Senin, 19 Agustus 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Penjual Tahu Goreng Menjerit

Editor: nugroho
Jum'at, 27 Juli 2012
Ririn W
PRODUKSI : Pengusaha kecil tahu goreng di Bojonegoro mulai merasakan dampak kenaikan harga kedelai.

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Bojonegoro - Harga kedelai di pasar internasional saat ini yang selangit ternyata berdampak sampai di Bojonegoro. Paling tidak para penjual tahu goreng di wilayah ini mulai menjerit akibat naiknya bahan baku tersebut.

Hal ini diakui oleh salah satu produsen tahu di lingkungan RT 04  RW 02, Desa Ledok Kulon, Kecamatan Kota, Kabupaten  Bojonegoro, Sugianto (66). Dia harus memutar otak agar proses produksinya bisa bertahan disaat harga kedelai melambung.

Bapak dua anak ini mengaku kenaikan harga kedelai mulai dirasakan pada awal Juni 2012 lalu dimana hanya Rp 5.700/Kg- Rp 6.000/Kg. Namun kini merangkak naik dari Rp 6.500/Kg sampai sekarang menjadi Rp 7.500/Kg.

“Saya khawatir kalau harga kedelai tidak kunjung turun, nasib saya bagaimana?” kata lelaki setengah baya yang mendirikan usaha kecil-kecilan pabrik tahunya ini.

Diakui, harga kedelai yang mulai mahal tersebut tidak bisa membuatnya mengurangi ukuran, tebal atau jumlah produksi tiap harinya. Hal ini jika dilakukan pasti akan berdampak pada jumlah konsumen yang sudah menjadi langganan tahunya tersebut.

“Kalau produksi tahu ya tetap seperti biasa, meskipun sekarang harga jualnya tidak seimbang dengan biaya produksi,” imbuhnya.

Pabrik tahu rumahan milik Sugianto ini hanya mempekerjakan 2 orang saja. Yakni, bagian menggoreng dan menata tahu yang sudah matang. Sedangkan dirinya bagian pembuatan dari awal berbentuk kedelai sampai menjadi tahu mentah berbentuk kotak-kotak ukuran kecil dengan tebal yang bervariasi.

“Satu hari mereka saya kasih upah Rp 8.000 saja, kalau saya yang melakukan tentu tidak bisa karena tenaga saya sudah berkurang,” ujar kakek 1 cucu ini.

Dijelaskan, satu harinya Sugianto menghabiskan 6 Kg kedelai untuk 500 biji tahu mentah berukuran 2 x 2 Cm, yang kemudian digoreng dan dijual sebanyak 8 bak. Tiap baknya berisi 62 biji tahu matang dengan harga Rp 80.000.

“Dulu sebelum harga naik, saya mendapatkan laba bersih itu mencapai Rp 30.000 sampai Rp 50.000 tiap baknya. Sekarang hanya Rp 10.000 saja, jadi total delapan bak itu sekitar Rp 80.000 yang biasanya Rp 240.000 tiap harinya,” ucapnya lirih.

Dirinya berharap, harga kedelai bisa kembali turun dan mendapatkan keuntungan yang sesuai dengan biaya produksi. Terlebih penghasilannya sehari-hari bergantung pada penjualan tahu. Apabila harga terus naik tidak menutup kemungkinan akan merugi.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bojonegoro, Bambang Suharno, menyatakan, kenaikan harga kedelai tidak hanya di Bojonegoro saja akan tetapi secara nasional. Maka kebijakan yang akan diambil pemerintah pusat adalah import kedelai dari luar.

“Kami akan mengikuti kebijakan pemerintah pusat yakni import kedelai dari luar,” jawabnya singkat. (tbu)

Dibaca : 1823x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan