah penambang yang saat ini mengelola jembatan bambu penyebarangan di atas Sungai Bengawan Solo.

"Tadi ada beberapa penambang yang datang ke sini meminta ganti rugi karena mereka harus membongkar jembatan," sambung Iskandar.(rien) 

 

 

Dibaca : 790x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan