Rabu, 13 Desember 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

HIPPAM Tirto Langgeng Mandiri dengan Kelola Air Bersih

Penghuni Tanah Gersang Nikmati Air Depan Rumah

Editor: samian
Rabu, 29 November 2017
12
Ali Imron
NIKMATI AIR BERSIH : Kades Ngimbang Yayik menunjukan kesegaran air HIPPAM untuk membasuh muka.
SuaraBanyuurip.com
Tower air di Desa Ngimbang bantuan dari EMCL.

SuaraBanyuurip.com -

Program pendirian menara/tower air yang diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Desa Ngimbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terbilang sangat tepat sasaran. Kesehatan ribuan jiwa penghuni tanah gersang pun terjamin, setelah air mengalir lancar sampai depan rumah. Lebih dari itu, bantuan MCK untuk warga miskin berhasil menggugah kesadaran untuk tidak Buang Air Besar (BAB) sembarangan.

Lilik (40), merasakan betul bagaimana sulitnya menemukan air bersih di desanya. Krisis air bersih tak hanya terjadi pada musim kemarau. Pada saat musim hujan pun demikian, warga tetap harus menghemat penggunaan air.

Gara-gara sulit memperoleh air, warga lebih memilih buang hajat di tengah sawah, bawah bambu, atau tepi sungai desa setempat. Alhasil, kesehatan warga lambat laun mulai terganggu.

Sebelum tower air EMCL berdiri, warga Ngimbang lebih sering terjangkit penyakit kulit (gatal-gatal), diare, dan muntaber. Penyakit ini ditengarai akibat gaya hidup, dan lingkungan yang tidak bersih.

"Dulu kalau mau buang hajat tinggal lari ke tengah sawah," tutur perempuan berkulit sawo matang seraya menambahkan.

Perilaku tersebut banyak dilakukan oleh warga miskin, atau warga ekonomi menengah-bawah yang belum memiliki jamban/MCK. Sekalipun jumlah keluarga yang BAB sembarangan tidak banyak, namun secara tidak langsung menjadikan lingkungan Ngimbang sarang penyakit.

Segendang seirama disampaikan, Jasmining (65). Perempuan Lansia yang hidup bersebelahan dengan balai desa itu, juga sebelumnya tak memiliki jamban. Kemiskinan yang membelenggunya, menjadikannya sulit untuk hidup bersih dan sehat. Buang hajat sembarangan di tengah sawah, dinilai hemat air karena tidak butuh air untuk sesucinya.

"Setelah dapat bantuan jamban dari EMCL saya tak lagi BAB sembarangan," sergahnya.

Baik Lilik maupun Jasmining sekarang bisa tertawa lepas. Dahaga puluhan tahun lamanya akhirnya terobati, setelah program dari Operator Lapangan Migas Banyuurip, Blok Cepu, menyasar desanya yang dilalui pipa jaringan minyak.

Saban hari warga yang terhubung jaringan pipanisasi, cukup memutar kran depan rumah untuk mendapatkan air. Tak perlu lagi berjalan 50 hingga satu Kilo Meter (Km) untuk menuju sumber mata air.

"Sebelum ada tower air warga harus bergantian mengantre di salah satu sumber mata air desa," sambung Kepala Desa Ngimbang, Yayik Ahmad Wijaya, saat dijumpai di kediamannya, Senin (27/11) sore.

Memulai obrolannya, Yayik mengaku, desa yang dipimpinnya secara goografis masuk daerah kering. Kecilnya sumber mata air, tak sebanding dengan kebutuhan penduduk yang berjumlah 4.146 jiwa.

Untuk memeroleh air, warga harus mengantre berjam-jam. Rata-rata jika berangkat pukul 15:30 WIB dari rumah, baru bisa pulang pada pukul 19:00 WIB. Proses mencukupi kebutuhan air ini, dilakukan warga selama 24 jam penuh.

"Sekali berangkat hanya dapat satu pikul atau dua ember," jelas pria murah senyum itu.

Sebagai anak mantan kepala desa, dia juga "ngangsu" atau mengambil air sama halnya dengan warga yang lain. Kebetulan rumahnya dekat, dan cukup berjalan 50 meter menuju sumber.

Sejak pertama menjabat kades, dia juga pusing memikirkan warganya yang BAB sembarangan. Resikonya ketika musim tanam tiba, tak semua warga mau menjadi buruh tanam. Penyebabnya dimana-mana ditemukan kotoran manusia.

Setelah memperoleh bantuan MCK 128 unit, perilaku buang hajat sembarangan berangsur menyusut. Bantuan tersebut diserahkan kepada warga miskin, salah satunya ibu Jasmining.

Setelah ada tower air dan bantuan MCK di desanya, Yayik mengaku tingkat kesehatan warganya membaik. Sekarang jarang terdengar, ada warga baik perempuan, laki-laki maupun anak mengeluh terjangkit penyakit gatal maupun diare.

"Dulu warga kerap penyakitan sekarang sudah sehat," terangnya.

Kondisi ini membuatnya bahagia dan berterimakasih kepada pihak EMCL. Program tower air ini sangat berguna, dan mendorong lingkungan desa dengan luas 500 hektar persegi lebih baik.

Pada tahun berikutnya, diharapkan bantuan MCK ditambah lagi. Penghitungannya masih ada 100-200 Kepala Keluarga (KK) miskin yang butuh uluran tangan dari perusahaan Migas.

Warga Sehat, Pendapatan Desa Meningkat

Tak ada yang menyangka, persoalan krisis air bersih di desa yang memiliki 1.410 KK sekarang teratasi. Tepatnya tahun 2012 silam, HIPPAM Tirto Langgeng terbentuk. Berkat kerja keras semua pihak, sekarang kebutuhan air 60% penduduk lokal tercukupi.

Sebagai wilayah gersang di jalur pipanisasi minyak, siapapun sulit menemukan sumber mata air melimpah. Disaat itulah, salah satu penduduk Ngimbang bernama Surisah menghibahkan sepetak tanahnya ukuran tanahnya 3x4 meter di Desa Cendoro, Kecamatan Palang untuk HIPPAM.

Dari tanah itulah, sebuah sumur dengan debit air 10 meter kubik per detik menjadi penopang air warga Ngimbang. Untuk mengalirkan air di jarak 4,6 Km, HIPPAM harus membuat pipanisasi ke setiap rumah. Gayung bersambut datang dari masyarakat untuk menjaga pipa air supaya tidak rusak.

"Dulu tahun 2015 Ngimbang menerima bantuan dari EMCL sebesar Rp500 juta," ujar Kepala Desa Ngimbang, Yayik Ahmad Wijaya.

Bantuan tersebut terus dikembangkan untuk melayani pelanggan HIPPAMS yang sampai sekarang mencapai 670 KK. Bersamaan pula, peningkatan SDM dan pelayanan juga terus digalakkan.

Saat dijumpai di kediamannya, Ketua Kelompok HIPPAM Tirtolanggeng, Wardjoyo tak sungkan bercerita awal mula kelompoknya bergerak. Perlahan tapi pasti, itulah semboyan yang dipegang untuk melayani warga.

"Dalam pembayarannya kita tidak manual tapi melalui aplikasi komputerisasi," jelas pria yang pernah menjabat BPD dua periode ini.

Dari sinilah, pengurus HIPPAM, Pemdes Ngimbang, dan pelanggan nyaman untuk tertib mematuhi aturan. Di samping itu, Wardjoyo juga tegas bagi pelanggan yang bandel. Dua kali mengabaikan peringatan pembayaran, saluran air langsung diputus.

Sebagai bonus dari kegigihan tujuh pengurus HIPPAM, pertama pada 22 Mei 2015 berhasil menyabet juara satu lomba se-Tuban. Berikutnya meraih lagi juara 1 di tingkat Provinsi Jawa Timur mewakili Kabupaten Tuban. Terakhir, masuk nominasi dalam Sustainability Business Award (SBA) tingkat nasional di Jakarta 2016 lalu.

"Kalau nominasi di Jakarta merupakan dukungan EMCL," jelas bapak dari dua anak tersebut.

Keberadaan HIPPAM binaan EMCL, dirasakan betul manfaatnya oleh Kades Yayik. Tak tanggung-tanggung, laba yang diberikan ke desa sebanyak 25 persen. Penghitungannya jika dalam setahun untungnya 40 juta, maka desa akan mendapat 10 juta.

Sementara untuk bantuan sosial bagi masyarakat dialokasikan 15 persen, 10 persen untuk penyusutan barang, 50 persen sisanya untuk operasional HIPPAM itu sendiri.

"Bagi hasil ini dibagi setelah dibukukan laba bersihnya," tambah Yayik.

Pada Agustus 2016 silam, EMCL juga memberikan bantuan peralatan air bersih untuk Desa Ngimbang. Waktu itu, bantuan diserahkan langsung oleh perwakilan perusahaan, Beta Wicaksono.

Fasilitas air bersih tersebut berupa penampungan, dan penyaringan air lengkap dengan jaringan listrik dan pompa yang sudah bisa difungsikan. Beta bangga terhadap warga Ngimbang yang turut menjaga peralatan HIPPAM  tetap aman.

"Saya rasa sudah hampir semua rumah mendapat air secara merata, dan saya yakin upaya pengurus HIPPAM tidak berhenti sampai di sini saja," tegasnya.

EMCL sendiri telah membangun 6 menara air dengan total jaringan pipa sepanjang 25.827 meter yang mampu melayani 3.164 sambungan rumah di lima desa dari tiga kecamatan. Ditambah dengan didirikannya enam rumah pompa dan pembinaan serta pendampingan kepada enam pengurus HIPPAM. 

"Untuk mendukung kesehatan lingkungan, kita juga telah membangun 570 jamban sehat bagi warga," pungkasnya.  

Sebagaimana diketahui, data terakhir jumlah penduduk laki-laki di Ngimbang mencapai 2.359 jiwa, dan perempuan 2.255 jiwa. Untuk batas desa sebelah Timur Desa Sumber rejo Kecamatan Widang, sebelah Barat Desa Gesing Kecamatan Semanding, sebelah selatan Desa Minoharjo Kecamatan Widang, dan sebelah Utara Desa Leran Kecamatan Palang. (Ali Imron)

 

 

Dibaca : 147x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan