Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Kualitas Kedelai Grobogan Kalahkan Kedelai Impor

Pengusaha Tahu dan Petani Lebih Diuntungkan

Editor: nugroho
Selasa, 22 September 2015
totok martono
PANEN : Petani di Kecamatan Kedungpring sedang memanen Kedelai Varietas Grobokan yang kualitasnya lebih bagus dari kedelai impor

SuaraBanyuurip.com

Pengusaha tahu di Lamongan, Jawa Timur, tak lagi bergantung terhadap kedelai import. Mereka menggunakan kedelai varietas Grobogan yang kualitasnya tak kalah dengan kedelai luar negeri.

Salah satu pengusaha tahu yang sudah mencoba dan merasakan hasil produksi tahu dengan kedelai varietes Grobokan adalah H Id Minaji. Pengusaha tahu dari Desa Nglebur, Kecamatan Kedungpring itu mengaku, penggunaan kedelai varietas grobogan menjadikan produksi tahunya jauh lebih baik kualitasnya di banding kedelai impor.

“Tahunya menjadi lebih enak dan teksturnya lebih kenyal. Tapi kalau kedelai impor tahu rasanya masam teksturnya tidak kenyal jika tidak dicampur dengan kedelai lokal,” kata saat menghadiri panen raya kedelai varietas grobogan di Desa Nglebur, Selasa (22/9/2015).

Sebelumnya, H Id Minaji menggunakan kedelai impor. Sesab setiap harinya dia membutuhkan 3,5 ton kedelai, atau hingga 105 ton setiap bulannya untuk memproduksi tahu.

Tingginya kebutuhan itu sebelumnya tak bisa dia penuhi dari produksi panen kedelai di desanya.

Karena minimnya produksi kedelai lokal, dia terpaksa menggunakan kedelai impor dari Amerika, Argentina dan Brazil.

Namun begitu dia tetap mencampurnya dengan kedelai lokal agar memperoleh hasil maksimal. Dari jumlah 105 ton itu, sebanyak 90 ton adalah kedelai impor, dan 15 ton sisanya baru kedelai lokal.

Ketergantungan H Id Minaji terhadap kedelai impor akhirnya teratasi setelah petani di desanya mendapat bantuan klaster komoditi kedelai varietas Grobogan berupa demonstrasi plot (demplot) dari sebuah lembaga perbankan. Setelah dicoba olehnya, ternyata penggunaan kedelai varietas grobogan membuat produksi tahunya jauh lebih baik kualitasnya.

Selain itu penggunaan kedelai varietas Grobokan jauh lebih hemat. Jika menggunakan kedelai impor dari Amerika, dibutuhkan 16,5 kilogram untuk bisa memproduksi 8 bak tahu. Sedangkan jika menggunakan kedelai Grobogan, hanya dibutuhkan 14 kilogram untuk memproduksi 8 bak tahu dengan kualitas tahu lebih bagus.

Karena kualitas kedelai Grobokan lebih bagus untuk produksi tahu, H Id Minaji berani membelinya  dengan harga tinggi, hingga Rp 7.200 perkilogram. Padahal saat ini, harga kedelai lokal varietas Wilis dan Galunggung, yang banyak ditanam petani Lamongan, paling tinggi seharga Rp 6.400 kilogram.

“Saya ingin tetap menjaga kualitas tahu. Itu bisa jika menggunakan kedelai grobokan,” tegas H Id Mijani.

Di samping pengusaha tahu terbantu, banyak keuntungan yang didapat petani dengan menanam kedelai varietas Grobogan. Di antaranya masa panennya lebih pendek yakni  usia 74 hari. Sedangkan varietas lokal lain butuh waktu sekitar 85 hari.

Selain itu, hasil produksinya juga lebih banyak yakni mencapai 2 ton lebih per hektar, bahkan jika produksi maksimal mencapai 3,5 ton per hektar. Sedangkan kedelai lokal varietas Wilis dan Galunggung hanya mencapai 1,7 ton per hektar

“Padahal saat tanam hingga panen, tidak ada air sama sekali yang mengairi sawah,”  timpal Kasmulin, petani  Desa Kedungbanjar, Kecamatan Sugio.

Melihat bagusnya produksi kedelai Grobogan ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan terus dorong budidaya kedelai varietas grobogan. Dengan begitu tidak perlu impor lagi.

“Sehingga kesejahteraan petani juga akan meningkat,” sambung Sekkab Lamongan, Yuhronur Efendi di tempat sama.

Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Lamongan menyebutkan, dari sasaran tanam komoditi kedelai seluas 19.200 hektar, terealisasi seluas 18.059 hektar, atau 94,06 persen. Sedangkan sampai dengan Agustus lalu, dari sasaran panen seluas 19.213 hektar, sampai saat ini yang sudah dipanen seluas 14.574 hektar atau 75,85 persen.

Kemudian dari sasaran produksi sebesar 19.213 ton, saat ini sudah tercapai 20.574 ton atau 107,08 persen. Produksi ini ditunjang dari produktivitas yang mencapai 14,01 kwintal per hektar atau 104,64 persen di atas target yang ditetapkan sebesar 13,99 kwintal perhektar.

Kecamatan Sugio juga menjadi salah satu kecamatan yang dijadikan lokasi demplot percontohan kedelai varietas grobogan seluas 10 hektar. Selain itu, demplot lainnya seluas 5 hektar berada di Kecamatan Kedungpring.(totok martono)

 

Dibaca : 427x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan